Pertahankan NTT Bebas PMK, Pemerintah Hentikan sementara Pemasukan Sapi dari Luar
- 09 Sep 2026 20:52 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Atambua - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengambil langkah pencegahan untuk mempertahankan status wilayah yang bebas dari penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak. Salah satu kebijakan yang diterapkan yakni menghentikan sementara pemasukan ternak sapi dari luar daerah ke wilayah NTT.
Kebijakan tersebut juga mencakup penghentian sementara penggunaan semen beku dari pejantan sapi yang berasal dari luar NTT untuk program Inseminasi Buatan (IB).
Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Belu, Yoos Djami, mengatakan kebijakan tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi agar penyakit hewan menular, khususnya PMK, tidak masuk dan menyebar di wilayah NTT
“Ada pelarangan tidak boleh masuk sapi dari luar, termasuk semen beku untuk program Inseminasi Buatan (IB). Semen beku hanya dari sapi Bali yang ada di NTT saja, sapi jenis Limousin, Brahman, Wagyu dari luar sementara dihentikan oleh pusat, takutnya membawa wabah penyakit,” kata Yoos Djami kepada rri.co.id, Rabu 9 September 2026.
| Baca juga: TTU Dorong Industri Garam Berkelanjutan |
Menurutnya, pemasukan sapi dari luar daerah berpotensi menjadi salah satu jalur masuknya penyakit apabila tidak dilakukan pengawasan dan pengendalian secara ketat. Karena itu, pemerintah memilih menerapkan langkah pencegahan dengan membatasi pergerakan ternak dan material reproduksi ternak dari daerah luar.
Untuk sementara, sapi jenis Limousin, Brahman maupun Wagyu yang berasal dari luar NTT tidak diperbolehkan masuk. Begitu pula dengan semen beku yang digunakan dalam program IB, pemerintah mengarahkan agar menggunakan semen beku yang berasal dari sapi Bali yang tersedia di wilayah NTT.
Yoos menjelaskan, kebijakan tersebut bukan berarti menghentikan program peningkatan populasi dan mutu genetik sapi melalui IB. Program tersebut tetap dapat dilaksanakan dengan memanfaatkan sumber genetik yang tersedia dan dinyatakan aman di wilayah NTT.
Ia menegaskan bahwa upaya mempertahankan kondisi bebas PMK sangat penting karena apabila penyakit tersebut sampai masuk dan menyebar, dampaknya akan langsung dirasakan oleh masyarakat, terutama peternak.
| Baca juga: TTU Siap Kembangkan Industri Garam Rakyat |
“Kalau PMK mewabah, yang paling dikuatirkan merugi adalah masyarakat peternak. Tingkat penularan cukup cepat, sama halnya ASF atau demam babi,” ucapnya.
Penyakit Mulut dan Kuku atau PMK merupakan penyakit hewan menular yang dapat menyerang hewan berkuku belah, termasuk sapi. Penyakit ini memiliki tingkat penularan yang tinggi sehingga pergerakan ternak menjadi salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian dalam upaya pencegahan
Bagi peternak, munculnya PMK dapat berdampak terhadap produktivitas dan kondisi kesehatan ternak. Gangguan tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi pendapatan dan keberlangsungan usaha peternakan masyarakat.
Karena itu, pemerintah daerah terus mendorong pengawasan lalu lintas ternak sekaligus meningkatkan kewaspadaan peternak terhadap kemungkinan munculnya penyakit hewan menular.
Sementara itu, semen beku merupakan sperma dari pejantan unggul yang telah diproses dan disimpan dalam suhu yang sangat rendah menggunakan nitrogen cair. Material reproduksi tersebut kemudian digunakan dalam program Inseminasi Buatan untuk menghasilkan keturunan dari pejantan dengan kualitas genetik tertentu.
Penggunaan semen beku memiliki sejumlah manfaat dalam pengembangan peternakan. Salah satunya adalah membantu memperbaiki kualitas genetik ternak tanpa mengharuskan peternak mendatangkan atau memelihara pejantan unggul secara langsung.
Dari sisi biaya, penggunaan IB juga dapat membantu meningkatkan efisiensi pemeliharaan karena peternak tidak perlu menanggung biaya pemeliharaan pejantan. Semen beku juga lebih praktis untuk didistribusikan ke berbagai wilayah.
Selain itu, apabila disimpan dengan baik dalam wadah khusus atau container dengan suhu yang sesuai, semen beku dapat bertahan dalam waktu yang lama sehingga memungkinkan pemanfaatan sumber genetik pejantan unggul secara berkelanjutan.
Namun, dalam kondisi pencegahan penyakit seperti saat ini, aspek keamanan dan kesehatan hewan menjadi prioritas. Karena itu, pemerintah menerapkan pembatasan terhadap semen beku yang berasal dari luar NTT dan untuk sementara mengutamakan semen beku dari sapi Bali yang tersedia di wilayah NTT.
Pemerintah berharap kebijakan tersebut dapat menjadi langkah pencegahan agar NTT tetap terbebas dari PMK sekaligus melindungi keberlangsungan usaha peternakan masyarakat.
Upaya tersebut membutuhkan dukungan seluruh pihak, terutama peternak, pelaku usaha ternak, petugas peternakan dan masyarakat untuk bersama-sama mengawasi lalu lintas ternak serta segera melaporkan apabila ditemukan gejala penyakit pada hewan ternak.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....