Langkah Awal Bangun Usaha Bukan Sekedar Produksi

  • 02 Agt 2026 08:22 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua –Langkah awal dalam membangun usaha bukan sekadar memproduksi barang, melainkan memahami alasan mendasar mengapa usaha tersebut dijalankan. Hal ini disampaikan Yumince Solaiman Pinat, S.Th., CLC, Marketing Trainer UMKM dalam program Ekonomi Digital RRI Atambua, Jumat 31 Juli 2026.

Ipen (Ibu Pendeta) Yupi menekankan pentingnya menemukan “why” atau alasan kuat sebelum melangkah lebih jauh dalam proses bisnis yang berkelanjutan. “Ini yang sering kita sebagai usaha lihat apa yang bisa kita lakukan supaya nilai yang kita pegang itu bisa sampai kepada orang lain.”

Ia menjelaskan bahwa setelah menemukan alasan, pelaku usaha perlu memastikan bahwa nilai tersebut benar-benar sesuai dan layak dijalankan secara konsisten. Proses validasi nilai menjadi penting agar usaha tidak berjalan tanpa arah dan tetap relevan dengan kebutuhan pribadi maupun pasar.

Yumince Solaiman Pinat, S.Th., CLC, Marketing Trainer UMKM ketika hadir dalam program Ekonomi Digital RRI Atambua edisi Jumat 31 Juli 2026 (Foto: Tangkapan layar RRI Atambua)

"Selanjutnya, pelaku usaha harus menentukan siapa target pasar yang ingin dijangkau dengan produk yang dihasilkan secara jelas dan spesifik. Contohnya, produk cemilan untuk anak TK tentu berbeda konsep, nama, dan pendekatan dibandingkan dengan produk untuk pekerja kantoran," katanya.

Yupi karib disapa menambahkan bahwa target pasar sangat menentukan bagaimana nilai produk diterima dan dipahami oleh konsumen yang dituju. Dengan memahami target, pelaku usaha dapat menyesuaikan identitas produk agar lebih mudah melekat dalam ingatan konsumen.

Ia juga menekankan bahwa bentuk produk menjadi pertanyaan penting berikutnya setelah mengetahui alasan dan target pasar secara jelas. Apakah produk berupa makanan, perawatan, atau lainnya, hal ini akan menentukan identitas, penamaan, serta citra produk di pasaran.

"Tiga pertanyaan utama yakni alasan, target, dan bentuk produk merupakan fondasi wajib sebelum membangun identitas usaha yang kuat. Tanpa fondasi tersebut, usaha berisiko berjalan tanpa arah dan sulit berkembang secara berkelanjutan di tengah persaingan," tuturnya.

Yupi mengingatkan bahwa memulai usaha tidak cukup hanya dengan modal keberanian tanpa pengetahuan yang memadai dan kesiapan belajar yang konsisten. Ia menilai banyak pelaku UMKM berhenti berkembang karena enggan meningkatkan kapasitas setelah mulai memperoleh keuntungan.

Ia menegaskan bahwa saat ini banyak sumber belajar tersedia, baik melalui kursus, pelatihan daring, maupun pengalaman pelaku usaha lain yang telah sukses. Bahkan, dirinya aktif mendampingi UMKM melalui program pelatihan berbasis nilai yang dimulai dari penguatan mental entrepreneur.

“Dalam pendampingan tersebut, peserta tidak langsung diarahkan pada produk, melainkan diajak memahami peluang dan proses membangun usaha dari dasar. Ia percaya setiap orang memiliki potensi berbeda dan jika diarahkan dengan benar, akan melahirkan produk khas daerah yang bernilai,” ujarnya.

Namun demikian, ia mengakui tantangan terbesar UMKM bukan hanya memulai usaha, tetapi menjaga konsistensi kualitas produk dalam jangka panjang. Banyak usaha yang awalnya bagus, namun tidak mampu mempertahankan standar mutu karena tidak memiliki sistem dokumentasi yang baik.

Terkait pengawasan kualitas, Yupi menjelaskan bahwa kehadiran BPOM bertujuan memastikan standar produksi dan dokumentasi kualitas dijalankan dengan baik oleh pelaku usaha. Prosedur kerja menjadi indikator utama dalam menilai konsistensi kualitas produk yang dihasilkan oleh UMKM.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....