Trans Kie Raha dan Jalan menuju Ekonomi Maluku Utara yang Inklusif
- 09 Sep 2026 21:28 WIB
- Ternate
RRI.CO.ID, Ternate - Pertumbuhan ekonomi Maluku Utara tidak akan inklusif jika konektivitas hanya melayani pusat industri dan kota besar. Petani, nelayan, dan pelaku usaha kecil masih menghadapi biaya angkut tinggi serta pasar yang terpecah.
Komoditas dapat murah di tingkat produsen, tetapi menjadi mahal ketika tiba di pusat konsumsi antarpulau. Selisih harga tersebut tidak selalu mencerminkan nilai tambah, melainkan biaya logistik dan lemahnya tata kelola pasar.
Karena itu, Trans Kie Raha harus dinilai dari manfaat ekonomi bagi produsen kecil, bukan sekadar aset yang dibangun. Pertanyaannya kemudian, apakah konektivitas benar-benar mampu menurunkan biaya dan meningkatkan pendapatan masyarakat?
Wilayah Kepulauan dan Biaya Logistik
Wilayah kepulauan memiliki struktur biaya berbeda dibandingkan wilayah daratan. Produksi tersebar di banyak pulau, sementara pasar, gudang, dan distribusi terkonsentrasi pada titik tertentu.
Cuaca buruk, jadwal kapal tidak pasti, dan volume muatan kecil turut menaikkan biaya pengiriman barang. Kerusakan ikan, sayuran, dan hasil pertanian kemudian memperbesar risiko yang ditanggung produsen kecil.
Kondisi tersebut membuat petani sering menjual hasil panen dengan harga rendah. Mereka memilih menjual cepat karena khawatir barang rusak atau biaya angkut semakin besar.
Nelayan menghadapi persoalan serupa setelah hasil tangkapan didaratkan. Ketiadaan es, gudang dingin, dan pembeli alternatif membuat posisi tawar nelayan menjadi lemah.
Siapa Menguasai Pasar?
Persoalan utama bukan hanya kurangnya kapal, jalan, atau pelabuhan. Masalah yang lebih mendasar ialah siapa yang menguasai informasi harga, ruang muatan, gudang, dan pembeli akhir.
Petani sering menjual saat panen tanpa mengetahui harga di Ternate, Tidore, atau pasar kabupaten lainnya. Kondisi tersebut membuat ruang tawar produsen menjadi semakin terbatas.
Akibatnya, pedagang perantara memperoleh ruang besar dalam menentukan harga dan syarat transaksi. Selisih harga antara produsen dan konsumen kemudian tidak sepenuhnya menjadi nilai tambah bagi masyarakat lokal.
Trans Kie Raha sebagai Sistem Logistik
Trans Kie Raha dapat menjadi instrumen penting apabila dirancang sebagai sistem logistik publik antarpulau. Program tersebut tidak cukup hanya menambah rute transportasi tanpa kepastian jadwal dan tarif.
Kapal harus terhubung dengan pelabuhan pengumpul, pasar induk, gudang, dan titik distribusi pulau kecil. Pelayanan juga harus mengikuti kalender panen, musim ikan, serta kebutuhan konsumsi masyarakat.
Jadwal yang konsisten akan membantu produsen menentukan volume, waktu pengiriman, dan kualitas barang. Tanpa kepastian layanan, infrastruktur berisiko hanya menjadi fasilitas fisik yang tidak mengubah risiko ekonomi.
Pentingnya Koperasi Produsen
Koperasi produsen dapat menjadi penghubung antara petani, nelayan, dan jaringan pasar antarpulau. Melalui koperasi, volume produksi dapat dikumpulkan untuk memenuhi kebutuhan pasar yang lebih besar.
Koperasi juga dapat menyediakan informasi harga, pengadaan input, pengemasan, dan pengiriman bersama. Dengan skala kolektif, biaya angkut dapat ditekan dan posisi tawar produsen diperkuat.
Namun, koperasi tidak boleh dibentuk hanya untuk memenuhi program administratif atau penyaluran bantuan sesaat. Koperasi harus dikelola profesional, transparan, dan benar-benar berorientasi pada manfaat ekonomi anggota.
