Minyak Goreng Berbau Solar, Warga Gading Sragen Datangi Kantor Desa, Tukar Bantuan

  • 29 Jun 2026 20:48 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, SRAGEN – Puluhan warga Desa Gading, Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen, mendatangi kantor desa setempat pada Minggu (28/6/2026) pagi. Kedatangan mereka bertujuan untuk menukarkan bantuan minyak goreng (migor) merek Minyakita dari Bulog yang terindikasi berbau minyak tanah dan solar.

Berdasarkan pantauan di lokasi pada pukul 11.00 WIB, warga dari berbagai dukuh di Desa Gading tampak berdatangan menggunakan sepeda motor. Mereka membawa tas berisi kemasan minyak goreng berukuran satu liter yang dinilai tidak layak konsumsi tersebut.

Di lorong kantor desa, pihak pemerintah desa telah bersiap melayani keluhan warga. Kasi Kesra Desa Gading, Yuli Cahyono, terlihat sigap mencatat setiap warga yang mengembalikan migor bantuan pangan tersebut untuk ditukarkan dengan yang baru.

Stok minyak goreng pengganti ini disediakan langsung oleh petugas lapangan Bulog Kecamatan Tanon. "Setelah informasi ini beredar di media sosial, saya langsung berinisiatif menghubungi pihak Bulog Tanon untuk segera melakukan penukaran minyak goreng yang bermasalah," ujar Yuli Cahyono saat dikonfirmasi, Minggu 28 Juni 2026.

Yuli menambahkan, total penerima manfaat bantuan pangan di Desa Gading mencapai 633 orang. Hingga siang hari, tercatat sudah ada 83 warga yang mengembalikan dan menukarkan minyak goreng mereka.

Pihak perangkat desa pun menegaskan akan membuka posko pelayanan penukaran ini hingga sore hari guna memastikan seluruh hak warga terpenuhi dengan aman.

Diberitakan sebelumnya, sejumlah warga di Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen ramai-ramai mengembalikan bantuan sosial berupa minyak goreng subsidi merek Minyakita dari pemerintah. Pasalnya, minyak goreng tersebut mengeluarkan aroma tak sedap yang diduga kuat mirip dengan bau bahan bakar minyak jenis solar atau minyak tanah.

Keluhan tersebut salah satunya datang dari warga Dukuh Karang, Desa Gading, Kecamatan Tanon. Selain berbau menyengat, tekstur minyak goreng tersebut dilaporkan tampak lebih keruh dibanding minyak goreng pada umumnya, serta menimbulkan efek samping bagi kesehatan setelah dikonsumsi.

Seorang warga Dukuh Karang RT 03, Miyatun (40) menuturkan, dirinya menerima bantuan tersebut berupa 20 kilogram beras dan 4 liter minyak goreng yang diambil di Balai Desa Gading beberapa waktu lalu. Namun, ia terkejut saat menggunakan minyak tersebut untuk memasak.

"Minyak gorengnya bau kayak solar. Terus kalau dipakai buat goreng tahu rasanya tidak enak, apek, hasil gorengannya juga pahit. Di tenggorokan langsung terasa serak dan bikin batuk," ujar Miyatun kepada awak media, Sabtu 27 Juni 2026.

Kondisi serupa juga dialami oleh belasan warga lainnya di Desa Gading, seperti Painem, Sukinah, Suparmi, Karinah, Tutik Kasno, hingga Mbah Dirjo. Keluhan ini pun mulai ramai diperbincangkan di media sosial dan memicu kekhawatiran meluas di tengah masyarakat.

Tidak hanya di Desa Gading, warga di Desa Karangtalun, Kecamatan Tanon, juga melaporkan temuan yang sama. Hartono, warga Dukuh Grigit RT 18, Desa Karangtalun, mengaku prihatin atas kualitas bantuan yang dinilai dapat membahayakan kesehatan masyarakat miskin.

"Baunya mirip solar atau minyak tanah. Kalau buat goreng tempe sangat terasa dan tidak nyaman di tenggorokan. Tuntutan kami, pemerintah jangan mengabaikan kesehatan masyarakat. Mohon segera ditindaklanjuti dan diganti dengan minyak yang baru dan aman," ucap Hartono. MI

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....