ASKA untuk Kesejahteraan Anak

  • 20 Jun 2026 13:31 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua – Program ASKA yang digagas Wahana Visi Indonesia merupakan asosiasi simpan pinjam untuk kesejahteraan anak berbasis kelompok kecil. Program ini melibatkan sekitar dua puluh hingga tiga puluh orang yang mengelola keuangan bersama secara sederhana dan terukur.

Informasi tersebut disampaikan oleh Fransisca Novita, Resilience Manager Wahana Visi Indonesia kepada rri.co.id Jumat 19 Juni 2026. Ia menjelaskan kelompok ini mengelola uang berdasarkan kemampuan anggota dan digunakan untuk kebutuhan keluarga maupun usaha produktif.

Dalam praktiknya, kelompok ASKA membantu anggota memenuhi kebutuhan seperti pendidikan anak, pertanian, maupun usaha kecil yang sedang dirintis. Pengelolaan dilakukan secara mandiri dengan prinsip tanggung jawab bersama agar manfaatnya dirasakan oleh seluruh anggota secara berkelanjutan.

Fransisca Novita menekankan bahwa program ini juga berfokus pada peningkatan literasi keuangan masyarakat dari tingkat paling dasar. “Hal ini penting karena masih banyak masyarakat yang terjerat pinjaman online dan mengalami kesulitan dalam mengelola kewajiban pembayaran.”

Ia menambahkan bahwa kebiasaan menyicil menjadi tantangan utama yang sering dihadapi masyarakat dalam pengelolaan keuangan sehari-hari. “Banyak orang menerima pinjaman dengan mudah, namun kurang disiplin dalam mengembalikan sehingga menimbulkan persoalan baru dalam kehidupan ekonomi keluarga,” ucapnya.

Melalui kelompok kecil, masyarakat dilatih untuk membangun kebiasaan menabung dan meminjam sesuai kemampuan masing-masing secara bertahap. “Pendekatan ini dilakukan agar anggota terbiasa bertanggung jawab serta memahami pentingnya komitmen dalam pengelolaan keuangan bersama,” kata dia.

Keanggotaan dalam ASKA bersifat terbuka tanpa kriteria khusus, selama anggota memiliki kemauan untuk bekerja sama dalam kelompok. “Prinsip utama yang dijalankan adalah saling mengenal dan mengetahui tujuan penggunaan pinjaman sehingga tercipta transparansi dan kepercayaan antar anggota,” ujarnya.

Fransisca menjelaskan bahwa setiap anggota harus terbuka terkait tujuan pinjaman yang diajukan kepada kelompok. “Dengan demikian, penggunaan dana dapat dipantau bersama sehingga meminimalisir penyalahgunaan dan meningkatkan rasa tanggung jawab kolektif dalam kelompok.”

Pengembangan kapasitas dilakukan melalui siklus pembelajaran selama satu tahun untuk membentuk kebiasaan finansial yang baik. “Dalam proses tersebut, anggota yang tidak disiplin biasanya akan tersaring, sementara anggota yang konsisten akan melanjutkan ke siklus berikutnya,” tutur dia melalui sambungan telpon seluler.

Ia mencontohkan di wilayah Ende, kelompok yang telah mencapai siklus ketiga mampu mengembangkan usaha bersama berupa peternakan ayam petelur. “Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa kelompok dapat naik level dari simpan pinjam sederhana menjadi pengelola usaha produktif berbasis komunitas,” katanya.

Fransisca menegaskan bahwa implementasi program di setiap daerah disesuaikan dengan potensi lokal masing-masing wilayah. “Di NTT misalnya, ada potensi peternakan, tenun di Sumba dan Alor, yang dapat dikembangkan sebagai usaha bersama berbasis kelompok,” ujarnya lagi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....