Kepala Sekolah Tak Hadir Rapat Klarifikasi Ambruknya Atap MTs Muhammadiyah 4 Bulu

  • 13 Mei 2026 13:57 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, SRAGEN – Upaya Komisi IV DPRD Sragen untuk mencari solusi atas musibah ambruknya atap gedung MTs Muhammadiyah 4 Bulu, Desa Karanganyar, Kecamatan Sambungmacan, berujung kekecewaan. Rapat klarifikasi yang digelar di gedung DPRD Sragen pada Rabu 13 Mei 2026 berlangsung kurang maksimal lantaran ketidakhadiran pihak sekolah.

Ketua Komisi IV DPRD Sragen, Sugiyamto, menyayangkan sikap Kepala Sekolah MTs Muhammadiyah 4 Bulu yang memilih tidak hadir dengan alasan sedang fokus mendampingi pemulihan trauma para siswa yang menjadi korban.

"Kami ingin membantu mencari masukan, baik dari sekolah maupun Kemenag. Tapi yang disayangkan, Pak Kepala Sekolah izin karena fokus pemulihan kesehatan anak-anak. Pertanyaan saya, apakah beliau dokter? Fokus kesehatan itu bagian medis, kepala sekolah harusnya hadir di sini untuk koordinasi," ujar Sugiyamto saat ditemui usai rapat.

Akibat ketidakhadiran pihak sekolah, rapat tersebut hanya dihadiri oleh perwakilan seksi Madrasah Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Sragen. Dalam pertemuan tersebut, Sugiyamto menyoroti pola penanganan bantuan sarana pendidikan yang dinilai lambat dan reaktif.

Sugiyamto menyentil pemerintah pusat yang terkesan baru bergerak melakukan verifikasi sekolah rusak setelah terjadi musibah yang menghebohkan publik.

"Tadi dari Kemenag juga diminta melakukan verifikasi melalui Zoom untuk sekolah-sekolah tua. Itu kan gara-gara ambruk baru diverifikasi. Inilah yang menjadi keprihatinan kami. Jangan sampai menunggu viral dulu baru dieksekusi, atau menunggu ada korban baru ada tindak lanjut," ucapnya.

Warga dan petugas melakukan evakuasi puing-puing bangunan Atap kelas 7 Mts Muhammadiyah 4 Bulu Desa Karanganyar Kecamatan Sambungmacan, yang roboh pada Selasa 12 Mei pagi. (Foto: RRI/PSC 119)

Lebih lanjut, politisi PDI Perjuangan ini menyebut bahwa masalah keterbatasan anggaran untuk perbaikan sekolah seringkali hanyalah soal "selera" atau prioritas pemimpin. Ia membandingkan bagaimana program-program baru seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) bisa mendapatkan serapan anggaran besar, sementara infrastruktur pendidikan yang mendesak sering kali terabaikan..

"Harusnya anggaran itu cukup. Kalau alasan tidak cukup, itu soal selera pemerintah. Kami di Komisi IV sebenarnya ingin membantu mencari solusi, mungkin melalui dana aspirasi (Pokir) atau pengalihan anggaran lain untuk membantu madrasah tersebut," kata dia.

Komisi IV meminta Kemenag dan instansi terkait untuk melakukan verifikasi data yang faktual di lapangan. Ia berharap usulan perbaikan dari bawah bukan sekadar formalitas yang hanya dicairkan sebagian kecil dari kebutuhan aslinya.

"Data dari bawah harus riil hasil verifikasi lapangan. Jangan sampai usulannya besar, tapi cairnya hanya 10 persen. Hal-hal seperti itu harus diakhiri supaya ke depan tidak ada lagi sekolah ambruk karena kurangnya pengawasan dan pemeliharaan," kata Sugiyamto menandaskan.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Kantor Kemenag Sragen menyatakan akan segera melakukan tindak lanjut internal dan berkoordinasi kembali dengan pihak yayasan serta sekolah terkait langkah rehabilitasi gedung yang ambruk tersebut.

Diberitakan sebelumnya, Kepala Seksi (Kasi) Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Sragen, Witono, menegaskan bahwa pihaknya sebenarnya secara rutin melakukan pemantauan terhadap kondisi bangunan madrasah di Bumi Sukowati. Pendataan mengenai kategori kerusakan, baik ringan maupun berat, pun diklaim selalu diperbarui setiap awal tahun pelajaran.

"Kalau pemantauan sebetulnya kami rutin. Awal tahun pelajaran kami sudah meminta data gedung yang rusak, dan itu sudah ada dalam pendataan kami. Kami juga memiliki aplikasi SIMSARPRAS (Sistem Informasi Sarana dan Prasarana), di mana madrasah yang rusak silakan mengajukan bantuan lewat sana," ujar Witono saat memberikan keterangan, Selasa 12 Mei.

Witono mengungkapkan sebuah fakta ironis terkait MTs Muhammadiyah 4 Bulu. Sebenarnya, gedung tersebut sudah pernah disurvei oleh tim dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) melalui program Project Implementation Unit (PIU).

Secara teknis sarana dan prasarana, gedung tersebut dinyatakan layak mendapatkan bantuan perbaikan.

Namun, bantuan tersebut gagal terealisasi karena terganjal aturan teknis mengenai jumlah minimal peserta didik.

"Sudah disurvei dari tim, secara sarpras memenuhi syarat untuk mendapat bantuan. Namun, ada kriteria siswa minimal harus di atas 100 orang, sedangkan di sekolah tersebut siswanya hanya 51 orang. Akhirnya tidak jadi (mendapat bantuan) dan tidak menjadi prioritas," kata dia.

Pasca-kejadian ini, Kemenag Sragen berencana mengumpulkan seluruh kepala madrasah untuk melakukan pengecekan ulang terhadap kondisi fisik bangunan masing-masing. Langkah ini diambil guna mencegah kejadian serupa terulang di 81 MI, 33 MTs, dan 13 MA yang berada di bawah naungan Kemenag Sragen.

"Kami akan segera rapat dengan kepala-kepala madrasah untuk memastikan mereka mengecek kembali kondisi sarana dan prasarananya," ujarnya. MI

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....