Keceriaan di MTs Muhammadiyah 4 Sambungmacan Berubah Menjadi Tangis Mencekam

  • 12 Mei 2026 13:37 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, SRAGEN – Selasa 12 Mei pagi suasana Mts Muhammadiyah 4 di Dukuh Bulu, Desa Karanganyar, Kecamatan Sambungmacan, Sragen, tampak seperti hari-hari biasanya. Di salah satu ruang kelas sebanyak 14 siswa kelas 7 sedang tekun mengikuti mata pelajaran Bahasa Inggris.

Tidak ada tanda-tanda alam yang mencurigakan, tidak ada angin kencang, apalagi hujan badai. Namun, ketenangan itu seketika pecah.

Dalam hitungan detik, suara dentuman keras material bangunan meruntuhkan fokus para siswa dan sang guru, Eka Nurul Ismiyati (35). Atap bangunan kelas yang seharusnya menjadi pelindung, justru ambruk menimpa mereka yang sedang menimba ilmu di bawahnya.

Suasana belajar yang semula hangat dengan interaksi guru dan murid berubah menjadi pemandangan yang memilukan. Debu putih dari material plafon dan kayu yang patah memenuhi ruangan. Jerit tangis ketakutan pecah saat para siswa mencoba menyelamatkan diri di antara puing-puing yang berserakan.

Wakil Kepala MTs Muhammadiyah 4 Sambungmacan, Cipto Waluyo, mengungkapkan bahwa kejadian tersebut berlangsung sangat cepat. Saat itu, fokus siswa sepenuhnya tertuju pada materi yang disampaikan oleh Bu Guru Ika.

"Langsung roboh seketika. Tanpa ada persiapan, anak-anak tidak tahu karena fokus ke pembelajaran. Kejadiannya pas jam pertama," ujar Cipto dengan nada getir saat ditemui di lokasi kejadian.

Akibat musibah ini, dari 14 siswa yang berada di dalam ruangan, tujuh di antaranya mengalami luka-luka. Tak hanya siswa, sang guru pun turut menjadi korban dalam insiden berdarah tersebut.

Proses evakuasi dilakukan dengan cepat oleh pihak sekolah dan warga sekitar. Sebanyak enam siswa beserta sang guru segera dilarikan ke RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen untuk mendapatkan perawatan intensif, mayoritas mengalami luka di bagian pundak dan kepala.

Sementara itu, satu siswa lainnya harus dibawa ke RS Amal Sehat karena mengalami luka serius. Siswa bernama Bagus Budiarto mengalami fraktur terbuka di bagian kaki.

"Kondisi pastinya kami masih memantau, tapi ada satu anak yang di RS Amal Sehat dilaporkan mengalami patah kaki. Yang di RSUD rata-rata luka di bagian kepala dan bahu," ujar Cipto.

Pihak sekolah bergerak cepat untuk mengamankan siswa lainnya. Guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan memberikan ruang bagi tim terkait untuk melakukan investigasi, seluruh siswa kelas 7, 8, dan 9 dipulangkan lebih awal.

"Siswa yang selamat sudah kami minta pulang. Untuk sementara, pembelajaran akan dilakukan secara daring dari rumah sambil kami melihat situasi dan kondisi lebih lanjut," katanya menjelaskan.

Kini, bangunan kelas 7 itu hanya menyisakan kerangka yang menganga dan meja-kursi yang tertimbun debu serta kayu. Sebuah pengingat pahit bahwa bahaya terkadang datang tanpa permisi, mengubah ruang mimpi menjadi tempat yang menyisakan trauma mendalam bagi para siswa di pelosok Sambungmacan Sragen. MI

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....