Pidato di Muhibah Budaya, Sultan HB X: Sragen adalah Saudara Tua Yogyakarta
- 10 Jul 2026 10:25 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, SRAGEN – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sekaligus Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menghadiri gelaran Muhibah Budaya yang berlangsung khidmat di halaman Kantor Pemda Terpadu Sragen pada Kamis 9 Juli malam.
Dalam pidatonya, Sri Sultan HB X menegaskan ikatan sejarah yang sangat kuat antara Yogyakarta dan Bumi Sukowati. Ia secara terbuka mengakui bahwa Kabupaten Sragen merupakan "saudara tua" bagi Daerah Istimewa Yogyakarta.
"Jejak itu yang menjadikan Sragen layak disebut sebagai saudara tua Daerah Istimewa Yogyakarta. Sukowati bukanlah sekadar persinggahan, melainkan salah satu pilar yang menopang lahirnya Ngayogyakarta Hadiningrat," ujar Sultan di hadapan Bupati Sragen dan para hadirin.
Sultan menjelaskan bahwa esensi nilai Mataraman tidak pernah terbatas oleh sekat administratif pasca-Perjanjian Giyanti 1755. Hubungan historis kedua daerah ini ditarik jauh ke belakang, tepatnya pada 19 Mei 1746, saat Bendoro Pangeran Haryo Mangkubumi (yang kelak bertakhta sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono I) meninggalkan Surakarta menuju Pandak, Sragen.
Hanya berselang delapan hari kemudian, pada 27 Mei 1746 di Pendopo Pandak, Krikilan, Masaran, Pangeran Mangkubumi meletakkan titik nol kedaulatan dengan membentuk Pemerintahan Projo Sukowati. Momentum perjuangan panjang inilah yang kini diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Sragen.
"Daerah Istimewa Yogyakarta hari ini dikenal sebagai salah satu pusat gravitasi budaya Mataram dengan lebih dari 750 benda cagar budaya yang tersimpan di dalamnya. Namun, esensi nilai Mataraman tidak pernah berhenti pada batas administratif semata. Pasca Perjanjian Giyanti tahun 1755, wilayah jangkauan budaya ini memang terbagi, tetapi etika, estetika, dan filosofinya tetap hidup di berbagai daerah, termasuk di Bumi Sukowati," kata Sultan membeberkan.
Melalui agenda Muhibah Budaya yang mengusung tema "Merajut Budaya Mataraman dari Jogja untuk Indonesia", Sultan berharap tali silaturahmi dan sejarah yang sempat terpisah ruang dan waktu dapat dirajut kembali. Hubungan ini tidak hanya dirayakan secara seremonial, tetapi juga digali maknanya melalui sarasehan dan pergelaran budaya.
Sultan juga mengutip petikan dari Serat Sastrogending (Pupuh Sinom pada telu) yang berbunyi: “Marma sagung trah Mataram, kinen wiknyo tembung kawi”. Pesan filsafat Jawa tersebut, menurut Sultan, mengajak trah Mataram untuk arif memetik hikmah dan menjalankan laku utomo (perbuatan utama)—sebagaimana yang dahulu dicontohkan para leluhur di Bumi Sukowati.
Di akhir pidatonya, Sri Sultan HB X menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang tinggi kepada Pemerintah Kabupaten Sragen atas suksesnya penyelenggaraan acara ini. Ia berharap pemahaman akan jejak asal-usul ini mampu menggugah kesadaran generasi muda sebagai modal berharga untuk mengembangkan kebudayaan di kedua daerah ke depan.
"Semoga Tuhan Yang Maha Esa berkenan melimpahkan berkah rahmat-Nya, sehingga dengan memahami jejak dan asal-usul, kita bisa menggugah kesadaran generasi kemudian sebagai modal berharga bagi pengembangan budaya kedua daerah."

Diberitakan sebelumnya, Gubernur DIY yang juga Raja Kasultanan Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, melakukan rangkaian kunjungan bersejarah bertajuk "Muhibah Budaya" ke sejumlah situs petilasan leluhurnya, Kanjeng Pangeran Mangkubumi (Sri Sultan Hamengku Buwono I), di Kabupaten Sragen, Kamis 9 Juli 2026.
Langkah kaki orang nomor satu di Yogyakarta ke Bumi Sukowati didampingi Sekretaris Daerah (Sekda) DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti dan Bupati Sragen Sigit Pamungkas beserta jajaran.
Kedatangan Sri Sultan HB X beserta rombongan disambut dengan penuh khidmat. Warga Sragen terlihat sangat antusias menyambut HB X bahkan tak sedikit yang sampai mencium tangan Sri Sultan.
Rangkaian kegiatan yang seluruhnya didanai melalui Dana Keistimewaan (Danais) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ini diisi dengan agenda utama Napak Tilas Sultan. HB X menyisir kembali rute gerilya Pangeran Mangkubumi saat melawan kongkalikong Hindia Belanda di era 1746 M.
Sekretaris Daerah (Sekda) Sragen, Hargiyanto menyampaikan, rute napak tilas Sri Sultan HB X di Sragen ini memiliki nilai historis sangat tinggi bagi berdirinya Kasultanan Yogyakarta. Setidaknya ada empat lokasi yang dikunjungi Sri Sultan.
Empat lokasi tersebut meliputi Pandak, Krikilan. Ini menjadi titik pertama yang dikunjungi. Tempat ini merupakan pos pertama persinggahan Pangeran Mangkubumi setelah memutuskan jengkar (pergi) meninggalkan Keraton Surakarta karena perselisihan mendalam dengan pihak Belanda. "Beliau mendirikan markas pertahanan awal di wilayah ini," ucap Sekda Sragen Hargiyanto.
Kemudian Goa Mangkubumen di Gebang. Hargiyanto menyebut, ketika keberadaan pertahanan di Pandak mulai terendus oleh Belanda, Mangkubumi mengalihkan pasukannya ke wilayah Gebang. Di sana terdapat goa tersembunyi yang digunakan untuk mengatur strategi perlawanan.
Ketiga yakni Pesanggrahan Ponopatan di Katelan. Situs strategis ini berada di dekat aliran sungai besar, berfungsi khusus sebagai pos pengintaian pergerakan logistik dan armada militer kolonial.
Terakhir di Sumberan Jhapoh. "Lokasi ini titik krusial yang menjadi lokasi perundingan-perundingan penting para petinggi pengikut Mangkubumi sebelum mengerucut pada kesepakatan historis, Perjanjian Giyanti pada 1755," kata Hargiyanto. MI
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....