Orang Kristen Diminta Mengendalikan AI tanpa Kehilangan Relasi Dengan Tuhan
- 31 Jul 2026 07:48 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Alor - Penginjil Ev. Yarens Ouw, S.Th., mengingatkan umat Kristen agar tidak memiliki ketergantungan penuh terhadap Artificial Intelligence (AI). Menurutnya, perkembangan teknologi memang telah mempermudah berbagai aktivitas, mulai dari pendidikan, pekerjaan hingga pelayanan, namun penggunaannya harus tetap didasarkan pada integritas dan iman kepada Tuhan.
Ia menjelaskan, kemudahan yang ditawarkan AI tidak dapat dihindari karena hampir seluruh bidang kehidupan telah memanfaatkannya. Meski demikian, batasan penggunaan AI bukan ditentukan oleh teknologi itu sendiri, melainkan oleh tujuan penggunaannya, yaitu apakah dipakai untuk memuliakan Tuhan atau justru menjauhkan manusia dari-Nya.
| Baca juga: Literasi Jadi Fokus GAMKI Alor |
"Ada integritas yang dipertaruhkan dalam menggunakan AI. Jangan sampai kita kebablasan dalam memanfaatkannya. Kita gunakan AI sesuai dengan standar yang Tuhan berikan kepada kita. Kita tidak menjadi budak AI, tetapi mampu berkata bahwa AI tidak memiliki otoritas atas hidup saya. Justru saya yang diberikan Tuhan hikmat dan hati untuk mengelola AI," kata Yarens. Kamis, 30 Juli 2026.
Ia juga menegaskan bahwa AI tidak dapat menggantikan hubungan pribadi manusia dengan Tuhan. Menurutnya, doa, perenungan firman, dan kehidupan rohani tidak bisa digantikan oleh teknologi karena AI tidak memiliki jiwa maupun prinsip spiritual yang dapat menuntun seseorang kepada Tuhan. Ia menilai kecenderungan masyarakat yang semakin bergantung pada informasi digital perlu diimbangi dengan kebiasaan membangun relasi dengan Tuhan terlebih dahulu.
"Kita tidak bisa mengenal Tuhan melalui AI, karena AI tidak punya prinsip spiritual dan tidak memiliki jiwa. Sebelum mengonsumsi informasi dunia, Tuhan ingin supaya kita lebih dahulu mengonsumsi apa yang menjadi bagian-Nya. Karena itu, kita perlu membangun relasi yang baik dengan Tuhan agar tidak bergantung sepenuhnya pada teknologi," ujarnya.
Lebih lanjut, Yarens mengingatkan bahwa ketergantungan berlebihan pada AI dapat mengurangi kemampuan berpikir dan daya cipta yang telah Tuhan anugerahkan kepada manusia. Menurutnya, manusia diciptakan berbeda dengan makhluk lain karena diberi kemampuan untuk berpikir, berkarya, dan mencipta, sehingga keistimewaan tersebut tidak boleh tergantikan oleh teknologi.
Meski demikian, ia menilai AI tetap dapat dimanfaatkan sebagai sarana pelayanan dan pemberitaan Injil. Dengan perkembangan teknologi, penyebaran kabar baik kini dapat menjangkau lebih banyak orang tanpa dibatasi jarak dan waktu. Namun, AI tetap harus diposisikan sebagai alat pendukung pelayanan, sementara Tuhan tetap menjadi pusat dan otoritas utama dalam kehidupan orang percaya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....