Napak Tilas, Sultan HB X Susuri Jejak Perjuangan Pangeran Mangkubumi di Sragen
- 09 Jul 2026 16:58 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, SRAGEN — Gubernur DIY yang juga Raja Kasultanan Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, melakukan rangkaian kunjungan bersejarah bertajuk "Muhibah Budaya" ke sejumlah situs petilasan leluhurnya, Kanjeng Pangeran Mangkubumi (Sri Sultan Hamengku Buwono I), di Kabupaten Sragen, Kamis 9 Juli 2026.
Langkah kaki orang nomor satu di Yogyakarta ke Bumi Sukowati didampingi Sekretaris Daerah (Sekda) DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti dan Bupati Sragen Sigit Pamungkas beserta jajaran.
Kedatangan Sri Sultan HB X beserta rombongan disambut dengan penuh khidmat. Warga Sragen terlihat sangat antusias menyambut HB X bahkan tak sedikit yang sampai mencium tangan Sri Sultan.
Rangkaian kegiatan yang seluruhnya didanai melalui Dana Keistimewaan (Danais) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ini diisi dengan agenda utama Napak Tilas Sultan. HB X menyisir kembali rute gerilya Pangeran Mangkubumi saat melawan kongkalikong Hindia Belanda di sekitar 1746 M.
Sekretaris Daerah (Sekda) Sragen, Hargiyanto menyampaikan, rute napak tilas Sri Sultan HB X di Sragen ini memiliki nilai historis sangat tinggi bagi berdirinya Kasultanan Yogyakarta. Setidaknya ada empat lokasi yang dikunjungi Sri Sultan.
Empat lokasi tersebut meliputi Pandak, Krikilan. Ini menjadi titik pertama yang dikunjungi. Tempat ini merupakan pos pertama persinggahan Pangeran Mangkubumi setelah memutuskan jengkar (pergi) meninggalkan Keraton Surakarta karena perselisihan mendalam dengan pihak Belanda. "Beliau mendirikan markas pertahanan awal di wilayah ini," ucap Sekda Sragen Hargiyanto.
Kemudian Goa Mangkubumen di Gebang. Hargiyanto menyebut, ketika keberadaan pertahanan di Pandak mulai terendus oleh Belanda, Mangkubumi mengalihkan pasukannya ke wilayah Gebang. Di sana terdapat goa tersembunyi yang digunakan untuk mengatur strategi perlawanan.
Ketiga yakni Pesanggrahan Ponopatan di Katelan. Situs strategis ini berada di dekat aliran sungai besar, berfungsi khusus sebagai pos pengintaian pergerakan logistik dan armada militer kolonial.
Terakhir di Sumberan Jhapoh. "Lokasi ini titik krusial yang menjadi lokasi perundingan-perundingan penting para petinggi pengikut Mangkubumi sebelum mengerucut pada kesepakatan historis, Perjanjian Giyanti pada 1755," kata Hargiyanto.
Hargiyanto mengungkapkan bahwa dalam kunjungan tersebut, Sri Sultan tampak sangat menikmati suasana historis dan tidak terburu-buru. Bahkan, ada momen menarik saat berada di Situs Sumberan, Jhapoh.
"Kanjeng Sultan tadi berkenan menikmati kunjungan, bahkan sempat membasuh tangan di mata air Sumberan. Saya melihat ini potensial viral. Kanjeng Sultan cuci muka atau cuci tangan di situ saja, pasti besok pagi akan banyak masyarakat yang penasaran dan datang ke situ," ujar Hargiyanto antusias.

Adapun rangkaian Muhibah Budaya Yogyakarta 2026 dalam upaya mempererat hubungan antara Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan Kabupaten Sragen. Salah satu rangkaian pembukanya diwujudkan dalam Seminar Sejarah bertema Urgensi Hubungan DIY–Sragen dalam Koneksi Historis dan Budaya Mataraman yang digelar di Ruang Seminar Sentra Industri Kreatif dan Kerajinan (SIKK) Sragen, Kamis 2 Juli.
Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, menjelaskan Muhibah Budaya merupakan agenda strategis yang secara rutin mempertemukan Yogyakarta dengan daerah-daerah yang memiliki keterkaitan sejarah maupun budaya Mataraman.
Menurutnya, Sragen memiliki posisi istimewa karena memiliki jejak sejarah yang kuat dengan DIY sehingga layak menjadi mitra dalam pengembangan kerja sama yang lebih luas.
“Sragen merupakan saudara tua bagi DIY karena memiliki keterkaitan sejarah dengan tokoh yang sama, yakni Pangeran Mangkubumi. Seminar ini kami harapkan menjadi ruang menghimpun gagasan dari masyarakat sebagai dasar menyusun rekomendasi bentuk kerja sama kebudayaan yang paling sesuai dengan kebutuhan kedua daerah,” ujar Dian.
Ia menambahkan, kedekatan historis tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi kolaborasi di berbagai bidang. Selain kebudayaan, peluang sinergi dinilai terbuka pada sektor pendidikan, pariwisata, koperasi, hingga pengembangan UMKM sehingga kedua wilayah dapat saling memperkuat promosi dan pembangunan daerah.
“Koneksi historis dan budaya Mataraman menjadi awal untuk membuka kolaborasi yang lebih luas. Harapannya, baik DIY maupun Sragen dapat sama-sama memperoleh manfaat, terutama dalam pengembangan pariwisata dan sektor lainnya melalui sinergi yang berkelanjutan,” katanya. MI
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....