Institusi Menentukan Manfaat Infrastruktur
Douglas C. North menjelaskan bahwa institusi merupakan aturan yang membentuk insentif dan perilaku ekonomi para pelaku. Pandangan tersebut penting untuk memahami mengapa jalan dan kapal tidak otomatis mengurangi ketimpangan harga.
Jika distribusi, informasi, dan pengadaan dikuasai jaringan terbatas, manfaat infrastruktur akan terkonsentrasi. Sebaliknya, aturan yang membuka akses pasar dapat membuat produsen kecil memperoleh manfaat konektivitas.
Karena itu, Trans Kie Raha membutuhkan tata kelola yang menjamin akses terhadap ruang muatan, informasi harga, dan layanan logistik. Keberhasilan program bergantung pada kualitas institusi, bukan semata jumlah kapal dan panjang rute.
Perikanan dan Pertanian Harus Menjadi Prioritas
Sektor perikanan perlu menjadi prioritas karena hasil tangkapan sangat bergantung pada kecepatan dan kualitas distribusi. Tuna, cakalang, tongkol, dan komoditas laut lainnya dapat kehilangan nilai tanpa rantai dingin.
Pemerintah perlu menghubungkan pelabuhan perikanan, pabrik es, gudang dingin, dan transportasi laut dalam satu sistem. Langkah tersebut dapat mengurangi ketergantungan nelayan terhadap pembeli tunggal.
Pertanian menghadapi persoalan serupa pada komoditas padi, kelapa, pala, cengkeh, dan hortikultura. Petani membutuhkan jalan produksi sekaligus akses menuju pasar yang memberikan harga wajar.
Gudang, pengering, pengolahan pascapanen, dan informasi permintaan dapat membantu petani menentukan waktu penjualan. Trans Kie Raha perlu terintegrasi dengan pusat distribusi pangan dan pengolahan hasil pertanian.
Menghubungkan Rakyat dengan Kawasan Industri
Kawasan industri pengolahan mineral dapat menjadi sumber permintaan besar bagi produksi lokal. Kebutuhan pangan pekerja menciptakan pasar bagi pertanian, perikanan, peternakan, dan UMKM.
Trans Kie Raha perlu menghubungkan sentra produksi lokal dengan kawasan industri melalui pengadaan yang transparan. Petani dan nelayan harus memperoleh kesempatan memasok setelah memenuhi standar mutu secara bertahap.
Kebijakan tersebut dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasokan pangan dari daerah lain. Hilirisasi mineral akhirnya tidak hanya menghasilkan aktivitas industri, tetapi juga memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Mengukur Keberhasilan
Pemerintah daerah perlu menetapkan indikator keberhasilan yang lebih konkret daripada jumlah rute atau nilai proyek. Indikator tersebut harus mencakup biaya logistik, ketepatan jadwal kapal, dan selisih harga produsen-konsumen.
Pemerintah juga perlu mengukur volume komoditas yang terangkut dan perubahan pendapatan petani serta nelayan. Hasil evaluasi harus dibuka agar masyarakat dapat menilai manfaat Trans Kie Raha secara objektif.
Tanpa ukuran hasil yang jelas, sebuah proyek mudah dinilai berhasil hanya karena terlihat secara fisik. Padahal, ukuran terpenting pembangunan adalah perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat.
Jangan Hanya Memindahkan Barang
Trans Kie Raha dapat membantu memutus ketimpangan harga apabila dibangun sebagai institusi ekonomi antarpulau. Program ini harus menggabungkan kapal, pelabuhan, gudang, rantai dingin, informasi harga, dan koperasi produsen.
Konektivitas tidak boleh hanya mempercepat arus barang dari pusat menuju wilayah pinggiran. Konektivitas harus memperkuat kemampuan pulau kecil menjual produk dan memperoleh kebutuhan dasar.
Pada akhirnya, Trans Kie Raha harus menjadi jalan menuju pasar yang lebih adil bagi Maluku Utara. Infrastruktur harus membuat masyarakat kecil lebih berdaya, bukan sekadar membuat barang bergerak lebih cepat.
Oleh: Dr. Muhammad Kamal, S.E., M.Si
(Akademisi dan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Khairun)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....