Aktivis Perempuan Soroti Kemajuan dan Tantangan Kesetaraan Gender di Alor

  • 26 Apr 2026 20:17 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Alor - Aktivis perempuan Alor, Bunda Yusfira Abdurahman, menilai kondisi kesetaraan gender di Kabupaten Alor menunjukkan perkembangan yang cukup positif. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya perempuan yang diberi ruang untuk beraktivitas dan berkontribusi di berbagai bidang, termasuk dalam dunia kerja dan kepemimpinan.

Meski demikian, ia mengakui bahwa kemajuan tersebut belum sepenuhnya merata, terutama dalam hal penghargaan dari laki-laki terhadap perempuan. Menurutnya, masih ada pandangan yang membatasi peran perempuan, sehingga upaya peningkatan kesadaran gender perlu terus dilakukan di tengah masyarakat.

“Tantangan utama dalam meningkatkan kesetaraan gender di Kabupaten Alor adalah bagaimana mengubah pemahaman yang masih sebelah. Kita perlu meyakinkan bahwa perempuan itu mampu dan bisa berperan setara,” ujarnya. Sabtu, 25 April 2026.

Ia menjelaskan bahwa pendekatan dialog menjadi salah satu cara efektif untuk menjembatani nilai budaya dengan prinsip kesetaraan gender. Dialog tersebut melibatkan tokoh agama dan tokoh masyarakat agar nilai-nilai budaya tetap terjaga tanpa mempertahankan aspek yang merugikan perempuan.

Selain itu, Bunda Yusfira juga menekankan pentingnya peran keluarga sebagai fondasi dalam membangun kesetaraan gender. Menurutnya, pendidikan dalam keluarga harus dimulai dari hal-hal sederhana, seperti pembagian tugas tanpa membedakan gender, serta penanaman nilai saling menghargai sejak dini.

“Musyawarah dalam keluarga itu penting, terutama dalam pengambilan keputusan. Anak perlu didengar agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan tidak ragu terhadap pilihannya,” ucapnya.

Ia juga menyoroti bahwa pola asuh yang terlalu otoriter dapat berdampak pada rendahnya kepercayaan diri anak. Oleh karena itu, orang tua diharapkan mampu memberikan ruang bagi anak untuk berpikir dan menentukan pilihan, tanpa tekanan atau diskriminasi berbasis gender.

Terkait respons masyarakat, ia menyebutkan bahwa pandangan terhadap isu kesetaraan gender masih beragam. Sebagian masyarakat mendukung upaya tersebut, namun tidak sedikit pula yang masih menolak, sehingga edukasi dan dialog berkelanjutan dinilai menjadi kunci dalam mendorong perubahan yang lebih inklusif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....