Penglihatan Menurun? Bukan Selalu Faktor Usia, Ini Faktanya
- 09 Feb 2026 09:09 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon : Banyak orang menganggap penurunan penglihatan sebagai sesuatu yang tak terelakkan seiring bertambahnya usia. Padahal, para ahli menyebut sekitar 90 persen kasus gangguan penglihatan sebenarnya bisa dicegah atau ditangani jika terdeteksi sejak dini.
Mata kerap disebut sebagai “jendela dunia”, bahkan digambarkan sebagai pelita tubuh. Ketika mata sehat, hidup terasa terang. Sebaliknya, saat penglihatan terganggu, kualitas hidup pun ikut meredup. Sayangnya, banyak orang baru menyadari pentingnya kesehatan mata ketika fungsinya mulai menurun.
“Buta adalah salah satu disabilitas yang sangat menakutkan,” kata Prof Lauren Ayton, Wakil Direktur Centre for Eye Research Australia di University of Melbourne. “Tapi yang sering tidak disadari orang, sekitar 90 persen gangguan penglihatan bisa dicegah atau diobati.” ujarnya dilansir dari the guardian.com
Menurut Ayton, menjaga kesehatan mata pada dasarnya tak jauh berbeda dengan menjaga kesehatan tubuh secara umum. Pola makan seimbang, aktif bergerak, serta rutin memeriksakan mata menjadi kunci utama.
Ancaman Myopia pada Anak Makin Nyata
Masalah mata umumnya mulai terlihat jelas pada dua fase kehidupan. Yang pertama terjadi pada masa anak-anak dan remaja, dengan meningkatnya kasus myopia atau rabun jauh. Saat ini, sekitar satu dari tiga anak usia sekolah di dunia mengalami rabun jauh, dan angkanya terus meningkat.
Meski sering dikaitkan dengan penggunaan gadget, para ahli menegaskan bahwa layar bukan penyebab langsung myopia. Prof Allison McKendrick dari Lions Eye Institute UWA di Perth menyebut bukti bahwa layar secara langsung merusak mata masih tergolong lemah.
“Masalahnya bukan layar itu sendiri, tapi karena waktu di depan layar menggantikan aktivitas lain yang sebenarnya baik untuk kesehatan mata,” ujarnya dilansir dari theguardian.com
Salah satu aktivitas penting tersebut adalah bermain di luar ruangan. Dr Flora Hui, peneliti klinis di Centre for Eye Resrch Australia, menjelaskan bahwa paparan cahaya matahari berperan penting dalam perkembangan mata anak.
Istilah green time merujuk pada aktivitas di luar ruangan yang melibatkan alam, seperti berjalan di taman, melihat pepohonan, atau sekadar menikmati pemandangan hijau. Aktivitas ini disebut-sebut efektif membantu mata beristirahat dari paparan layar digital yang berlebihan.
“Sinar matahari diduga memicu pelepasan dopamin yang penting untuk pertumbuhan mata,” ujar Hui dilansir dari the guardian.com. Selain itu, aktivitas luar ruangan membuat mata terbiasa melihat objek jarak jauh, yang membantu perkembangan penglihatan.
Hui pun menekankan prinsip “green time over screen time”. Mengajak anak bermain di luar rumah selama satu hingga dua jam per hari terbukti dapat memperlambat perkembangan rabun jauh.
Penurunan Penglihatan Usia 40-an Tak Terhindarkan
Bagi mereka yang lolos dari rabun jauh di usia muda, gangguan penglihatan biasanya mulai terasa saat memasuki usia 40-an. Gejalanya klasik: harus menjauhkan buku atau menu restoran agar bisa terbaca.
Kondisi ini dikenal sebagai presbiopia, gangguan penglihatan akibat penuaan yang bersifat alami dan tak bisa dicegah. “Kebutuhan akan kacamata baca sebanding dengan jumlah ulang tahun yang sudah dilewati,” ujar Ayton
Presbiopia terjadi karena lensa mata yang semula lentur menjadi semakin kaku, sehingga sulit memfokuskan pandangan pada objek dekat. Tak ada obat untuk kondisi ini, dan satu-satunya solusi adalah menggunakan kacamata baca. Namun, Ayton menegaskan kacamata tidak membuat mata menjadi lemah.
“Kacamata tidak memperburuk mata. Perubahan resep setiap beberapa tahun adalah proses alami penuaan,” jelasnya.
| Baca juga: Kapan Waktu Tepat Mengganti Sikat Gigi? |
Selain presbiopia, katarak juga umum terjadi seiring bertambahnya usia. Lensa mata menjadi keruh sehingga penglihatan tampak berkabut. Meski tak bisa dicegah, katarak dapat diatasi melalui operasi penggantian lensa.
Deteksi Dini Jadi Kunci
Ada dua penyakit mata terkait usia yang bisa dicegah atau diperlambat perkembangannya, yakni glaukoma dan degenerasi makula terkait usia. Keduanya berbahaya karena pada tahap awal sering kali tidak menunjukkan gejala.
“Penyakit mata seperti glaukoma dan degenerasi makula bisa berkembang diam-diam selama bertahun-tahun,” ujar McKendrick. Saat gejala muncul dan pasien datang ke dokter, kerusakan penglihatan sering kali sudah permanen.
Karena itu, pemeriksaan mata rutin menjadi langkah paling penting, terutama bagi mereka yang memasuki usia 40 tahun ke atas.
Tiga Kunci Mata Sehat
Prof Ayton merangkum cara menjaga kesehatan mata lewat konsep “tiga O”: off screens (mengurangi layar), outdoors (banyak aktivitas di luar ruangan), dan optometrist (rutin periksa mata).
“Untuk pemeriksaan umum, orang di bawah 60 tahun sebaiknya memeriksakan mata setiap dua hingga tiga tahun. Setelah usia 60, pemeriksaan perlu dilakukan lebih sering karena risiko penyakit mata meningkat,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....