Lahan Sawah Kebanjiran Warga Naob Terancam Gagal Panen
- 24 Feb 2026 06:17 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Kefamenanu - Hujan deras yang mengguyur Kabupaten TTU, khususnya Desa Naob Kecamatan Noemuti Timur menyebabkan banjir dan lumpur menghancurkan sawah 5 hektare milik 15 orang kepala keluarga. Karena musibah itu, maka masyarakat gagal panen sebab padi di sawah tersebut belum menguning untuk dipanen. Hal ini disampaikan oleh, Elias Tuatefa saat diwawancarai RRI.CO.ID di area persawahan Oeheni Naob pada Senin 23 Februari 2026.
Menurut Elias, bencana banjir itu terjadi pada Minggu pukul 15.00 dan berlangsung selama 2 jam sehingga kali Oeheni meluap dimana air bercampur lumpur masuk lalu merusak sawah masyarakat Desa Naob di RT 07 hingga 08. Para pemilik lahan sawah sebanyak 11 KK ditambah penggarap sebanyak 4 orang sehingga totalnya 15 KK.
"Akibat luapan air dan lumpur, maka para petani merugi puluhan juta. Sebab padi milik mereka belum memasuki usia panen tetapi terpaksa harus dipotong karena takut banjir susulan. Kerugian ini hanya untuk padinya, kalau ditambah biaya produksi (tanam, traktor, pupuk dan bibit) dengan jumlah sebanyak 14 KK maka kami bisa merugi hampir 100 juta", ujar Elias.
Dikatakan Elias bahwa, dari 14 KK yang mengolah sawah di Oeheni baru 3 orang yang memotong padi mereka. Tetapi sayang padi tersebut belum sempat diangkut ke rumah dan tersimpan di dalam terpal sehingga ikut terendam banjir sebagian. Sehingga isi dari padi yang terendam itu nantinya berwarna hitam dan saat digiling juga beras dari padi yang terendam tersebut pun tidak utuh tetapi hancur", ujar Elias.
Elias bersama petani lain di Desa Naob khususnya Oeheni, berharap agar Pemda TTU melalui BPBD bisa berkoordinasi dengan pihak Balai Wilayah Sungai (BWS) supaya kalau boleh ada pembangunan tembok permanen. Sehingga ke depan mereka sebagai petani di wilayah tersebut tidak perlu lagi mengalami banjir yang merendam sawah mereka. Karena sawah tersebut menjadi harapan mereka makan dan sebagain dijual untuk pendidikan anak mereka", ujar Elias.
Sementara Maria Kowati, yang mengolah lahan sawah Milka Babis, seorang janda berusia 80 tahun mengalami musibah lebih rumit. Sebab padinya masih berwarna hijau sehingga tidak bisa dipanen namun terendam lumpur semua.
"Lahan sawah milik nenek Milka kalau tidak terendam bisa menghasilkan puluhan karung padi. Tetapi padi yang terendam air dan lumpur sekarang tidak bisa dipanen karena masih mentah semua. Sehingga otomatis nenek Milka gagal panen karena padinya terendam dalam kondisi mentah. Apalagi banjir dan lumpur merendam sawah dalam kurun waktu lama maka tidak bisa diharapkan lagi, ujar Maria (SK).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....