Mengenal Moko Alor, Warisan Budaya yang Menjadi Simbol Kehormatan Masyarakat

  • 30 Jun 2026 20:06 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Alor - Nusa Tenggara Timur tidak hanya terkenal karena pesona alamnya, tetapi juga menyimpan kekayaan budaya yang masih lestari hingga sekarang. Salah satu warisan budaya paling berharga adalah moko, benda pusaka yang memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Alor.

Moko merupakan gendang perunggu berukuran kecil dengan bentuk menyerupai nekara yang dihiasi beragam motif khas zaman perunggu. Bagi masyarakat Alor, benda tersebut bukan sekadar peninggalan sejarah, melainkan simbol kehormatan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Melansir dari traveloka, Selasa 29 Juni 2026, berdasarkan kajian arkeologi, moko diduga berasal dari kebudayaan Dong Son di Vietnam Utara yang berkembang ribuan tahun silam. Benda bersejarah itu diperkirakan masuk ke Alor melalui jalur perdagangan laut yang menghubungkan Nusantara dengan kawasan Asia Tenggara.

Berbeda dengan kajian ilmiah, masyarakat Alor memiliki cerita rakyat mengenai asal-usul moko yang diwariskan secara turun-temurun sejak dahulu. Legenda setempat menyebutkan bahwa moko ditemukan dari dalam tanah sehingga dipercaya memiliki nilai sakral dan harus dihormati.

Seiring perkembangan zaman, fungsi moko berubah dari benda logam menjadi bagian penting dalam sistem kehidupan masyarakat adat Alor. Keberadaannya kini berkaitan erat dengan pelaksanaan adat, hubungan sosial, serta penghormatan terhadap warisan leluhur.

Salah satu fungsi moko yang masih dipertahankan hingga sekarang adalah sebagai belis atau mahar dalam perkawinan adat masyarakat Alor. Jumlah moko yang diberikan biasanya disesuaikan dengan kesepakatan keluarga serta ketentuan adat yang berlaku di setiap wilayah.

Selain menjadi belis, kepemilikan moko juga mencerminkan kedudukan sosial sebuah keluarga dalam lingkungan masyarakat adat setempat. Semakin langka dan banyak moko yang dimiliki, semakin tinggi pula penghormatan yang diberikan kepada keluarga tersebut.

Pada masa lampau, moko juga dimanfaatkan sebagai alat pembayaran denda adat serta penyelesaian berbagai persoalan dalam masyarakat. Bahkan, benda berharga ini pernah digunakan sebagai alat tukar untuk memperoleh tanah maupun hak tertentu.

Wisatawan yang ingin mengenal sejarah moko dapat mengunjungi Museum Seribu Moko di Kalabahi, Kabupaten Alor. Museum tersebut menyimpan berbagai koleksi moko dengan ukuran, bentuk, dan motif yang berasal dari berbagai masa.

Selain museum, moko juga masih dapat dijumpai di Kampung Adat Takpala dan Kampung Adat Matalafang saat kegiatan adat berlangsung. Keberadaan moko menjadi bukti bahwa warisan budaya Alor tetap dijaga sebagai identitas masyarakat hingga sekarang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....