Begadang Ancam Kesehatan Jantung di Usia Produktif

  • 21 Jun 2026 07:25 WIB
  •  Takengon

RRI.CO.ID, Takengon : Begadang sering dianggap sebagai kebiasaan yang lumrah, terutama bagi pekerja, mahasiswa, maupun mereka yang gemar menikmati hiburan hingga larut malam.

Padahal, kebiasaan tidur larut malam secara terus-menerus dapat membawa dampak serius bagi kesehatan, terutama setelah seseorang memasuki usia 30 tahun.

Memasuki usia tersebut, kemampuan tubuh untuk memulihkan diri mulai menurun. Kurang tidur tidak hanya menyebabkan rasa lelah keesokan harinya, tetapi juga meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, penyakit jantung, stroke, hingga gangguan metabolisme.

Kurang Tidur Membebani Kerja Jantung

Tidur merupakan waktu bagi tubuh untuk memperbaiki sel-sel yang rusak, menyeimbangkan hormon, serta menurunkan tekanan darah dan denyut jantung.

Menurut American Heart Association (AHA), orang dewasa membutuhkan waktu tidur sekitar 7–9 jam setiap malam untuk menjaga kesehatan jantung. Tidur kurang dari tujuh jam dalam jangka panjang berkaitan dengan meningkatnya risiko hipertensi, penyakit jantung koroner, gagal jantung, hingga stroke.

Sementara itu, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebut kurang tidur merupakan salah satu faktor risiko yang dapat memengaruhi kesehatan kardiovaskular bersama pola makan yang buruk, kurang aktivitas fisik, dan kebiasaan merokok.

Mengapa Risiko Meningkat Setelah Usia 30 Tahun?

Memasuki usia 30-an, metabolisme tubuh mulai melambat dan elastisitas pembuluh darah secara alami mulai berkurang. Pada fase ini, tubuh tidak lagi secepat saat usia muda dalam memulihkan diri setelah kurang tidur.

Mengutip dari penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Journal of the American College of Cardiology, kualitas tidur yang buruk berkaitan dengan peningkatan risiko aterosklerosis, yaitu penumpukan plak pada pembuluh darah yang menjadi penyebab utama penyakit jantung dan stroke.

Selain itu, penelitian dalam jurnal European Heart Journal menunjukkan bahwa orang yang secara rutin tidur kurang dari enam jam per malam memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit jantung dibanding mereka yang tidur selama tujuh hingga delapan jam.

Begadang Memicu Tekanan Darah Naik

Kurang tidur menyebabkan tubuh memproduksi lebih banyak hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Peningkatan hormon tersebut membuat jantung bekerja lebih keras, tekanan darah meningkat, dan pembuluh darah menjadi lebih tegang. Apabila kondisi ini terjadi terus-menerus, risiko hipertensi kronis dan penyakit jantung akan semakin besar.

Selain itu, begadang juga mengganggu ritme sirkadian atau jam biologis tubuh yang mengatur berbagai fungsi penting, termasuk metabolisme, tekanan darah, dan produksi hormon.

Memicu Berat Badan Berlebih

Begadang tidak hanya memengaruhi jantung secara langsung, tetapi juga meningkatkan risiko obesitas. Kurang tidur menyebabkan hormon ghrelin, yang memicu rasa lapar, meningkat. Sebaliknya, hormon leptin, yang memberi sinyal kenyang, justru menurun. Akibatnya, seseorang cenderung mengonsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak pada malam hari.

Menurut Harvard T.H. Chan School of Public Health, pola makan seperti ini dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit kardiovaskular.

Jantung Membutuhkan Waktu untuk Beristirahat

Selama tidur, denyut jantung dan tekanan darah akan menurun sehingga memberikan kesempatan bagi sistem kardiovaskular untuk beristirahat.

Mengutip dari National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI), tidur yang cukup membantu menjaga fungsi pembuluh darah, mengurangi peradangan, serta mempertahankan kesehatan jantung dalam jangka panjang.

Sebaliknya, kurang tidur secara kronis dapat meningkatkan proses inflamasi yang berkontribusi terhadap kerusakan pembuluh darah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....