Farida Indriani: Perempuan Adat Kerap Alami Kerentanan Ganda

  • 05 Mei 2026 21:05 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua – Perempuan adat dinilai kerap mengalami kerentanan ganda dalam struktur sosial masyarakat yang masih memposisikan perempuan terbatas pada ranah domestik saja.

Hal ini disampaikan Farida Indriani, dari Presidium Kelompok Kepentingan Perempuan Masyarakat Adat - Koalisi Perempuan Indonesia untuk Keadilan dan Demokrasi kepada rri.co.id, Senin 4 Mei 2026. Ia menjelaskan bahwa dalam lingkup masyarakat adat secara umum terdapat berbagai persoalan besar yang dihadapi bersama oleh komunitas adat di berbagai daerah.

Namun di sisi lain, perempuan juga menghadapi persoalan serupa yang bersumber dari cara pandang budaya yang membatasi peran perempuan hanya pada urusan domestik keluarga. "Perempuan hanya dianggap mengurusi domestik saja padahal di masyarakat adat mereka juga memiliki peran publik yang penting," ujarnya.

Farida menambahkan bahwa dalam praktiknya, terdapat wilayah adat yang memberikan ruang kepemimpinan kepada perempuan serta peran khusus seperti membantu proses kelahiran dan pengobatan tradisional.

Meski demikian, kondisi ini sangat bergantung pada dinamika dialog dalam komunitas adat itu sendiri yang menentukan bagaimana perempuan ditempatkan dalam struktur sosial masyarakat. "Kadang perempuan mengalami problem kekerasan di dalam struktur terkecil sehingga persoalannya menjadi berlapis," katanya.

Ia juga menyoroti bahwa masyarakat adat menghadapi tekanan dari luar terutama terkait industri ekstraktif yang memarginalkan mereka dalam berbagai aspek kehidupan sosial ekonomi.

Di sisi internal, perempuan adat juga berhadapan dengan kekuatan adat yang kerap dimaknai secara sempit sebagai sistem yang harus selalu bersifat patriarkal. "Seolah-olah semua adat harus patrineal padahal adat itu hidup ketika ada dialog mengikuti ruang dan waktu," tuturnya.

Menurutnya, perempuan adat perlu didorong untuk aktif berdialog dalam komunitasnya sekaligus memperkuat posisi masyarakat adat dalam menghadapi kebijakan negara yang berdampak langsung. "Harus ada ruang partisipatif untuk membicarakan kebutuhan perempuan dan masyarakat adat secara luas dalam konteks negara," ucapnya.

Farida menegaskan pentingnya membangun ruang dialogis baik di dalam komunitas adat maupun antara masyarakat adat dengan pihak luar termasuk negara. "Bahwa persoalan perempuan adat memiliki jenjang yang kompleks dan membutuhkan perhatian lebih karena tanggung jawab serta tantangan yang semakin besar."

Lanjutnya tentang kerentanan ganda perempuan Adat dalam struktur sosial masyarakat dapat dihindari atau dieliminir seiring waktu. "PR perempuan adat semakin banyak tetapi saya yakin mereka kuat karena banyak pihak yang menaruh harapan dan memberikan dukungan," katanya melalui sambungan telpon seluler.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....