Kurikulum Cinta Jadi Strategi Kemenag Alor Bangun Karakter Siswa Religius

  • 30 Apr 2026 11:05 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Alor - Penguatan pendidikan karakter berbasis nilai keagamaan di Kabupaten Alor terus diimplementasikan melalui berbagai program aplikatif di lingkungan sekolah. Kepala Seksi Pendidikan Islam (Kasi Pendis) Kemenag Alor, Hadi Abdul Aziz Kammis, menegaskan bahwa pembentukan karakter tidak hanya bersifat teori, tetapi harus diterapkan dalam keseharian siswa dan guru.

Menurutnya, salah satu program utama yang dijalankan adalah Kurikulum Cinta yang digagas oleh Kementerian Agama. Program ini menekankan enam konsep utama yang berfokus pada nilai religius, sosial, serta kecintaan terhadap lingkungan dan bangsa, yang seluruhnya diterapkan secara langsung dalam aktivitas pendidikan.

“Program Kurikulum Cinta itu bukan hanya teoritis, tetapi aplikatif di lapangan. Misalnya, cinta kepada Tuhan diwujudkan dengan kebiasaan berdoa sebelum belajar dan menyadarkan bahwa kemampuan yang kita miliki berasal dari Tuhan,” ujar Hadi. Rabu, 29 April 2026.

Ia menjelaskan bahwa penerapan nilai karakter juga dilakukan melalui kebiasaan sosial, seperti saling membantu, tidak membuli, serta kegiatan bakti sosial yang melibatkan siswa dan guru. Menurutnya, hampir seluruh madrasah dan sekolah di Kabupaten Alor telah menerapkan budaya tersebut secara konsisten.

Selain itu, pembinaan karakter juga menyasar para guru sebagai teladan utama di lingkungan sekolah. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui program pembinaan ekoteologi yang menanamkan kesadaran mencintai lingkungan, seperti gerakan menanam tanaman di lingkungan sekolah.

“Untuk menghasilkan karakter siswa yang baik itu dimulai dari guru. Karena itu, pembinaan karakter tidak hanya untuk siswa, tetapi juga untuk guru, termasuk melalui program ekoteologi yang menumbuhkan budaya mencintai lingkungan,” jelasnya.

Hadi juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam pembentukan karakter anak. Ia menyebutkan bahwa keluarga merupakan lingkungan pertama bagi anak, sehingga keterlibatan orang tua sangat menentukan. Namun, kesibukan orang tua seringkali menjadi kendala dalam pengawasan dan pembinaan anak di rumah.

Di sisi lain, peran masyarakat juga dinilai tidak kalah penting. Kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan lingkungan menjadi kunci dalam menciptakan sistem pendidikan yang holistik. Dengan adanya sinergi tersebut, diharapkan pembentukan karakter siswa dapat berjalan optimal dan berkelanjutan di tengah tantangan perkembangan zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....