Pertukaran Pengetahuan Petani TTU dan Sumatera Barat
- 28 Sep 2026 15:53 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Atambua - Pertukaran pengetahuan antara petani Timor Tengah Utara dan Sumatera Barat menjadi bagian dari upaya mendorong pertanian berkelanjutan. Kegiatan ini merupakan implementasi tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs melalui program kemitraan multipihak pertanian berkelanjutan.
“Dua pihak harus memiliki pengetahuan atau inovasi dari masing-masing daerah yang cocok untuk ditukarkan dalam satu sektor tertentu," kata Yoakim Asy, pendamping program GIZ dari Jerman kepada RRI Atambua, Jumat, 25 September 2026.
Konsep pertukaran pengetahuan dinilai berbeda dengan pola studi banding karena masing-masing daerah memiliki inovasi yang dapat saling dipelajari. TTU memiliki pengalaman penerapan pertanian organik menggunakan ekoenzim, sedangkan petani Sumatera Barat mengembangkan metode mulsa tanpa olah tanah.
Inovasi pertanian organik melalui pemanfaatan ekoenzim menjadi salah satu pengetahuan yang menarik perhatian petani dari Sumatera Barat. Ekoenzim dibuat menggunakan bahan-bahan lokal yang tersedia dan tumbuh di wilayah Timor maupun Indonesia.
Sebaliknya, petani dari wilayah pesisir selatan Sumatera Barat membawa pengalaman mengenai metode tanpa olah tanah atau MTOT dalam pengembangan sawah pokok murah. Metode tersebut memanfaatkan jerami padi sebagai penutup lahan untuk menjaga kelembapan sekaligus menyediakan unsur yang dibutuhkan tanaman.
“Dengan SPM atau MTOT ini terbukti berdasarkan kajian kami bersama para petani di Sumatera Barat bahwa produktivitas hasil itu meningkat 20-30 persen," ujarnya.
Metode tanpa olah tanah juga dinilai dapat menekan biaya produksi karena mengurangi penggunaan berbagai input pertanian dalam proses pengolahan lahan. Berbeda dengan metode konvensional yang membutuhkan pengolahan tanah secara penuh, metode ini memanfaatkan jerami sebagai bagian dari sistem budidaya.
Program pertukaran pengetahuan tersebut mendapat dukungan GIZ, lembaga kerja sama teknis pemerintah Jerman yang membantu pemerintah Indonesia mencapai agenda pembangunan 2030. Peserta kegiatan tidak hanya berasal dari kalangan petani, tetapi juga melibatkan pemerintah, dinas teknis, pendamping, lembaga fasilitator kemitraan multipihak, serta petani ahli.
“Kita berharap bahwa teman-teman yang sudah kita ajak ke Sumatera Barat kelak menjadi bagian dari pool pelatih untuk MTOT," tuturnya. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya menerapkan prinsip no one left behind dengan melibatkan berbagai pihak dalam pengembangan sektor pertanian.
TTU saat ini menjadi wilayah uji coba metode tersebut di Nusa Tenggara Timur, sementara penerapannya diharapkan dapat berkembang ke daerah lain setelah melalui proses pengujian. Ke depan, pengembangan pertanian di TTU diharapkan dapat mengombinasikan metode tanpa olah tanah dengan penggunaan ekoenzim.
Kombinasi tersebut diharapkan mampu mendukung pengembangan produk pertanian organik sekaligus memberikan pilihan teknologi yang lebih sesuai dengan kondisi wilayah kering.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....