Menyusuri Jejak Nikel PT IWIP di Halmahera Tengah
- 04 Feb 2026 20:46 WIB
- Ternate
RRI.CO.ID, Lelilef – PAGI itu di Desa Lelilef, Kecamatan Weda, Halmahera Tengah, Selasa, 3 Februari 2026, terasa berbeda bagi Tim RRI Ternate. Hari itu menjadi hari kedua rombongan berada di kawasan industri PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), setelah tiba sehari sebelumnya.
Enam orang tim liputan yang dipimpin Kepala RRI Ternate, Agus Rusmin Nuryadin, bersiap menelusuri lebih dalam denyut industri nikel yang selama ini ramaiterdengar, namun jarang disaksikan dari dekat. Menjejakkan kaki di kawasan industri hilirisasi nikel ini menjadi pengalaman pertama bagi sebagian besar tim.
IWIP bukan sekadar kawasan industri, melainkan sebuah lanskap raksasa yang berdiri di jantung Maluku Utara. Di sinilah salah satu pusat industri terbesar di Indonesia tumbuh dan berkembang.
Kesan pertama langsung menyergap. Megah dan lengkap.

Deretan fasilitas berdiri rapi dan modern, area produksi, mess dan apartemen karyawan, pusat olahraga, tempat ibadah, pusat perbelanjaan karyawan, hingga guest house dan hotel. Bahkan tersedia area rekreasi. Kawasan ini terasa seperti sebuah kota besar yang hidup di tengah desa bernama Lelilef.
Di balik agenda liputan di Halmahera Tengah, kunjungan Tim RRI Ternate ke IWIP juga menjadi bagian dari upaya memperkuat komitmen kerja sama dengan Departemen Komunikasi perusahaan. Setelah pertemuan resmi pada Selasa pagi, perjalanan berlanjut siang harinya.
Tim Departemen Komunikasi PT IWIP yang dipimpin Deputi Manager, Fadlan Muzakki, mengajak rombongan RRI menyusuri jejak panjang nikel. Jejak panjang nikel ini tersembunyi di exhibition room yang berada di Thingshan Hotel, salah satu fasilitas milik IWIP.
Begitu melangkah masuk ke ruang pameran, suasana seolah membawa pengunjung mundur dan maju dalam satu waktu. Di sinilah kisah industri nikel Halmahera Tengah dituturkan. Kepala RRI Ternate bersama tim diajak melihat bagaimana kawasan ini tumbuh, berproses, dan menjelma dari waktu ke waktu.
Beragam dokumentasi visual tersaji rapi, menceritakan transformasi IWIP sejak masih bernama Weda Bay Nickel (WBN). Hingga berkembang menjadi kawasan industri nikel terpadu yang kini dikenal luas, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di panggung global.

Pameran ini tak hanya menampilkan foto dan panel informasi. Material asli industri nikel turut dihadirkan, mulai dari tanah dan bijih nikel (nickel ore) yang diambil langsung dari area tambang. Hingga produk akhir berupa electrolytic nickel, komoditas bernilai tinggi yang menopang industri modern.
Setiap sudut ruang pameran menyimpan cerita tentang proses panjang pengolahan nikel. Dari bahan mentah hingga menjadi produk bernilai tambah, rangkaian ini menggambarkan upaya hilirisasi yang konsisten dikembangkan IWIP, sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam meningkatkan nilai ekonomi sumber daya alam.
Perjalanan nikel itu bermula dari lateritic nickel ore, bijih hasil pelapukan batuan di wilayah tropis. Dari sinilah proses industri dimulai.
Bijih tersebut kemudian diolah menjadi ferro nickel, produk setengah jadi yang banyak digunakan dalam industri baja tahan karat.
Tahap berikutnya melahirkan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), bahan antara yang menjadi penghubung menuju produk bernilai lebih tinggi. Proses berlanjut ke nickel sulphate, komponen penting dalam industri baterai kendaraan listrik. Hingga akhirnya, IWIP menghasilkan electrolytic nickel dengan tingkat kemurnian tinggi, yang digunakan dalam berbagai industri teknologi.

Rantai proses itu belum berakhir. Pada tahap lanjutan, nikel diolah menjadi ternary precursor, material strategis yang menjadi bahan utama pembuatan katoda baterai.
Di titik inilah terlihat jelas bahwa nikel Indonesia tak lagi berhenti sebagai bahan mentah. Melainkan telah masuk ke rantai industri global berteknologi tinggi.
Kepala RRI Ternate, Agus Rusmin Nuryadin, tak menyembunyikan kekagumannya. “Luar biasa, perusahaan membikin dokumentasi visual bagaimana awal mula perusahaan ini mulai berproduksi sejak tahun 2018 hingga sekarang,” ujarnya.

Kesan serupa juga disampaikan Dessy Haryanti, salah satu dari enam tim liputan RRI Ternate. Baginya, exhibition room ini bukan sekadar ruang pamer, melainkan cermin perjalanan industri yang terencana.
“Kami sangat terkesan dengan bagaimana perjalanan nikel ditampilkan. Dengan hasil produksinya yang besar, IWIP juga memperhatikan aspek lingkungan yang berkelanjutan, khususnya di wilayah Halmahera Tengah,” kata Dessy.
Melalui ruang pameran ini, IWIP menegaskan komitmennya membangun industri nikel terintegrasi dari hulu hingga hilir. Dari tanah laterit hingga material berteknologi tinggi, nikel Indonesia kini melangkah jauh, mengambil peran penting dalam menopang industri masa depan dunia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....