Jejak Sejarah Bangunan Cagar Budaya Ndalem Kusumoyudan Solo

  • 20 Mar 2026 15:49 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO,ID, Surakarta - Masyarakat mengenal bangunan megah dikelilingi pagar tembok tinggi layaknya Keraton yang berada di Jalan Sugiyopranoto Kampung Baru Solo ini, merupakan sebuah Hotel berbintang 5 bernama “Kusuma Sahid Prince Hotel”. Nama ini merupakan perpaduan pemilik sekarang pengusaha jaringan hotel almarhum Sukamdani Sahid Gitosarjono, dan pemilik sebelumnya Kanjeng Pangeran Haryo Kusumoyudo III.

KPH Kusumoyudo III merupakan salah satu putera dari Raja Keraton Surakarta Hadiningrat, Sinuwun Paku Buwono X, yang lahir pada tahun 1907 dengan nama Pangetan Abimanyu. Dia adalah putra ke-5 dari garwa ampeyan atau selir yang bernama Kanjeng Bendoro Raden Ayu Retno Purnomo.

Kerabat keraton Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Dipokusumo menceritakan, Pangeran Kusumoyudho oleh ayahandanya kemudian diberi sebuah rumah tinggal yang cukup besar dan luas yang kemudian terkenal sebagai Ndalem Kusumoyudan. Hadiah tersebut dibeli dari Pura Mangkunegaran, diberikan PB X sebelum putra kesayangannya tersebut lahir.

“Ndalem Kusumoyudan tahun 1909 dibangun oleh Kanjeng Pangeran Hadiwijoyo saat pangeran Kusumoyudo masih kecil, luasnya sekitar 2 hektar sesuai dengan penggunaan untuk keperluan Pangeran beserta keluarganya yang besar; dengan arsitektur lebih condong ke Mangkunegaran dan gaya kolonial Belanda lebih kuat.,” kata Gusti Dipo kepada rri.co.id

Menurutnya, jabatan Pangeran Kusumoyudho sebagai Pengageng Parentah Keraton pada masa ayahandanya bertahta dan masa Pakubuwono XI. KGPH Kusumoyudho berputra 18 orang, wafat pada tahun 1956.

Pada tahun 1961 oleh ahli waris, dijual kepada PT. IFCO sebuah perusahaan dagang yang bergerak di bidang perdagangan assembling sepeda dan mesin jahit. Ndalem Kusumoyudan pernah pula dipakai sebagai kampus Universitas Cokroaminoto, sebuah Universitas Swasta di Solo antara tahun 1964-1970.

Sampai akhirnya tahun 1970, dibeli Sukamdani selaku Direktur PT. Sahid & Co, dibangun menjadi hotel diresmikan pada tahun 1977. Menurut Tia Kristiyanti Manager Marketing dan Communication KSPH, tempat penginapan ini sisi bangunan maupun ornamen hotel kental dengan unsur Budaya Jawa.

Bahkan bangunan tengah masih dipertahankan sisi keasliannya mulai Pendopo dengan 10 pilar putih, Pringgitan, Ndalem Ageng dan Krobongan atau Petanen, sampai kamar sang Raja saat menginap di Ndalem Kusumoyudan sekarang bernama Kamar Indraloka Royal Suite,” kata Tia.

Selain bangunan utama ada pula ruangan yang disebut gandhok, di kiri kanan Ndalem Ageng. Biasanya untuk ruang keluarga atau ruang makan. Gandhok sebelah timur sekarang menjadi restaurant hotel dengan nama Gambir Sekethi Restaurant dan sebelah barat dipakai untuk kantor executive.

Sementara kamar-kamar para istri, putra dan para abdi dalem ada di sebelah kiri dan kanan bangunan utama, termasuk juga gudang, dapur dan tempat kereta titihan. Berhubung lokasi tersebut akan dipergunakan untuk kamar-kamar tamu hotel, maka harus dirombak total mengingat ukuran dan bangunannya tidak sesuai dan, namun design tetap menyatu dengan bangunan utama.

Perubahan bangunan dan fungsi dari Ndalem Kusumoyudan menjadi Hotel Sahid Kusuma ini menjadi sebuah bentuk melestarikan cagar budaya yang semestinya. Ndalem Kusumoyudan Solo tetap terawat dengan baik meski sudah tidak lagi menjadi bangunan bangsawan Keraton, melainkan berubah fungsi menjadi Hotel. ( Wiwid Wida )

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....