Kesetaraan Gender di Alor Hadapi Penolakan dan Dukungan dari Masyarakat Setempat
- 26 Apr 2026 20:24 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Alor - Aktivis perempuan Alor, Bunda Yusfira Abdurahman, menyatakan bahwa respons masyarakat terhadap isu kesetaraan gender yang diperjuangkan para aktivis masih beragam. Sebagian masyarakat telah menerima gagasan tersebut, namun tidak sedikit pula yang masih mempertahankan pandangan lama yang menempatkan perempuan pada posisi terbatas.
Ia mencontohkan pengalamannya saat berada di sebuah desa yang dipimpin oleh seorang perempuan. Pada saat itu, kepemimpinan perempuan tersebut sempat mendapat penolakan dari sejumlah warga, khususnya kaum laki-laki, yang menginginkan agar posisi tersebut segera digantikan.
“Banyak orang tua, terutama laki-laki, menolak kepemimpinan perempuan dan ingin menurunkannya. Tetapi karena pemimpin perempuan itu kuat dan mampu menghadapi penolakan, sampai sekarang dia masih menjabat,” ujar Bunda Yusfira. Sabtu, 25 April 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa diskriminasi terhadap perempuan masih terjadi dan sulit dihilangkan, terutama di kalangan generasi tua yang masih berpegang pada keyakinan bahwa hanya laki-laki yang layak menjadi pemimpin.
Ditegaskan bahwa perempuan memiliki kemampuan yang sama untuk memimpin selama memiliki keterampilan dan kapasitas yang memadai. Bahkan, ia menilai kepekaan emosional perempuan justru menjadi kekuatan dalam memahami dan merangkul berbagai perbedaan di tengah masyarakat.
“Tidak ada tembok antara laki-laki dan perempuan. Selama perempuan punya kemampuan dan keterampilan memimpin, maka mereka layak diberi kesempatan,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya edukasi yang dimulai dari kesadaran individu, kemudian diperluas ke lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Selain itu, dukungan tokoh adat dan tokoh agama dinilai sangat penting karena mereka memiliki pengaruh besar dalam membentuk pandangan masyarakat.
Bunda Yusfira juga menilai generasi muda saat ini lebih terbuka terhadap isu kesetaraan gender, terutama karena pengaruh media sosial dan meningkatnya akses informasi. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa perempuan masih menghadapi keterbatasan ruang dalam menyampaikan pendapat, sehingga diperlukan upaya berkelanjutan untuk memastikan kesetaraan benar-benar terwujud di Kabupaten Alor.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....