Kisah Para Perempuan di Dusun Haliwen: Rela Tinggalkan Segalanya Demi Merah Putih

  • 28 Apr 2026 15:08 WIB
  •  Atambua

Cinta Merah Putih di Atas Segalanya

Bagi Siti Wahida, keputusannya meninggalkan Railaco pada September 1999 didasari oleh rasa cinta yang mendalam pada Indonesia. Sebagai istri seorang anggota ABRI (sekarang Polri), ia harus menempuh perjalanan darat yang melelahkan sejak pukul 04.30 pagi.

"Rumah, tanah, keluarga, semua kasih tinggal karena sudah lama cinta Merah Putih," kata Siti Wahida. Fokus utamanya saat itu hanyalah menyelamatkan anak-anaknya yang masih kecil dari bayang-bayang perang.

Kini, meski hanya memiliki rumah kecil di Haliwen, ia merasa cukup. "Sudah ada rumah di sini, biar kecil tapi milik sendiri".

Mati Hidup di Sini

Keteguhan hati juga ditunjukkan oleh Siti Amelia. Ia mengingat bagaimana ia harus bersandiwara saat hendak keluar dari kampung halamannya.

Agar diizinkan lewat oleh pihak yang menutup jalan, ia berasalan hendak membawa suaminya berobat.

"Kami keluar hanya dengan badan saja, orang tanya 'mau kemana, kami bilang bapak sakit mau berobat', ujarnya mengenang. "Padahal kami lari ke sini (Atambua)".

Siti adalah orang asli Timor Timur, lahir dan besar di sana. Namun baginya, garis batas negara telah menjadi garis prinsip hidup.

Bahkan, ketika sang ibunda meninggal dunia keluarga di Timor Leste memintanya pulang untuk mengambil alih warisan, ia menolak. "Keluarga bilang, 'kamu pakai (rumah) saja' saya bilang 'tidak, biar kamu saja, kami di Atambua", kami tetap Merah Putih", ucapnya dengan suara bergetar.

Siti Wahida (kiri, berjilbab) dan Siti Emilia (kanan) saat ditemui tim rri.co.id di Dusun Haliwen beberapa waktu lalu. (Foto: RRI Atambua/Feby Tenis)

Kenangan yang Tersisa

Bagi keempat perempuan ini, Timor Leste kini hanyalah destinasi untuk "pesiar" atau berkunjung melepas rindu pada keluarga. Haliwen telah menjadi pelabuhan terakhir mereka.

Menurut Fatima, Ana Soares, Siti Wahida dan Siti Amelia, kedamaian di bawah bendera Indonesia adalah harga mati. Meskipun hidup dalam kesederhanaan di perbatasan.

Harga yang telah mereka bayar dengan kehilangan harta benda dan tanah kelahiran. Di Haliwen, mereka tidak lagi lari dari api, mereka membangun masa depan dari abu masa lalu.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....