Dokter Jantung Ingatkan Bahaya Konsumsi Lemak Tinggi
- 10 Feb 2026 09:09 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon : Sejumlah dokter spesialis jantung menyuarakan kekhawatiran atas dorongan MAHA yang mengajak masyarakat meningkatkan konsumsi lemak, termasuk lemak hewani. Para ahli menilai rekomendasi tersebut berpotensi menyesatkan dan bertentangan dengan bukti ilmiah yang selama ini menjadi dasar pencegahan penyakit kardiovaskular.
Penyakit jantung hingga kini masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Faktor risikonya sudah lama diketahui, mulai dari kebiasaan merokok, kurang aktivitas fisik, tekanan darah tinggi, kolesterol tidak terkontrol, hingga diabetes. Pola makan juga memegang peranan penting dalam memperbesar maupun menekan risiko tersebut.
Dalam pandangan para ahli, dorongan untuk meningkatkan asupan lemak—terutama lemak jenuh dari daging merah dan produk hewani—perlu disikapi dengan sangat hati-hati. Mereka menilai pendekatan ini berlawanan dengan rekomendasi kesehatan yang selama puluhan tahun menekankan pembatasan lemak jenuh demi menjaga kesehatan jantung.
Beberapa pakar menilai pedoman makan terbaru yang mendorong konsumsi lemak lebih tinggi berisiko disalahartikan oleh publik. Masyarakat bisa menganggap bahwa makanan tinggi lemak hewani aman dikonsumsi dalam jumlah besar, padahal bukti ilmiah menunjukkan sebaliknya.
Menurut Dr. Kim Williams, Ketua Departemen Kedokteran di University of Louisville, strategi itu seperti “membalik piramida makanan”—promosi lemak jenuh dan konsumsi protein tinggi justru melawan bukti ilmiah gizi modern. “Kami telah meneliti ini puluhan tahun, dan kita tahu lemak jenuh—seperti mentega, lemak hewani, daging merah dan olahan—berkaitan erat dengan meningkatnya kematian akibat penyakit kardiovaskular,” ujarnya dilansir dari newspressnow.com
Ahli jantung menyebut berbagai penelitian jangka panjang telah membuktikan hubungan antara konsumsi lemak jenuh dengan meningkatnya risiko penyakit jantung dan kematian akibat gangguan kardiovaskular. Lemak jenis ini banyak ditemukan dalam mentega, daging merah, daging olahan, serta produk susu tinggi lemak.
Dr. Monica Aggarwal, pakar penyakit kardiovaskular di University of Florida dikutip dari newspressnow.com, juga menyoroti bahaya salah tafsir pedoman baru yang membuat banyak orang berpikir bahwa “daging merah boleh dikonsumsi bebas”. Padahal menurutnya, hubungan antara lemak jenuh dan penyakit jantung sudah jelas dan tak terbantahkan.
Sebaliknya, mengganti lemak jenuh dengan lemak tak jenuh dari sumber nabati seperti kacang-kacangan, biji-bijian, minyak zaitun, serta ikan justru terbukti memberikan perlindungan bagi jantung. Beberapa studi bahkan menunjukkan penurunan risiko penyakit jantung yang signifikan ketika pola makan beralih ke lemak sehat.
Para pakar juga menyoroti narasi bahwa masyarakat kekurangan protein sehingga perlu meningkatkan konsumsi makanan berlemak tinggi. Menurut mereka, sebagian besar orang dewasa sebenarnya sudah memenuhi, bahkan melampaui, kebutuhan protein harian tanpa harus menambah asupan daging atau lemak hewani.
Kekhawatiran lain muncul terkait dampak jangka panjang terhadap anak-anak. Meski kebutuhan protein pada masa pertumbuhan memang penting, ahli jantung menilai fokus seharusnya tetap pada kualitas makanan secara keseluruhan, bukan sekadar peningkatan lemak atau protein hewani.
Di tengah perdebatan ini, para dokter jantung mengingatkan masyarakat agar tetap berpegang pada prinsip diet seimbang. Pola makan yang kaya sayuran, buah, biji-bijian utuh, serta sumber lemak sehat dinilai masih menjadi pendekatan paling aman untuk menjaga kesehatan jantung.
Para ahli Gizi berharap publik tidak langsung mengikuti tren diet yang tengah ramai dibicarakan tanpa memahami risiko medisnya. Edukasi berbasis bukti ilmiah dan konsultasi dengan tenaga kesehatan tetap menjadi kunci dalam menentukan pola makan yang aman dan berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....