Kesetiaan di Balik Atap Lapuk: Kisah Keluarga Binsolo Menjaga Indonesia

  • 28 Apr 2026 13:44 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua – Bagi Tete Binsolo, ingatan tentang Dili tahun 1999 bukan sekedar memori tentang kerusuhan. Melainkan tentang sebuah pertaruhan nyawa demi cinta pada Merah Putih.

Dari sebuah rumah sederhana di Dusun Aitaman, ia mengenang saat-saat harus meninggalkan rumah tembok nyaman dan segala isinya. Demi sebuah identitas: Indonesia.

"Mama Ikhlas sudah, daripada taruhannya nyawa lebih baik menyelamatkan diri dan keluarga," kata Ibu Tete, sapaannya, dengan nada getir namun tegas. Saat eksodus besar-besaran itu, ia hanya membawa KTP dan ijazah di tangan.

Sementara tanah dan harta benda lainnya ia relakan terkubur bersama sejarah masa lalu di Timor Leste. Perjalanan Ibu Tete dan keluarga tidaklah mudah.

Binsolo dan Tete Binsolo saat ditemui tim rri.co.id di mushola yang ada di Dusun Aitaman, Desa Manleten, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu. (Foto: RRI Atambua/Feby Tenis)

Mereka harus berpindah-pindah dari Kodim Belu ke Halilulik, hingga berakhir di kamp pengungsian Tulamalae yang penuh penderitaan. Di barak becek, mereka memulai hidup dari nol dengan sandal yang selalu lengket di lumpur setiap hujan turun.

Kesetiaan yang sama juga disuarakan oleh sang suami, Binsolo. Ia adalah seorang mantan pejuang milisi telah memilih Indonesia sejak konflik tahun 1975 berkecamuk.

Menutnya, pemerintah menjanjikan bahwa mereka hanya akan mengungsi selama tiga hari di tanah air yang baru. Namun nyatanya, janji tersebut berbuah menjadi pengabdian yang harus mereka jalani selama puluhan tahun.

"Kami datang tidak bawa apa-apa karena dibilang hanya tiga hari lalu pulang kembali," ujar Binsolo yang lahir tahun 1966 di tanah Timor. "Tahu-tahu kami di sini ternyata sudah sampai puluhan tahun."

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....