Masjid Agung Jatisobo, Jejak Sejarah Dakwah dan Pemugaran Era Keraton

  • 16 Apr 2026 18:45 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Sukoharjo - Masjid Agung Jatisobo di wilayah Polokarto, Sukoharjo, tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga menyimpan jejak panjang sejarah dakwah Islam sekaligus hubungan erat dengan Keraton Surakarta. Bangunan ini menjadi bukti perjalanan waktu yang melibatkan peran ulama hingga raja-raja Jawa.

Keberadaan masjid tersebut tak lepas dari sosok Kyai Iman Khotib, ulama yang diyakini menjadi pelopor syiar Islam di wilayah Jatisobo. Seiring berjalannya waktu, masjid ini juga mengalami berbagai perubahan, termasuk pemugaran besar pada masa kerajaan.

Keturunan ke-7 Kyai Iman Khotib, Danang Tri Mulyatno mengatakan, sosok leluhurnya dikenal sebagai ulama karismatik yang memiliki peran penting dalam penyebaran Islam di wilayah tersebut.

“Beliau adalah sosok pemuda yang karismatik dan saleh. Sejarahnya mungkin tertulis dengan nama yang berbeda-beda dalam manuskrip, namun jejak syiarnya di Jatisobo adalah satu kebenaran yang tak terbantahkan bagi kami, para keturunannya,” kata Danang Tri Mulyatno, ditemui RRI belum lama ini.

Selain sebagai pusat dakwah, Masjid Agung Jatisobo juga menjadi penanda kuat keterlibatan pihak keraton dalam pengembangannya. Salah satu fase penting terjadi pada masa pemerintahan Pakubuwono X yang melakukan pemugaran besar terhadap bangunan tersebut.

Menurut Danang, kondisi masjid pada awalnya sangat sederhana dan telah berusia sangat tua sebelum akhirnya diperkuat melalui renovasi besar. Pemugaran itu ditandai dengan adanya “kekancingan” atau pikukuh sebagai bukti keterlibatan keraton.

“Jadi sudah sangat rentannya, sudah sangat lama sekali. Dulu masih kecil dan sederhana sekali, tapi di era PB ke-10 bahkan di dalam masjid itu ada kekancingan. Kekancingan artinya pikukuh, bukti bahwa PB 10 memugar besar-besaran itu. Di sana ada semacam kaligrafi yang menandakan pemugaran itu,” ujarnya.

Ia menjelaskan, bukti pemugaran tersebut juga terlihat dari tulisan yang terdapat di bagian dalam masjid, termasuk di area pintu masuk. Tulisan tersebut mencantumkan angka tahun yang diperkirakan menjadi penanda awal renovasi.

“Di pintu masuk bagian dalam itu ada tulisan tahun 1836, kemungkinan itu tahun mulai pemugaran pertama. Selain itu, peninggalan lain seperti mimbar juga masih ada dan itu merupakan peninggalan dari PB ke-10,” katanya.

Hingga kini, Masjid Agung Jatisobo tetap berdiri kokoh dan menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat sekitar. Keberadaannya tidak hanya merepresentasikan nilai religius, tetapi juga menjadi saksi hubungan historis antara ulama dan keraton dalam membangun peradaban Islam di wilayah Solo Raya. (MI/Diqi)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....