Kemarau Panjang, Petani di Atambua Manfaatkan Sumur Resapan untuk Tanam Sayur
- 05 Agt 2026 17:23 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Atambua - Ditengah musim kemarau panjang yang melanda Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), sejumlah warga tani di Kelurahan Umanen, Kecamatan Atambua Barat, memilih mencari solusi agar tetap dapat bercocok tanam. Mereka memanfaatkan sisa air di aliran kali dengan membuat sumur resapan sederhana sebagai sumber pengairan lahan pertanian.
Langkah tersebut menjadi strategi produktif yang dilakukan para petani agar lahan tidak terbengkalai selama musim kemarau. Air yang terkumpul di sumur resapan kemudian digunakan untuk menyiram berbagai jenis tanaman hortikultura seperti kangkung, sawi, tomat, dan bawang.
Salah seorang petani, Alfonsius, mengatakan sumur resapan dibuat dengan cara menggali lubang kecil di tepi kali untuk menampung sisa air yang masih tersedia. Meski debit air terus menurun, cara tersebut dinilai cukup membantu memenuhi kebutuhan air tanaman.
"Manfaatkan sisa air kali saja, kita gali buat resapan untuk siram tanaman. Setiap tahun kerja satu kali saja untuk sayur karena bulan September sudah mulai mengering," kata Alfonsius saat ditemui di kebunnya, Rabu 5 Agustus 2026.
Menurutnya, lahan yang dikelola pada musim hujan biasanya ditanami jagung. Setelah panen jagung, lahan kembali dimanfaatkan untuk budidaya sayuran selama masih tersedia air di sekitar aliran kali."Garap satu kali saja karena selingan dengan tanaman jagung. Daripada lahan terbengkalai, kita inisiatif budidaya sayur supaya ada pendapatan untuk keluarga," ujarnya.
Alfonsius mengungkapkan hasil panen sayuran mampu memberikan tambahan penghasilan bagi keluarganya. Apalagi saat musim kemarau, pasokan sayuran ke Pasar Atambua cenderung berkurang sehingga harga jual meningkat.
Ia memperkirakan pendapatan kotor dari penjualan sayuran dapat mencapai sekitar Rp2 juta dalam sebulan. Penghasilan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, termasuk biaya pendidikan anak.
Musim kemarau yang berlangsung setiap tahun, umumnya sejak Agustus hingga November, menjadi tantangan utama bagi petani di Kabupaten Belu. Pada periode tersebut, debit air di sungai dan kali terus menurun bahkan sebagian mengering sehingga aktivitas pertanian sangat terbatas.
Akibat keterbatasan air, banyak lahan pertanian tidak dapat diolah dan akhirnya menjadi lahan tidur. Sebagian besar petani hanya dapat menunggu datangnya musim hujan untuk kembali menanam.
Di tengah kondisi tersebut, pemanfaatan sumur resapan sederhana menjadi salah satu bentuk adaptasi yang dilakukan petani agar lahan tetap produktif. Selain menjaga keberlangsungan usaha tani, cara ini juga membantu mempertahankan sumber pendapatan keluarga selama musim kemarau berlangsung.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....