Puluhan KK di Umanen Belum Nikmati Akses Jalan Warga Harap Perhatian Pemerintah

  • 29 Jul 2026 18:57 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua – Ketiadaan sarana dan prasarana jalan menuju kawasan permukiman masih menjadi persoalan yang dihadapi warga RT 32, Kelurahan Umanen, Kecamatan Atambua Barat, Kabupaten Belu. Selama bertahun-tahun, puluhan kepala keluarga di wilayah tersebut terpaksa mengandalkan jalan setapak sebagai satu-satunya akses keluar masuk permukiman.

Kondisi tersebut semakin menyulitkan warga ketika musim penghujan tiba. Jalan tanah yang digunakan sebagai akses utama berubah menjadi berlumpur dan licin, bahkan kerap terendam luapan air kali sehingga tidak dapat dilalui. Akibatnya, warga harus memutar sejauh dua hingga tiga kilometer melalui Kampung Raimaten atau kawasan Kuneru di Kelurahan Manumutin untuk menuju kantor, pasar, sekolah maupun berbagai keperluan lainnya.

Hingga kini, akses jalan lingkungan menuju permukiman RT 32 belum dibangun oleh pemerintah. Warga pun terus merasakan keterbatasan mobilitas akibat belum tersedianya ruas jalan umum yang layak.

Salah seorang warga RT 32, Davidson Neno, mengatakan masyarakat setiap hari masih bergantung pada jalan setapak untuk beraktivitas karena belum tersedia jalan umum menuju kawasan permukiman.

"Setiap hari warga melewati jalan kecil setapak karena memang jalan belum ada. Tinggal ada puluhan kepala keluarga yang sulit keluar masuk permukiman," ujar Davidson Neno saat ditemui rri.co.id, Rabu 29 Juli 2026.

Menurut Davidson, kelompok yang paling terdampak adalah para pelajar. Setiap hari, anak-anak yang bersekolah di SDI Wekatimun, SDI Sesekoe, SMP Umanen, hingga SMA Umanen harus berjalan melewati jalan tanah untuk menuju sekolah.

Saat musim hujan, kondisi tersebut menjadi semakin berat. Jalan yang berlumpur dan licin membuat anak-anak kesulitan berjalan, bahkan tidak jarang harus melepas sepatu agar dapat melintasi jalan. Mereka juga harus menunggu ojek di tengah hujan karena kendaraan sulit menjangkau lokasi permukiman.

"Saat hujan kasihan, sulit sekali karena jalan berlumpur. Anak-anak kadang basah karena hujan sambil menunggu angkutan ojek," katanya.

Davidson menjelaskan, belum dibangunnya akses jalan menuju permukiman dipengaruhi persoalan pembebasan lahan. Lahan yang selama ini digunakan masyarakat sebagai jalan setapak merupakan milik seorang pengusaha di Kota Atambua.

Menurutnya, hingga saat ini belum tercapai kesepakatan antara pemilik lahan, masyarakat, dan pemerintah terkait proses pembebasan lahan. Kondisi tersebut menjadi kendala bagi pemerintah untuk membangun infrastruktur jalan menuju kawasan permukiman.

Karena itu, warga berharap Pemerintah Kabupaten Belu dapat memfasilitasi penyelesaian persoalan lahan sehingga pembangunan jalan dapat segera direalisasikan. Kehadiran akses jalan dinilai sangat penting untuk memperlancar aktivitas masyarakat, memperpendek jarak tempuh menuju pusat pelayanan publik, serta memudahkan para pelajar dalam mengakses sekolah dengan aman dan nyaman.

Warga berharap adanya solusi terbaik dari Pemerintah Daerah Belu agar persoalan akses jalan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun dapat segera dituntaskan demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat di RT 32 Kelurahan Umanen.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....