Coka Iba di Negeri Gamrange

  • 23 Agt 2026 10:40 WIB
  •  Ternate

(Sebuah Tinjauan Etik Lingkungan)

Oleh : Abd. Wahab Hasyim, Putera Weda

Negeri Gamrange meliputi wilayah Halmahera Tengah dan Halmahera Timur. Masyarakat di wilayah ini memiliki ikatan batin yang diwariskan pendahulu. Perbedaan wilayah tidak pernah memutuskan tali persaudaraan rasa kasih (gogoru). Gogoru mengandung nilai : Ngaku se rasai, yakni pengakuan jujur dan rasa solidaritas yang kuat antar sesama manusia; Budi re bahasa, menjaga keluhuran budi pekerti serta tutur kata yang sopan; Sopan re hormat, sikap saling menghargai dan memuliakan orang lain dalam pergaulan; Mtat re meimoi, rasa malu yang menjadi benteng moral agar tidak melakukan perbuatan tercela.

Salah satu model implementasi Gogoru dikemas dalam sebuah tradisi unik yang di sebut Coka Iba. Coka Iba mulai berkembang sekitar tahun 1100 M melalui proses akulturasi budaya lokal Gamrange (Mobon/Maba, Poton/Patani, dan Were/Weda) saat masuknya agama Islam di wilayah tersebut. Kehadirannya mencerminkan eksistensi ritus leluhur dan transisi budaya kuno yang dipadukan ke dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Proses ini menyiratkan pesan adanya relasi kohesi antara nilai-nilai leluhur, alam gaib, lingkungan biosfer (litosfer, hidrosfer, dan atmosfer) dan kondisi lintas zaman. Tiga pemimpin wilayah (Rajaman), yaitu : Rajaman Satrio dari Mobon (Maba); Rajaman Kasuro dari Poton (Patani), dan Rajaman Suta Raja Mauraja dari Were (Weda) bersama para tetua adat saat itu membidani lahirnya tradisi Coka Iba.

Sumpah dari tiga penjuru, walaupun beda tanah pijak, harus tegak pada satu akar, satu kehormatan, dan satu tekad untuk saling melindungi. Pesta Coka Iba berlangsung selama tiga hari yaitu tanggal 10 sampai 12 Rabiul Awal. Bertempat di pendopo Masjid atau rumah Imam/tetua adat, Coka Iba dibuka dengan tampilan atraksi topeng memakai kostum unik seram tapi jenaka. Penggunaan topeng berwajah seram dengan kesan antagonis menggambarkan manifestasi makhluk pra sejarah atau warna ungkapan kultural yang takluk dan bersujud saat munculnya nur/hudan Islam.

Para imam Masjid, tokoh adat, dan masyarakat berada disisi lain dengan peran pratagonis menyemarakan lantunan barzanzi, zikir, dan shalawat, sebagai bentuk syukur atas kelahiran Nabi SAW. Melalui Surat Keputusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI No: 1044/P/2020, Coka Iba telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb). Coka Iba mencakup nilai identitas, kohesi sosial, dan kearifan lokal.

Nilai-nilai ini menjadi lambang kegembiraan, merajut hubungan kekeluargaan, dan merawat persahabatban yang diwariskan secara lintas generasi. Pengakuan akan keberadaannya sehingga tiga Coka Iba turut dalam pentas budaya rangkaian HUT Kemerdekaan RI ke-81 di istana negara Senin 17 Agustus 2026.

Nilai etik lingkungan

Ajaran holistic etika lingkungan adalah pilihan mutlak menyelamatkan ekosistem biosfer dari kepunahan. Pesan ajaran tersebut, mampu menyejukan pandangan mengenai economic well being dan social justice berbasis ekologi. Etika lingkungan hidup adalah potret kontemplasi mendalam mengenai norma/nilai atau asas moral yang erat temalinya dengan lingkungan biotik dan abiotik, serta sesama manusia.

Kontemplasi mendalam ini kemudian dipromosikan menjadi kebiasaan baru yang dinilai lebih efektif dalam hal mencegah terjadinya degradasi dan deplesi ekosistem biosfer dari ajaran-ajaran folkloristic.

