Tempe Bungkil, Tempe Berbahan Kacang yang Semakin Diiminati
- 12 Mei 2025 08:23 WIB
- Malang
KBRN, Malang : Tren kuliner yang kerap kali berubah, tempe bungkil hadir menjadi salah satu pilihan pangan lokal yang sangat dicintai oleh masyarakat. Tempe yang diolah secara tradisional dengan bahan alami serta tanpa pengawet, hal ini membuat tempe bungkil bukan sekedar makanan biasa melainkan warisan budaya bagi masyarakat pedesaan. Adalah Meskanat, seorang ibu rumah tangga berusia 43 tahun yang meneruskan usaha tempe bungkil sejak tahun 1980 di Desa Curungrejo, hingga saat ini.
“Pertama kacangnya dicuci lalu direndam satu malam agar mekar, lalu paginya ditiriskan dan kalau sudah selesai ditiriskan kemudian dimasak. Untuk proses memasaknya kira-kira empat jam, setelahnya harus menunggu dingin terlebih dahulu baru bisa dicetak. Paling lama untuk proses produksinya bisa memakan waktu sekitar satu hari,” jelas Meskanat, Senin (12/5/2025).
Tempe bungkil yang diproduksi oleh Meskanat banyak menggunakan bahan dasar kedelai dan kopra. Prosesnya memang terlihat sederhana, namun memakan waktu yang lama. Dalam sehari, rumah produksi UMKM ini dapat menghabiskan 30 kilogram kedelai dan 10 kilogram kopra. Dari situlah, ia dapat menghasilkan lebih dari seribu potong tempe. Tempe bungkil ini juga dijual dengan harga yang sangat terjangkau, dibanderol mulai dari harga Rp500 hingga Rp1.000 per-potong serta dipasarkan secara langsung di pasar atau dapat dibeli oleh pelanggan di rumah langsung.
Meski harga bahan baku seperti kedelai dan kopra sering naik di zaman yang sudah maju ini, Meskanat tetap konsisten untuk tidak menaikkan harga jual. Ia mengatakan jika untung sedikit tidak apa-apa, yang terpenting adalah usahanya tetap jalan agar kualitas produknya tetap terjaga tanpa harus mengubah rasa atau ukurannya. Menariknya, meskipun belum memanfaatkan berbagai macam sosial media untuk penjualan, tempe bungkil telah dikenal luas karena produksinya dan bahkan sering dibawa sebagai oleh-oleh ke luar daerah.
“Untuk daya tahan tempe bungkil ini bisa sampai tiga hari di suhu ruang biasa dan kalau di kulkas bisa sekitar satu minggu ya,” tambahnya.
Dalam proses produksi, usaha tempe bungkil ini melibatkan empat orang, termasuk anggota keluarganya. Meskanat belum tertarik untuk mengolah tempe ini menjadi produk langsung atau siap saji seperti gorengan, karena keterbatasan tenaga yang ada serta waktu. Namun ia tetap optimis dan berharap usahanya semakin dikenal khalayak dan ramai. Yang terpenting, Meskanat berucap jika tempe bungkil ini tetap lestari agar semakin berkembang. (AV)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....