Dari Negeri Rempah menuju Pusat Ekonomi Baru

  • 17 Agt 2026 04:48 WIB
  •  Ternate

Refleksi Maluku Utara di HUT ke-81 Republik Indonesia

Oleh: Ir. H. Agusti Talib, ST.

Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Maluku Utara berada pada momentum yang menentukan. Daerah yang dahulu dikenal dunia sebagai pusat perdagangan rempah-rempah, kini tumbuh menjadi salah satu pusat ekonomi baru di kawasan Indonesia Timur.

Sejarah mencatat bahwa cengkih dan pala dari Kepulauan Maluku pernah menggerakkan perdagangan dunia. Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo bukan sekadar kerajaan lokal, melainkan pusat kekuasaan politik dan ekonomi yang memiliki hubungan hingga ke berbagai kawasan dunia. Warisan besar tersebut semestinya menjadi fondasi bagi Maluku Utara untuk kembali memainkan peran strategis dalam perekonomian nasional.

Hari ini, peluang tersebut hadir melalui berbagai sektor, mulai dari pertambangan, industri pengolahan, perikanan, pertanian, pariwisata, perdagangan, hingga ekonomi kreatif. Pertanyaannya bukan lagi apakah Maluku Utara mampu tumbuh, melainkan bagaimana pertumbuhan tersebut dapat dirasakan secara adil oleh seluruh masyarakat.

Pertumbuhan Tinggi dan Tantangan Pemerataan

Maluku Utara kini menjadi salah satu daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data BPS, perekonomian Maluku Utara sepanjang 2025 tumbuh sebesar 34,17 persen. Pada triwulan I 2026, ekonomi daerah ini kembali tumbuh sebesar 19,64 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Industri pengolahan menjadi salah satu penggerak utamanya.

Angka tersebut tentu membanggakan. Kehadiran investasi dan industri pengolahan mineral telah mengubah wajah perekonomian Maluku Utara, terutama di Halmahera Tengah, Halmahera Timur, Halmahera Selatan, dan Kepulauan Taliabu. Lapangan kerja bertambah, aktivitas perdagangan berkembang, kebutuhan perumahan meningkat, dan berbagai usaha pendukung mulai tumbuh.

Namun, pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum otomatis menghadirkan pemerataan. Di tengah ekspansi industri, masih terdapat masyarakat yang menghadapi keterbatasan akses terhadap pekerjaan berkualitas, pendidikan, pelayanan kesehatan, air bersih, perumahan layak, dan infrastruktur dasar.

Karena itu, keberhasilan pembangunan tidak boleh hanya dinilai dari besarnya investasi, nilai ekspor, atau pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto. Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah meningkatnya pendapatan masyarakat, berkurangnya kesenjangan, terbukanya kesempatan kerja bagi tenaga lokal, serta bertumbuhnya pengusaha daerah.

Jangan Hanya Menjadi Penonton

Kehadiran industri besar harus menjadi jembatan bagi lahirnya kekuatan ekonomi masyarakat Maluku Utara. Pengusaha lokal, koperasi, dan UMKM perlu memperoleh ruang dalam rantai pasok industri, mulai dari konstruksi, transportasi, penyediaan pangan, perumahan, jasa, hingga kebutuhan operasional perusahaan.

Tenaga kerja lokal juga harus dipersiapkan melalui pendidikan vokasi, pelatihan, sertifikasi, serta kerja sama antara pemerintah, dunia pendidikan, KADIN, asosiasi usaha, dan perusahaan industri. Jangan sampai pembangunan berlangsung di tanah Maluku Utara, tetapi masyarakatnya hanya menjadi penonton.

Kekayaan sumber daya alam harus diubah menjadi kekuatan sumber daya manusia. Nikel dan hasil tambang pada akhirnya akan berkurang, tetapi pendidikan, keterampilan, kewirausahaan, dan kelembagaan ekonomi yang kuat dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Membangun Ekonomi di Luar Pertambangan

Ketergantungan yang terlalu besar terhadap pertambangan menyimpan risiko. Fluktuasi harga komoditas, perubahan kebijakan global, perkembangan teknologi, dan tekanan lingkungan dapat memengaruhi keberlanjutan ekonomi daerah.

Maluku Utara membutuhkan diversifikasi ekonomi. Sektor perikanan dan kelautan harus dikembangkan melalui industri pengolahan dan rantai dingin. Pertanian serta perkebunan rempah perlu dihidupkan kembali dengan pendekatan modern dan berorientasi ekspor.

Ternate, Tidore, Morotai, Halmahera, Bacan, dan Kepulauan Sula juga memiliki potensi besar dalam pariwisata sejarah, bahari, budaya, dan kuliner. Konektivitas antarpulau, fasilitas pelabuhan, penerbangan, energi, air bersih, serta infrastruktur digital harus menjadi prioritas.

Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi tidak hanya terkonsentrasi di kawasan industri, tetapi dapat menyebar ke seluruh kabupaten dan kota.

Politik Harus Menjadi Jalan Kesejahteraan

Selain transformasi ekonomi, Maluku Utara membutuhkan kematangan politik. Politik seharusnya tidak berhenti pada perebutan kekuasaan, pembagian jabatan, atau pertentangan antarkelompok. Politik harus menjadi instrumen untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat dan memastikan kekayaan daerah dikelola secara transparan.

Pemerintah daerah dan DPRD memiliki tanggung jawab besar untuk menyusun kebijakan yang berpihak kepada rakyat, mengawasi penggunaan anggaran, menjaga lingkungan, serta memastikan investasi menghormati hak-hak masyarakat.

Demokrasi yang sehat membutuhkan kritik, transparansi, partisipasi publik, dan penegakan hukum. Perbedaan pilihan politik tidak boleh memecah persaudaraan masyarakat Maluku Utara. Setelah kontestasi selesai, seluruh kekuatan politik harus kembali bekerja untuk kepentingan daerah.

Kemajuan ekonomi tanpa tata kelola yang baik dapat melahirkan kesenjangan. Sebaliknya, politik tanpa gagasan pembangunan hanya menghasilkan kompetisi kekuasaan yang tidak memberikan manfaat bagi rakyat.

Makna Kemerdekaan bagi Maluku Utara

Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka harus menjadi momentum untuk menafsirkan kembali arti kemerdekaan di tingkat daerah. Kemerdekaan bukan hanya terbebas dari penjajahan, tetapi juga terbebas dari kemiskinan, pengangguran, keterisolasian, ketimpangan, dan ketidakadilan.

Maluku Utara memiliki modal sejarah, sumber daya alam, posisi geografis, serta kekayaan budaya yang luar biasa. Semua modal tersebut harus dikelola melalui kepemimpinan yang visioner, pemerintahan yang bersih, dunia usaha yang kuat, dan masyarakat yang terlibat aktif.

Kini saatnya Maluku Utara bergerak dari daerah penghasil bahan mentah menjadi pusat industri, perdagangan, jasa, pariwisata, dan ekonomi maritim. Dari negeri yang dahulu mengharumkan dunia melalui rempah-rempah, Maluku Utara harus bangkit menjadi pusat ekonomi baru yang maju, mandiri, berkeadilan, dan berkelanjutan.

Semangat HUT ke-81 Republik Indonesia hendaknya menjadi energi untuk menyatukan langkah. Pertumbuhan harus menghadirkan pemerataan, investasi harus melahirkan kesejahteraan, dan politik harus kembali kepada tujuan utamanya: mengabdi kepada rakyat.

Dirgahayu ke-81 Republik Indonesia.

Dari Maluku Utara, kita menjaga sejarah, membangun hari ini, dan menyiapkan masa depan Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....