Wujud rupa Coka Iba yang tampak menyeramkan adalah symbol sisi gelap manusia (buruk, hawa nafsu), dan faktor-faktor alam, semuanya tunduk menyongsong kelahiran Nabi SAW. Potret kosmologi elemen semesta, serta wasilah perekat habluminnas masyarakat Gamrange. Peran antagonis melalui topeng berparas menyeramkan adalah refleksi kepercayaan bahwa sesungguhnya bukan hanya manusia dan malaikat, tetapi semesta mahluk juga ikut bahagia atas kelahiran Nabi SAW.

Sisi kosmogonis semesta, bahan-bahan topeng berasal dari alam; kayu sebagai bahan baku dasar topeng melambangkan luteng (api); Daun Buro” (sejenis daun pandan) melambangkan hembusan more (angin); Pelepah sagu/gome melambangkan woye (air); Becek atau lumpur merepresentasikan unsur betbete (tanah). Warna-warni kostum dan wujud rupa Coka Iba dapat diartikan sebagai simbolisme kosmis empat anasir alam (luteng, more, woye, re betbete) dan cermin kebathinan atas kebahagian datangnya bulan kelahiran manusia Agung Nabi Muhammad SAW.

Nilai etik unsur topeng Coka Iba

Kayu (Api): Luteng menggambarkan semangat juang masyarakat Gamrange dalam menghadapi pelbagai tantangan; sebagai sumber energi yang memotivasi gairah hidup; lambang tekad dan harapan, serta alat pencerah. Anasir tersebut merefleksikan energi penggerak dan tidak mengesampingkan potensi destruktif yang bersemayam pada diri manusia. Cahaya spiritual yang menuntun manusia keluar dari kegelapan, kebodohan dan ketertinggalan untuk menemukan jalan hidup yang hakiki. Sedangkan sisi destruktif Luteng, adalah bangsa Jin dan Iblis dengan karakter emosi, amarah, ambisi, dan hubbuddunya. Prilaku antroposentris yang tidak tunduk pada ajaran local wisdom.

Sisi positif dan destruktif gelora yang membakar dapat menjadi iktibar dan madrasah penyadaran bagi manusia. Perspektif Islam, Luteng adalah ciptaan Allah yang memiliki sifat ganda sebagai penunjang kehidupan (penerangan, memasak, energi) sekaligus mengandung potensi bahaya besar (kerusakan/ fasad), menegakan prinsip Hifzh al-Bi'ah (menjaga lingkungan).

Kearifan lokal Gamrange mengajarkan setiap pembukaan lahan baru selalu disertai dengan ritual adat dengan menggunakan Luteng; melarang pembakaran liar; ritual bersih desa atau obor tradisional. Luteng juga diafiliasikan dengan kemurnian hati, ujian, atau pengingat kekuasaan Allah di Yaumul hisab nanti. Kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan alam dan menolak kemudharatan, ini sejalan dengan ajaran Islam (al-'adah muhakkamah ) bahwa adat istiadat yang baik dapat menjadi pertimbangan hukum.

Daun Buro” sejenis Pandan, salah satu bagian wadah Coka Iba yang merepresentasikan unsur more: More adalah napas kehidupan, berhakekat sebagai udara yang dihirup, memelihara raga tetap bernyawa. Energi penggerak, menyegarkan suasana batin, sering diibaratkan sebagai pemacu motivasi, hastrat, dan semangat juang manusia. Serta lambang akal pikiran dan keinsafan spiritual, more mengantar batin dalam menemukan ketenangan jiwa, membangkitkan ingatan vertikal secara habluminallah.

Dalam kosmogoni religius masyarakat, more merupakan salah satu dari empat anasir pokok raga manusia. Sebagai zat hidup, more mengajarkan pada manusia akan arti kelembutan, hal-hal yang tersembunyi, dan juga hembusan dahsyat bertenaga perubahan. More melambangkan sifat-sifat hakiki yang taknampak namun jelas hasilnya, dapat merasuk pada semua keadaan, sekaligus tetap rendah hati.

