Prof Ridwan Nurdin: Pendidikan Anak Dimulai dari Keluarga
- 04 Okt 2026 09:58 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon: Pendidikan generasi muda tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi dimulai dari keluarga dan diperkuat oleh lingkungan masyarakat. Peran tersebut dinilai semakin penting di tengah perubahan zaman dan perkembangan teknologi yang memengaruhi pola kehidupan anak-anak.
Hal itu disampaikan Prof. Dr. Ridwan Nurdin, M.CL dalam ceramah Subuh di Masjid Agung Ruhama Takengon, Minggu 4 Oktober 2026. Ceramah tersebut disiarkan secara langsung melalui PRO 1 RRI Takengon.
Prof. Ridwan mengatakan, terdapat tiga lingkungan utama yang memiliki peran dalam pendidikan anak, yakni keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat.
Menurutnya, keluarga merupakan tempat pertama bagi anak untuk belajar tentang tanggung jawab, kedisiplinan, kepedulian, dan adab.
Ia mencontohkan kebiasaan generasi terdahulu yang selalu meminta izin kepada orang tua ketika hendak bepergian. Orang tua juga mengetahui keberadaan anak serta memberikan perhatian ketika anak pulang tidak sesuai waktu yang telah disepakati.
“Orang tua kita tahu. Kalau telat, ditanya. Ada perhatian dari orang tua itu di keluarga,” ujar Prof. Ridwan.
Kebiasaan sederhana seperti makan bersama keluarga, menghormati orang tua, serta memahami posisi dan adab ketika berada di meja makan, menurutnya, merupakan bagian dari pendidikan karakter yang tidak boleh dianggap sepele.
Prof. Ridwan mengingatkan, ketika nilai-nilai tersebut mulai hilang dari keluarga, orientasi generasi muda juga berpotensi mengalami perubahan.
“Kalau dalam keluarga hal-hal ini sudah hilang, maka orientasi generasi muda kita ke depan akan bergeser,” katanya.
Ia bahkan mengingatkan bahwa melemahnya fungsi keluarga dapat menjadi awal munculnya sikap individualistis dalam masyarakat.
Menurutnya, ketika nilai-nilai penting dalam keluarga tidak lagi dianggap perlu, generasi yang tumbuh kemudian dapat menjadi semakin cuek terhadap lingkungan dan kehilangan adab dalam berinteraksi.
Selain keluarga, Prof. Ridwan menilai sekolah memiliki peran penting dalam pembentukan karakter dan kemampuan anak. Guru dan kepala sekolah memiliki aturan serta pedoman yang menjadi bagian dari proses pendidikan.
Namun, pendidikan tidak berhenti di sekolah.
Lingkungan masyarakat juga harus mengambil bagian. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak bersikap masa bodoh terhadap perkembangan anak-anak di sekitarnya.
“Tidak mungkin lingkungan itu kita biarkan menjadi tontonan. Tidakkah ada tuntunan dari kita kepada mereka?” ujarnya.
Menurut Prof. Ridwan, sikap saling melepaskan tanggung jawab dapat membawa persoalan bagi masa depan.
Jika keluarga, sekolah, dan masyarakat tidak lagi memberikan perhatian yang memadai, ia khawatir akan lahir generasi yang tidak peduli, kehilangan adab, dan bahkan tidak menghormati generasi sebelumnya.
Perubahan karakter generasi muda juga menjadi perhatian Prof. Ridwan. Berdasarkan pengalamannya mengajar sejak 1990-an, ia melihat adanya perbedaan karakter anak dari satu dekade ke dekade berikutnya.
Menurutnya, perubahan tersebut tidak terlepas dari perubahan kehidupan keluarga dan perkembangan teknologi.
Karena itu, ia mengajak para orang tua untuk mengajukan pertanyaan mendasar mengenai posisi teknologi dalam kehidupan keluarga.
“Apakah teknologi kita yang mengontrol atau teknologi yang mengarahkan kita?” katanya.
Prof. Ridwan menegaskan, perkembangan teknologi seharusnya tidak membuat orang tua merasa bahwa pendidikan anak dapat diserahkan begitu saja kepada perangkat teknologi.
Sebaliknya, semakin besar perubahan zaman, semakin besar pula kebutuhan terhadap perhatian, pendampingan, dan keteladanan orang tua.
Ia mengajak masyarakat Aceh Tengah membangun kembali perhatian terhadap pendidikan keluarga agar generasi mendatang tumbuh tidak hanya dengan kemampuan akademik, tetapi juga memiliki adab, kepedulian, dan tanggung jawab sosial.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....