Muharram Momentum Muhasabah dan Memperbaiki Kualitas Kehidupan

  • 09 Jul 2026 06:00 WIB
  •  Takengon
Poin Utama
  • Bulan Muharram hendaknya dimaknai sebagai momentum untuk bermuhasabah, memperbaiki diri, memperkuat keimanan, dan membangun kehidupan keluarga yang lebih baik.
  • Kisah-kisah besar dalam bulan Muharram seperti tobat Nabi Adam AS, keteguhan Nabi Ibrahim AS, dan keselamatan Nabi Musa AS menjadi sumber pelajaran hidup bagi umat Islam.
  • Makna hijrah tidak hanya berpindah tempat tetapi juga hijrah secara maknawi melalui perubahan menuju akhlak yang lebih baik, menjaga kebersihan, menumbuhkan rasa malu, dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama.

RRI.CO.ID, Takengon – Bulan Muharram hendaknya tidak hanya dimaknai sebagai awal tahun baru Islam, tetapi juga menjadi momentum untuk bermuhasabah, memperbaiki diri, memperkuat keimanan, serta membangun kehidupan keluarga yang lebih baik. Hal tersebut disampaikan Tgk. Prof. Dr. Zulkarnain, MA dalam ceramah Subuh di Masjid Agung Ruhama Takengon yang turut disiarkan melalui RRI Takengon, Selasa, 7 Juli 2026.

Dalam tausiyahnya, Tgk. Prof. Dr. Zulkarnain mengajak umat Islam untuk merenungkan berbagai peristiwa besar yang terjadi pada bulan Muharram sebagai sumber pelajaran hidup. Ia mengawali dengan kisah diterimanya tobat Nabi Adam AS setelah memohon ampun kepada Allah SWT.

Menurutnya, kisah tersebut mengajarkan bahwa setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Namun, sebaik-baik manusia adalah mereka yang segera menyadari kekeliruannya, bertobat, dan kembali kepada Allah SWT. Karena itu, Muharram menjadi kesempatan terbaik untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadah.

Selain itu, ia juga mengulas kisah Nabi Nuh AS yang menghadapi banjir besar sebagai pelajaran tentang pentingnya menjaga keutuhan keluarga dan membimbing generasi muda. Di tengah perkembangan teknologi saat ini, orang tua diingatkan agar tidak lengah dalam mendampingi anak-anak yang semakin akrab dengan gawai dan lingkungan pergaulannya.

Tgk. Prof. Dr. Zulkarnain juga menyinggung keteguhan Nabi Ibrahim AS dalam mempertahankan tauhid meskipun harus menghadapi ancaman dibakar hidup-hidup oleh Raja Namrud. Atas pertolongan Allah SWT, api yang membara berubah menjadi dingin sehingga Nabi Ibrahim AS selamat.

Peristiwa lain yang menjadi pelajaran pada bulan Muharram adalah kisah Nabi Musa AS yang berhasil menyelamatkan Bani Israil dari kejaran Fir'aun. Kesombongan dan kezaliman Fir'aun akhirnya berakhir dengan kebinasaan ketika ditenggelamkan di Laut Merah. Peristiwa yang diyakini terjadi pada 10 Muharram tersebut menjadi salah satu dasar dianjurkannya puasa Asyura bagi umat Islam.

Lebih lanjut, Tgk. Prof. Dr. Zulkarnain menjelaskan bahwa makna hijrah tidak hanya berpindah tempat sebagaimana hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah, tetapi juga hijrah secara maknawi, yakni perubahan menuju akhlak yang lebih baik. Hijrah diwujudkan melalui kebiasaan menjaga kebersihan, menumbuhkan rasa malu untuk berbuat maksiat, memperbaiki sikap, serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama.

Mengakhiri ceramahnya, Tgk. Prof. Dr. Zulkarnain, MA mengajak umat Islam menjadikan Muharram sebagai awal perubahan menuju pribadi yang lebih bertakwa, lebih sabar, dan lebih bersyukur. Ia berharap setiap muslim terus melakukan evaluasi diri agar kualitas iman, ibadah, dan akhlak semakin baik dari waktu ke waktu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....