Kisah Korban Laka Kereta, Akhir Penantian Enam Tahun Ristuti di Tanah Kelahiran

  • 30 Apr 2026 11:18 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, WONOGIRI – Deru mesin ambulans yang membelah keheningan Dusun Puncanganom, Desa Bero, Manyaran, pada Selasa 28 2026 sore, menjadi penanda sebuah janji yang akhirnya terpenuhi, meski dengan cara yang memilukan.

Ristuti Kustirahayu (37), perempuan yang bertahun-tahun mengadu nasib di tanah perantauan, akhirnya kembali ke rumah. Namun, kepulangannya kali ini tak disambut peluk hangat atau tawa kerinduan, melainkan isak tangis yang pecah di teras rumah kayu milik keluarganya.

Enam tahun bukanlah waktu yang singkat. Bagi Sugeng Priyanto, ayah korban, wajah putrinya selama ini hanya hadir melalui suara di balik telepon atau kenangan masa lalu.

Kesibukan Ristuti sebagai admin di sebuah toko material di Bekasi membuatnya jarang memiliki waktu untuk sekadar menengok kampung halaman di Wonogiri.

"Sudah lama sekali tidak pulang. Terakhir itu sekitar enam tahun lalu," kenang Sugeng dengan suara bergetar saat ditemui awak media, Rabu 29 April 2026.

Sebenarnya, ada secercah harapan bagi keluarga untuk berkumpul utuh pada Lebaran tahun ini. Ristuti sempat merencanakan mudik. Namun, rencana itu gugur karena duka yang lebih dulu menyambangi keluarga mertuanya.

Siapa sangka, kegagalan mudik tersebut justru menjadi pertanda bahwa ia memang tidak akan pernah kembali dalam keadaan bernapas.

Kabar Duka di Sepertiga Malam

Senin 27 April malam yang tenang di Bekasi berubah menjadi petaka ketika kereta Argo Bromo bersinggungan dengan KRL di Stasiun Bekasi. Di sanalah, nyawa Ristuti terenggut dalam kecelakaan tragis tersebut.

Kabar duka itu sampai ke telinga keluarga di Wonogiri pada Selasa dini hari, sekitar pukul 03.00 WIB. Wagimin (60), paman korban, adalah orang pertama yang menerima informasi menyesakkan tersebut.

Baginya, tak ada firasat buruk yang mendahului. Hanya ada komunikasi rutin pada Minggu 26 April yang kini menjadi kenangan terakhir.

"Terakhir telepon itu Minggu. Ya seperti biasa, tanya kabar. Tidak ada tanda-tanda apa pun," ujar Wagimin lirih.

Setibanya di rumah duka pukul 16.15 WIB, jenazah Ristuti segera dimandikan dan disalatkan. Keputusan keluarga sudah bulat, Ristuti harus beristirahat di tanah kelahirannya, tempat di mana masa kecilnya dihabiskan sebelum ia memutuskan untuk merantau sebelum menikah.

Ristuti pergi meninggalkan Yatno, suaminya, serta dua anak yang masih sangat kecil. Anak-anak yang mungkin belum sepenuhnya paham mengapa ibunya pulang dalam peti kayu yang tertutup rapat.

Di bawah langit Manyaran yang temaram, warga setempat bahu-membahu mengantarkan Ristuti ke pemakaman desa. Ia dikenal sebagai sosok pekerja keras yang gigih menghidupi keluarga di perantauan.

Kini, langkah lelah sang pejuang ekonomi itu telah berhenti. Penantian enam tahun sang ayah telah berakhir, meski dengan nisan sebagai pengganti kehadiran putrinya. Selamat jalan Ristuti. (Sof/MI)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....