More membuat manusia dapat menjelajai seluruh sudut bumi di saat tarikan napas dan denyutan jantung masih berfungsi, bukti telah tersurat dalam bab-takdir bahwa more sangat halus tapi juga rapuh. Dalam pandangan Islam, more (riihun) merupakan hamba dan tentara Allah sebagai bukti kemahabesaran-Nya. Allah mengutus more dengan tujuan memproduksi awan, menurunkan hujan, menyuburkan tanah, dan membantu penyerbukan tumbuhan. Peran pratagonis Coka Iba mengajarkan local people Gamrange harus memperlakukam alam secara arif, harmonis, dan penuh rasa hormat tanpa mengeluh.

Masyarakat menjadikan arah more (musim barat, dan musim timur) sebagai roadmap untuk aktifitas melaut atau bertani, ini sebagai tanda syukur yang berakar pada keyakinan bahwa alam digerakkan oleh sang penguasa semesta. Islam melarang menolak atau murka pada more, karena dia diciptkan untuk menjalankan perintah Allah, bahkan ummat Islam diperintahkan selalu berdoa memohon kebaikannya. Etika lingkungan, kearifan lokal Gamrange mengajarkan kita untuk tidak merusak alam, hal ini sesuai dengan pesan ayat-ayat muhkamat menjaga keseimbangan ekosistem bumi (mizan).

Pelepah Sagu/Gome, bagian-bagian kecil pelepah pohon sagu digunakan membuat topeng Coka Iba, merepresentasikan unsur woye : Woye adalah material yang membuat kehidupan terjadi di Bumi. Sifat woye selalu mengalir dari tempat yang tinggi menuju ke tempat rendah, dari hulu menuju hilir. Mengandung pesan, masyarakat Gamrange memiliki mental juang untuk menghadapi segala tantangan, serta mampu menemukan jalan keluar/pulang di saat tersesat.

Memiliki sifat yang fleksibel dan mampu beraklimatisasi di berbagai lingkungan dan situasi. Pesan nilai bagi hidup manusia mencakup sifat rendah hati, ketekunan yang sabar, serta kemampuan beradaptasi tinggi.

Dalam pandangan Islam, woye merupakan sumber kehidupan yang dititipkan Allah SWT untuk menghidupi semua mahluk.

Sebagai khalifah fil ardh wajib disyukuri dan dijaga keberlanjutannya. Jika disandarkan dengan kearifan lokal masyarakat Gamrange (seperti pamali bagi yang merusak atau mengotori sungai; menjaga habitat pepohonan di hulu sungai, mata air, pepohonan, pesisir pantai dan laut dari kerusakan di muka bumi (fasad). Islam menilainya secara positif sebagai norma al-‘adah al-muhakkamah (kebiasaan yang baik dapat dijadikan aturan yang mengikat) dalam menjaga eksistensi alam.

Menggunakan woye secara berlebihan (boros) walaupun di saat berwudhu sangat dilarang dalam Islam. Konsep eco-theology: merupakan integrasi budaya (Al-'adah): yang melindungi kelestarian mawaridu tabiyyah khususnya woye, keadilan distribusi, dan ta‘awun (tolong-menolong) merupakan nafas syariah Islam.

Becek/Pece (Tanah): Symbol asal-usul manusia, sumber kehidupan, Ibu Pertiwi (Mother Earth). Di isi perut tanah Gamrange, tersimpan sumberdaya kehidupan yang berlimpah, menghidupi pelbagai suku manusia. Namun bukan hanya sebagai objek ekonomi, tetapi satuan hidup yang suci. Pembentuk identitas yang tenang, serta simbol kerendahan hati.

Pembentuk bangun manusia, dan tempat kembalinya raga. Memiliki hubungan spiritual dengan sang kuasa langit dan leluhur. Betbet dapat dieksploitasi dengan mengutamakan keseimbangan ekologis, secara terbatas untuk mengisi kebutuhan hidup dan harus memperhatikan kulo/daya dukung (carrying capacity) dan lofa/daya pulih (recovery capacity).

