Mengenang Aba Acim, Tokoh Pembangunan Halmahera Tengah
- 16 Agt 2026 19:24 WIB
- Ternate
Oleh : Abd.Wahab Hasyim, Dosen Unkair
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un
Setiap kita memiliki jadwal dan jalan pulang yang telah ditentukan Allah Swt. Pesan tentang kepulangan setiap yang bernyawa telah dikalamkan dalam Surah Ali Imran ayat 185, bahwa kematian adalah gerbang perpisahan dari dunia menuju kehidupan dan balasan atas amal perbuatan.
Kematian mengingatkan kita akan hakikat kehidupan yang sesungguhnya. Hidup di dunia ini hanyalah perjalanan singkat menuju kehidupan yang lebih kekal. Jumat 14 Agustus 2026, Halmahera Tengah, wilayah Gamrange, dan Maluku Utara kehilangan salah satu putra terbaiknya, Ir. H. M. Ali Yasin, M.M.T. ia meninggal dunia pada usia 68 tahun di Kota Makassar.
Almarhum yang akrab disapa Aba Acim adalah seorang pamong, birokrat, teknokrat, politisi, sekaligus tokoh panutan yang mengabdikan sebagian besar hayatnya untuk mengabdi, berbakti, dan membangun Halmahera Tengah serta Maluku Utara. Kepergian Aba Acim menjadi duka dan kesedihan bagi keluarga, masyarakat Halmahera Tengah, keluarga besar masyarakat Gamrange, serta rakyat Maluku Utara.
Almarhum dikenal sebagai Bupati Halmahera Tengah selama dua periode, 2007–2012 dan 2012–2017, serta Wakil Gubernur Provinsi Maluku Utara periode 2019–2024. Aba Acim lahir dari keluarga sederhana di Weda pada 25 Mei 1958. Ia tumbuh dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang sangat kuat menanamkan nilai-nilai religius dan adat istiadat.
Maklumlah, dari garis keturunan ayahnya, beliau memiliki trah darah Tidore yang berpadu dengan tetesan darah Lagae Cekel Sawai Weda dari sang ibu. Sejak kecil, pendidikan dasar hingga sekolah menengah pertama diselesaikannya di Weda. Ia kemudian melanjutkan pendidikan STM di Ambon dan menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Teknik Universitas Muslim Indonesia, Makassar.
Hampir sama dengan kebanyakan anak muda lainnya, Aba Acim dikenal memiliki sifat tenang, teduh, dan sangat bersahaja. Dengan latar belakang nilai-nilai keagamaan serta semangat kebersamaan yang dimilikinya, ketika masih menjadi mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Muslim Indonesia di Makassar, almarhum aktif terlibat dalam berbagai organisasi intra dan ekstra kampus.
Pengalaman selama berada di dunia kampus turut membentuk kapabilitas, kapasitas, dan kompetensi Aba Acim. Bekal tersebut kemudian menjadi modal penting ketika ia mengabdi sebagai pamong praja, birokrat, teknokrat, dan politisi di tingkat Kabupaten Halmahera Tengah maupun Provinsi Maluku Utara.
Bukan sesuatu yang berlebihan jika dengan ketulusan hati dan pikiran saya mengatakan bahwa almarhum Aba Acim adalah sosok panutan yang secara total mengerahkan seluruh kapasitas dirinya untuk membangun fondasi infrastruktur dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Halmahera Tengah.
Dengan kapasitas fiskal yang sangat minim saat itu, khususnya pada 2008, beliau berani mengambil keputusan strategis terkait pemindahan ibu kota Kabupaten Halmahera Tengah dari Soasio ke Weda sebagaimana amanat Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2003. Potret pembangunan tersebut dapat dilihat hingga saat ini. Wilayah Halmahera Tengah yang dahulu dikenal sebagai daerah tertinggal, sejak beliau memimpin hingga sekarang terus mengalami perkembangan dan perubahan yang semakin nyata.
Dalam memimpin, almarhum menggunakan gaya servant leadership (kepemimpinan melayani) dan nurturing leadership (kepemimpinan yang merawat). Pendekatan tersebut membuat pegawai yang berasal dari luar Weda, Patani, maupun Gebe merasa betah dan nyaman bekerja. Ia tidak semata-mata berbicara, tetapi turun langsung ke lokasi dan membuktikannya melalui kerja bersama. Almarhum adalah sosok pendengar yang baik bagi setiap jeritan dan keluhan warga.
Ia mengedepankan musyawarah mufakat dalam menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat. Aba Acim dikenal sebagai pemimpin yang hangat, santun, luwes, tetapi tegas dalam menjalankan tugas. Ia juga tidak pernah bosan memberikan motivasi kepada pegawai dan generasi muda. Kepeduliannya terhadap pembangunan infrastruktur, sektor ekonomi, serta sosial dan budaya sangat besar. Bagi Aba Acim, pembangunan bukan semata-mata tentang membangun fasilitas, tetapi juga tentang menghadirkan harapan dan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat. Walaupun kami merindukanmu, takdir Allah telah datang melalui rencana-Nya.
Selamat jalan, Aba Acim.
Terima kasih atas dedikasi dan pengabdianmu untuk Halmahera Tengah dan Maluku Utara. Engkau pergi meninggalkan kami, tetapi telah meninggalkan jejak-jejak nyata yang memesona bagi Halmahera Tengah. Semua karya dan keringatmu menjadi cerita nyata dan catatan sejarah yang akan selalu dikenang. Tugas kami sekarang adalah merawat semua yang telah engkau bangun serta meneruskan api semangat pengabdian itu untuk generasi masa depan. Insyaallah, kami yakin karya dan dedikasimu akan menjadi amal yang terus mengalir dan menjadi bekal menuju tempat terbaik di sisi-Nya.
Selamat jalan, Aba Acim.
Pengabdianmu akan tetap hidup dalam ingatan dan sejarah Halmahera Tengah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....