Kisah Para Perempuan di Dusun Haliwen: Rela Tinggalkan Segalanya Demi Merah Putih

  • 28 Apr 2026 15:08 WIB
  •  Atambua
Cinta Merah Putih...

RRI.CO.ID, Atambua – Gemuruh suara tembakan dan kobaran api yang melalap gedung-gedung sekolah masih terekam jelas di ingatan Siti Fatima. Saat itu tahun 1999, usianya baru 16 tahun.

Di tengah kekacauan jajak pendapat Timor Timur (sekarang Timor Leste), ia harus menyaksikan masa kecilnya luruh. Bersama abu bangunan yang dibakar massa.

Fatima adalah satu dari ribuan jiwa yang kini menetap di Dusun Haliwen, Desa Kabuna, Kabupaten Belu, Provinsi NTT. Satu per satu kisah yang masih segar di benaknya kembali terurai lewat kata.

Siti Fatima saat ditemui tim rri.co.id di rumahnya di Dusun Haliwen beberapa waktu lalu. (Foto: RRI Atambua/Feby Tenis)

Bersama Siti Amelia, Ana Soares, dan Siti Wahida, mereka berbagi fragmen memori yang serupa. Yakni, sebuah pelarian dramastis demi mempertahankan identitas sebagai warga negara Indonesia.

Antara Harapan Tiga Hari dan Ijazah yang Diselamatkan

"Kami dijanjikan hanya keluar tiga hari, paling lama seminggu, lalu kembali", ujar Fatimah yang kini berusia 41 tahun, mengenang kembali. Karena janji itu, keluarganya hanya membawa dokumen penting berupa ijazah dan rapor tanpa pakaian ganti.

Namun kenyataan berkata lain. Sebelum berhasil keluar, ia dan keluarganya sempat dikepung dan harus bersembunyi di rumah camat.

Sementara baku serang terjadi di luar. "Mereka bakar gedung sekolah, asrama habis, kami hanya menangis, tidak bisa berbuat apa-apa," katanya mengingat pedih.

Trauma itu begitu dalam, hingga kini ia menolak untuk kembali menetap di sana. "Kawan sekolah saya ada yang meninggal dalam kelas," ujar Fatima mengenang dengan mata yang berkaca-kaca.

Pelarian lewat Laut dan Darat

Kisah serupa datang dari Ana Soares berusia 52 tahun. Berbeda dengan Fatimah, Ana dan suaminya melarikan diri melalui jalur laut.

Ana Soares saat ditemui tim rri.co.id di Dusun Haliwen beberapa waktu lalu. (Foto: RRI Atambua/Feby Tenis)

"Kalau tidak ada polisi mungkin kami sudah mati semua," ucap Ana. Ia meninggalkan rumah yang penuh dengan perabotan, hanya menyisakan pakaian di badan.

Kapal membawanya ke Kupang, tempat ia menghabiskan tiga tahun di pengungsian Noelbaki sebelum akhirnya menyusul anak-anaknya ke Atambua. Meski anak-anak kandungnya memilih menjadi warga negara Timor Leste, Ana tetap teguh.

"Kami sudah negara Indonesia, tidak boleh kambali", ucapnya dengan raut wajah sedih. "Mau pindah ke sana juga rumah sudah tidak ada, kami di sini bertani, mencari hidup di sini saja."

Cinta Merah Putih di Atas Segalanya

Bagi Siti Wahida, keputusannya meninggalkan Railaco pada September 1999 didasari oleh rasa cinta yang mendalam pada Indonesia. Sebagai istri seorang anggota ABRI (sekarang Polri), ia harus menempuh perjalanan darat yang melelahkan sejak pukul 04.30 pagi.

"Rumah, tanah, keluarga, semua kasih tinggal karena sudah lama cinta Merah Putih," kata Siti Wahida. Fokus utamanya saat itu hanyalah menyelamatkan anak-anaknya yang masih kecil dari bayang-bayang perang.

Kini, meski hanya memiliki rumah kecil di Haliwen, ia merasa cukup. "Sudah ada rumah di sini, biar kecil tapi milik sendiri".

Mati Hidup di Sini

Keteguhan hati juga ditunjukkan oleh Siti Amelia. Ia mengingat bagaimana ia harus bersandiwara saat hendak keluar dari kampung halamannya.

Agar diizinkan lewat oleh pihak yang menutup jalan, ia berasalan hendak membawa suaminya berobat.

"Kami keluar hanya dengan badan saja, orang tanya 'mau kemana, kami bilang bapak sakit mau berobat', ujarnya mengenang. "Padahal kami lari ke sini (Atambua)".

Siti adalah orang asli Timor Timur, lahir dan besar di sana. Namun baginya, garis batas negara telah menjadi garis prinsip hidup.

Bahkan, ketika sang ibunda meninggal dunia keluarga di Timor Leste memintanya pulang untuk mengambil alih warisan, ia menolak. "Keluarga bilang, 'kamu pakai (rumah) saja' saya bilang 'tidak, biar kamu saja, kami di Atambua", kami tetap Merah Putih", ucapnya dengan suara bergetar.

Siti Wahida (kiri, berjilbab) dan Siti Emilia (kanan) saat ditemui tim rri.co.id di Dusun Haliwen beberapa waktu lalu. (Foto: RRI Atambua/Feby Tenis)

Kenangan yang Tersisa

Bagi keempat perempuan ini, Timor Leste kini hanyalah destinasi untuk "pesiar" atau berkunjung melepas rindu pada keluarga. Haliwen telah menjadi pelabuhan terakhir mereka.

Menurut Fatima, Ana Soares, Siti Wahida dan Siti Amelia, kedamaian di bawah bendera Indonesia adalah harga mati. Meskipun hidup dalam kesederhanaan di perbatasan.

Harga yang telah mereka bayar dengan kehilangan harta benda dan tanah kelahiran. Di Haliwen, mereka tidak lagi lari dari api, mereka membangun masa depan dari abu masa lalu.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....