Betbete adalah madrasah kehidupan yang mengajarkan kesadaran bahwa manusia tidak memiliki kesombongan awal. Dia bersifat kokoh, tabah, dan istikamah dalam menopang kehidupan di atasnya. Dalam perspektif Islam, betbete adalah anugerah Allah SWT yang pada prinsipnya menjadi mutlak kepunyaanNya, sementara manusia sebagai khalifah fil ardh (munazzim/pengelola) dilimpahkan hak mengelola dan memanfaatkannya (haqqu al-tamlik dan manfaah) secara adil dan berkelanjutan (adl wal mustadam).

Jika dikaitkan dengan kearifan lokal masyarakat Gamrange, kaidah syariat ini berkohesi secara harmonis lewat etika lingkungan dan penghormatan terhadap budaya setempat (Sagu, Sampan, Sasi, dan Ngase) yang menjaga kelestarian alam. Ngase, wujud relasi timbal balik antara pengelola dan pemilik sumberdaya; Sasi, adalah etika konservasi sumberdaya alam; Sampan, adalah sarana penghubung pelestarian ekosistem sagu bagi kesejahteraan local people.

fenomena krisis lingkungan di bumi Gamrange dewasa ini akibat eksploitasi ekosistem lingkungan secara ganas dan brutal (malignant dan barbarous). Tindakan yang demikian tidak lepas dari prilaku homo economicus yang menyimpang dari ajaran local wisdom, akibatnya muncul berbagai marabahaya. Manusia telah lepas kendali, krisis etika dan deplesi moral sebagai master perawat bumi/wali planet biosfer. Saatnya dibutuhkan keberpihakan yang Gogoru agar dapat menihilkan pemujaan pada “nafs ammarah’ yang berkaitan dengan ritus-ritus perbudakan, perusakan, penghancuran, dan “perkosaan” terhadap ekosistem biosfer.

Keberpihakan yang Gogoru tidak berarti manusia menihilkan secara total pengaruh dunia materi, nafsu hayati, dan syahwat kuasa. Namun manusia mesti menjadi master semua kehidupan, agar terhindar dari jebakan lembah “Summa radhatnahu asfalashafilin”.

Coka Iba hadir sebagai simbol pejuang keseimbangan lingkungan, wujud tanggungjawab realita ekologi dan penghormatan terhadap ekosistem biosfer.

Sosok bertopeng dengan penampilan berkesan antagonis berkeliling menjelajahi kampung, bukan mau mengarahkan cambuk dan anak-panahnya pada lapisan grassrooth, melainkan warning tentang hadirnya the risk society yang selalu menimbulkan degradasi dan deplesi lingkungan. Tugasnya membasmi penyembah berhala homo economicus yang deskruktif terhadap lingkungan biosfer. Pesan suci, bahwa betbete, woye, luteng, re more adalah bonanza hidup dengan status subyek moral, bukan warisan yang dapat dieksploitasi secara brutal dan ganas untuk kepentingan pragmatis. Pesan nilai religius, sebagai wujud kecintaan dan syukur atas karunia Allah SWT terhadap kekayaan bumi Gamrange.

Nilai silaturahim, mempererat hubungan kekeluargaan Mobon, Poton, re Were. Nilai gotong royong, kebersamaan masyarakat dalam hal adanya environmental awareness menjaga kelestarian alam. Nilai pemersatu: menjadi identitas kultural yang memperkuat rasa kekerabatan di bumi Gamrange.

Semoga kita dapat meneladani jejak junjungan Nabi SAW; bahwa Aku diutus untuk menyempurnakan etika manusia, bukan membawa laknat, bukan perbuatan keji, dan bukan pula untuk kemungkaran (Hadist). Innaddunya khulwaton khadiraton innallaha mustahlifukum fiyha fayandzuru kayfa ta’malun (dunia ini indah dan hijau, dan sesungguhnya Allah akan menempatkan kalian sebagai wakil-wakilnya didalamnya untuk melihat bagaimana kalian bertindak (Sahih Muslim).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....