Aspirin Berpotensi Turunkan Risiko Kanker, Ini Penelitiannya

  • 06 Mei 2026 14:07 WIB
  •  Takengon

RRI.CO.ID, Takengon : Obat yang selama ini dikenal sebagai pereda nyeri, aspirin, kini mendapat perhatian luas dari kalangan medis. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa obat ini berpotensi membantu menurunkan risiko kanker, khususnya pada individu dengan faktor risiko tertentu.

Penelitian yang dipimpin John Burn dari Newcastle University menjadi salah satu rujukan utama. Dalam uji klinis terhadap ratusan pasien dengan Lynch Syndrome, ditemukan bahwa konsumsi aspirin secara rutin selama beberapa tahun mampu menurunkan risiko kanker kolorektal hingga sekitar 50 persen. Studi ini dipantau dalam jangka panjang hingga satu dekade.

Temuan tersebut diperkuat oleh publikasi dalam jurnal ilmiah The Lancet yang menyebutkan bahwa penggunaan aspirin jangka panjang berkaitan dengan penurunan kejadian kanker usus, terutama pada kelompok dengan risiko genetik tinggi.

Kajian lanjutan dari University of Oxford menunjukkan bahwa aspirin tidak hanya menekan kemungkinan munculnya kanker, tetapi juga dapat mengurangi risiko penyebaran sel kanker ke organ lain atau metastasis.

Sementara itu, penelitian dari Karolinska Institute di Swedia menemukan bahwa pasien kanker usus yang mengonsumsi aspirin setelah operasi memiliki risiko kekambuhan yang lebih rendah dibandingkan pasien yang tidak mengonsumsinya.

Temuan-temuan tersebut mulai memengaruhi kebijakan kesehatan di sejumlah negara. National Health Service, misalnya, telah memasukkan aspirin dosis rendah sebagai salah satu rekomendasi bagi kelompok berisiko tinggi, dengan catatan penggunaan harus berada di bawah pengawasan dokter.

Para peneliti menjelaskan bahwa aspirin bekerja dengan menghambat enzim tertentu yang berperan dalam proses peradangan dan pertumbuhan sel abnormal. Peradangan kronis sendiri diketahui menjadi salah satu faktor pemicu perkembangan kanker.

Selain itu, penelitian dari University of Cambridge mengungkap bahwa aspirin dapat membantu sistem kekebalan tubuh dalam mengenali dan melawan sel kanker. Obat ini juga memiliki efek mengencerkan darah, yang diduga berperan dalam mencegah penyebaran sel kanker melalui aliran darah.

Meski hasil penelitian menunjukkan potensi besar, para ahli menilai pembuktian manfaat aspirin pada populasi umum masih menjadi tantangan. Hal ini karena kanker berkembang dalam waktu lama, sehingga penelitian jangka panjang membutuhkan biaya besar dan waktu yang tidak singkat. Untuk itu, sebagian besar penelitian saat ini difokuskan pada kelompok berisiko tinggi, seperti pasien dengan riwayat kanker atau kelainan genetik.

Di balik manfaatnya, penggunaan aspirin juga memiliki risiko. Konsumsi jangka panjang dapat menyebabkan gangguan lambung, perdarahan, hingga komplikasi serius seperti perdarahan otak.

Karena itu, para ahli menegaskan bahwa aspirin tidak boleh dikonsumsi secara sembarangan sebagai upaya pencegahan kanker. Penggunaan harus berdasarkan rekomendasi tenaga medis dan mempertimbangkan kondisi kesehatan masing-masing individu.

Penelitian mengenai aspirin memberikan harapan baru dalam dunia kesehatan, khususnya dalam upaya pencegahan kanker. Meski belum menjadi solusi universal, obat ini berpotensi menjadi bagian dari strategi pencegahan bagi kelompok tertentu.

Dengan dukungan riset yang terus berkembang, aspirin diharapkan dapat dimanfaatkan secara lebih tepat dan aman, sehingga memberikan manfaat optimal bagi kesehatan masyarakat di masa mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....