Penguatan Kemampuan Advokasi Perempuan
- 05 Mei 2026 21:33 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Atambua – Upaya menguatkan kapasitas perempuan adat dilakukan melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan, terutama kemampuan advokasi yang dinilai sangat penting dalam berbagai situasi. Hal tersebut disampaikan Farida Indriani, Presidium Kelompok Kepentingan Perempuan Masyarakat Adat - Koalisi Perempuan Indonesia untuk Keadilan dan Demokrasi, kepada rri.co.id, Senin 4 Mei 2026.
Ia menjelaskan bahwa perempuan adat perlu dibekali kemampuan berbicara dan berdialog tidak hanya di tingkat komunitas, tetapi juga dengan pemerintah dan pelaku industri ekstraktif.
"Ketika mengadvokasi itu tidak hanya berbicara di level kelompok masyarakat adat saja, tetapi juga bertemu pihak dinas, provinsi, hingga pengusaha," kata dia. Menurutnya, penguatan dilakukan secara bertahap dengan membangun rasa percaya diri perempuan adat agar mampu menyuarakan persoalan dan posisi mereka secara jelas.
"Kita ingin perempuan adat percaya diri bahwa mereka mampu menyuarakan problemnya dan mampu mendialogkan posisinya," ujarnya. Farida menekankan bahwa pembahasan perempuan muda harus dimulai dari anak perempuan, karena mereka merupakan generasi awal yang akan tumbuh menjadi perempuan dewasa.
Ia mengungkapkan tantangan terbesar masih adanya anggapan bahwa pendidikan tidak penting bagi anak perempuan, padahal mereka memiliki hak yang sama seperti anak laki-laki.
"Anak perempuan punya hak yang sama dengan anak laki-laki dan mereka adalah penerus kelompok masyarakat adat," ucapnya. Selain pendidikan formal, anak perempuan juga perlu mendapatkan pendidikan informal mengenai nilai dan identitas adat agar tidak kehilangan jati diri budaya.
Ia mencontohkan di Nusa Tenggara Timur, keterampilan menenun menjadi bagian penting identitas perempuan adat yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya. "Keterampilan menenun itu tidak hanya menjaga nilai adat tetapi juga bisa membuat perempuan mandiri secara ekonomi," tuturnya.
Farida menambahkan bahwa generasi muda juga didorong untuk menempuh pendidikan tinggi, namun diharapkan kembali ke desa untuk membangun komunitasnya. Ia menyadari banyak anak muda memilih keluar daerah atau luar negeri untuk bekerja, namun penting memiliki rencana masa depan yang jelas setelah kembali.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....