Literasi Kuat Mendorong Pembangunan Karakter Siswa
- 27 Apr 2026 13:47 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Atambua - Literasi yang kuat dinilai memiliki peran penting dalam mendorong pembangunan karakter siswa, khususnya di lingkungan pendidikan seminari yang menekankan pembiasaan membaca dan menulis secara konsisten setiap hari.
Informasi ini disampaikan Romo Drs. Hironimus Masu,Pr.,S.Pd, Preses Seminari Menengah Lalian Belu-NTT kepada rri.co.id, Senin 27 April 2026, terkait penguatan literasi di lingkungan pendidikan seminari tersebut.
Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan informasi yang diterimanya, wilayah NTT saat ini menempati posisi pertama dalam tingkat literasi tertinggi di kawasan, meskipun secara nasional Indonesia masih tergolong rendah dalam literasi.
“Memang secara nasional bahkan dunia kita literasi itu termasuk rendah untuk Indonesia maka kita giatkan di sini kita giatkan ke literasi,” ujarnya menegaskan pentingnya upaya peningkatan literasi secara berkelanjutan.
Menurutnya, berbagai kebijakan dan himbauan dari dinas pendidikan mendorong seluruh sekolah untuk meningkatkan literasi, termasuk dengan menyisipkan aktivitas membaca dalam setiap mata pelajaran di kelas maupun di perpustakaan.
Ia menjelaskan, siswa dibiasakan mengenal buku secara mendalam mulai dari judul, pengarang, hingga isi ringkasnya sebelum membaca keseluruhan, sehingga menumbuhkan minat dan pemahaman awal terhadap bacaan.
| Baca juga: GAMKI Alor Bagikan Ribuan Buku |
“Jadi kita biasakan anak-anak kita seperti itu, oh ini buku judulnya ini, pengarangnya ini, isi ringkasnya sekian,” jelasnya menggambarkan metode pembiasaan literasi yang diterapkan kepada para siswa.
Selain itu, penerapan sanksi edukatif juga dilakukan bagi siswa yang tidak mengerjakan tugas, yakni dengan mewajibkan membaca beberapa buku dan membuat resensi lengkap sebagai bentuk pembelajaran literasi.
Dia juga menyoroti kemampuan siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler seperti jurnalistik dan public speaking yang dinilai sangat fasih, sebagai hasil dari pembiasaan literasi yang diterapkan secara konsisten. “Dengan itu anak akan dipaksa untuk membaca berliterasi sehingga dengan demikian selain dia membaca buku wawasannya juga ditingkatkan.”
| Baca juga: Literasi Jadi Fokus GAMKI Alor |
Romo Hironimus menjelaskan bahwa latihan menulis dilakukan melalui refleksi harian yang wajib dibuat siswa setiap pagi berdasarkan teks Kitab Suci, kemudian diperiksa dan dikoreksi oleh pembina secara rutin.
“Jadi setiap pagi itu berdasarkan teks kita suci, dia buat refleksi, tiap hari dia buat refleksi dan itu diperiksa, dikoreksi,” katanya menjelaskan proses pembentukan kemampuan menulis siswa.
Selain itu, kegiatan akademik berbasis kelompok juga dilakukan dengan diskusi dan presentasi di depan kelas maupun aula, sehingga melatih siswa untuk berpikir kritis dan percaya diri berbicara di depan publik.
“Bagaimana dia berusaha untuk mempertanggungjawabkan atau menjelaskan materi yang diberikan oleh guru supaya mereka siapkan lalu presentasikan ke para kawan-kawan,” ucapnya menambahkan.
Ia menegaskan bahwa kebiasaan literasi yang dibangun sejak dini menjadi bekal penting bagi siswa dalam membangun karakter, baik dalam kehidupan pendidikan maupun ketika terjun ke masyarakat. “Kebiasaan berliterasi ini menjadi satu bekal besar bagi pembangunan karakter,” tuturnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....