Musim Kemarau, Penjualan Air Bersih dari Mobil Tangki di Kabupaten Belu Meningkat

  • 19 Agt 2026 21:14 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua - Memasuki musim kemarau, permintaan air bersih melalui layanan mobil tangki di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai meningkat. Kondisi tersebut terjadi seiring semakin sulitnya masyarakat memperoleh air bersih akibat menurunnya debit sejumlah sumber air, bahkan sebagian di antaranya mulai mengering.

Meningkatnya kebutuhan air bersih tersebut turut membuat usaha penjualan air menggunakan mobil tangki semakin ramai. Para pengusaha dan sopir mobil tangki harus melayani permintaan masyarakat yang membutuhkan air untuk berbagai keperluan sehari-hari, mulai dari memasak, mandi hingga mencuci.

Salah seorang sopir mobil tangki air, Lukas, mengatakan permintaan layanan air bersih mulai mengalami peningkatan sejak memasuki musim kemarau. Dalam sehari, pihaknya dapat menerima permintaan hingga belasan rit pengantaran.

“Musim kemarau permintaan pemesanan layanan air bersih mulai meningkat. Sehari permintaan bisa sampai belasan rit,” ujar Lukas saat ditemui pada Selasa, 18 Agustus 2026.

Namun, tingginya permintaan tersebut belum semuanya dapat dilayani pada hari yang sama. Menurut Lukas, keterbatasan waktu dan kondisi di lapangan membuat sebagian pelanggan harus menunggu hingga hari berikutnya.

“Tidak semua bisa dilayani akibat kemalaman. Capai juga, apalagi mulai isi pagi hari sampai malam,” katanya.

Meningkatnya kebutuhan air bersih pada musim kemarau membuat harga air yang dijual melalui mobil tangki relatif mahal. Harga pengantaran ditentukan berdasarkan jarak tempuh dari sumber air menuju lokasi pelanggan.

Untuk jarak yang relatif dekat, harga air bersih berada di kisaran Rp100 ribu per tangki. Sementara untuk lokasi yang lebih jauh, harganya dapat mencapai Rp125 ribu hingga Rp150 ribu per tangki.

“Kalau tergantung jarak, yang dekat sumur bisa Rp100 ribu. Kalau mulai jauh harganya Rp125 ribu per tangki sampai Rp150 ribu, misalnya sampai ke Nenuk, Desa Naekasa, Belu,” jelas Lukas.

Meski harga tersebut cukup mahal bagi sebagian masyarakat, kebutuhan air bersih membuat warga yang belum mendapatkan pelayanan perpipaan tidak memiliki banyak pilihan. Mereka terpaksa menggunakan jasa mobil tangki untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.

Lukas menyebut kebutuhan air bersih melalui layanan mobil tangki di Kabupaten Belu masih cukup tinggi, khususnya di wilayah yang belum terhubung dengan jaringan perpipaan Perumda Air Minum.

Beberapa wilayah yang masih membutuhkan layanan mobil tangki di antaranya sebagian wilayah Kelurahan Fatubenao, Kelurahan Lidak, serta sebagian Kelurahan Umanen.

Di wilayah-wilayah tersebut, sebagian masyarakat masih mengandalkan pasokan air dari mobil tangki untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kondisi semakin sulit ketika kemarau berlangsung panjang. Debit sumber air yang terus menurun menyebabkan masyarakat harus mencari alternatif untuk mendapatkan air bersih.

Bagi warga yang belum terlayani jaringan perpipaan, pemesanan air melalui mobil tangki menjadi salah satu pilihan utama. Meskipun harus mengeluarkan biaya lebih besar, kebutuhan air untuk memasak, mandi dan mencuci membuat layanan tersebut tetap diminati.

Meningkatnya permintaan air bersih selama musim kemarau menunjukkan masih adanya kebutuhan masyarakat terhadap akses air bersih yang mudah dan terjangkau, terutama di wilayah yang belum tersambung jaringan perpipaan.

Di sisi lain, kondisi tersebut menjadi peluang usaha bagi pengusaha mobil tangki air. Namun, tingginya permintaan juga menunjukkan perlunya penguatan pelayanan air bersih agar masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada air tangki ketika sumber air mengalami kekeringan.

Dengan kondisi musim kemarau yang mulai dirasakan masyarakat Kabupaten Belu, layanan mobil tangki diperkirakan masih akan menjadi salah satu sumber pasokan air bersih bagi warga, khususnya di wilayah yang belum mendapatkan layanan perpipaan secara optimal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....