Takut Dimarahi Membuat Anak Lebih Sering Berbohong
- 28 Sep 2026 19:59 WIB
- Waykanan
RRI.CO.ID,Way Kanan:Bagi banyak orang tua, memarahi anak dengan nada tinggi atau memberikan hukuman berat dianggap sebagai cara paling efektif untuk memberikan efek jera. Harapannya, anak tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dan tumbuh menjadi pribadi yang jujur serta disiplin.
Dikutip dari laman BKKBN Anak-anak, terutama pada usia dini hingga remaja, memiliki insting yang kuat untuk menghindari ancaman dan mencari penerimaan dari orang tua mereka. Ketika pola asuh yang diterapkan terlalu keras, terjadi pergeseran fokus dalam pikiran anak:
- Beralih dari "Belajar" Menjadi "Bertahan Hidup": Saat berbuat salah, anak yang dididik dengan kelembutan akan berpikir, "Bagaimana cara memperbaiki kesalahan ini?". Sebaliknya, anak yang takut dimarahi akan berpikir, "Bagaimana cara agar Ayah dan Ibu tidak tahu?".
- Kebohongan sebagai "Tameng Pelindung": Bagi anak, bentakan, tatapan mata yang penuh amarah, atau hukuman fisik terasa sangat menakutkan dan menyakitkan secara emosional. Berbohong menjadi satu-satunya cara instan untuk melindungi diri mereka dari ancaman tersebut.
Evolusi Menjadi Kebiasaan (Habitual Lying): Jika kebohongan pertama berhasil menyelamatkan mereka dari amarah orang tua, otak anak akan mencatat hal tersebut sebagai strategi yang sukses. Lambat laun, berbohong berubah dari sekadar taktik darurat menjadi kebiasaan sehari-hari.
Mengubah kebiasaan anak yang suka berbohong harus dimulai dengan mengubah cara orang tua merespons kesalahan. Berikut beberapa langkah praktisnya:
- Sambut Kejujuran, Bukan Menghukumnya: Ketika anak berani mengakui kesalahan (misalnya memecahkan gelas atau mendapat nilai buruk), tahan amarah Anda. Katakan, "Terima kasih sudah jujur sama Mama. Mama menghargai keberanian kamu. Sekarang, mari kita beresin bareng-bareng."
- Bedakan Antara Tegas dan Marah: Mendidik anak tidak harus dengan berteriak atau memaki. Anda tetap bisa berbicara dengan nada rendah, menatap matanya, dan menjelaskan secara tegas apa konsekuensi dari kesalahannya tanpa perlu membuat mereka merasa terancam.
- Fokus pada Solusi (Problem Solving): Alih-alih sibuk menghakimi karakter anak ("Kamu kok ceroboh banget sih!"), arahkan fokus pada bagaimana cara memperbaiki keadaan. Ini mengajarkan anak bertanggung jawab atas tindakan mereka.
Jadikan Rumah Wadah yang Aman: Pastikan anak tahu dan merasakan bahwa apa pun kesalahan yang mereka perbuat di luar sana, mereka selalu bisa pulang ke rumah untuk mendapatkan solusi dan perlindungan, bukan penghakiman.
Kejujuran seorang anak tidak tumbuh dari rasa takut akan hukuman, melainkan dari rasa aman bahwa mereka tetap dicintai dan diterima, bahkan ketika mereka sedang melakukan kesalahan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....