Buku Aminah Syukur, Jejak Keteladanan Pejuang Pendidikan Perempuan Kaltim

  • 15 Apr 2025 20:45 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda: Tak sepopuler RA Kartini yang dikenal sebagai pejuang kesetaraan perempuan Indonesia, namun nama Aminah Syukur begitu melekat bagi warga Samarinda Kalimantan Timur (Kaltim), setidaknya ketika melintas di salah salah satu ruas jalannya.

Sayang rasanya ketika tak mengenal lebih dekat pendiri Mesyie School atau sekolah keputrian di Samarinda pada tahun 1928 ini. Wanita keturunan belanda, bernama asli Atje Voorstad merintis pendidikan perempuan di Samarinda pada era kolonial karena melihat kaum perempuan di Kaltim yang terbelakang.

Adalah Muhammad Sarip, sosok yang dikenal sebagai sejarawan publik ini, menorehkan jejak sejarah perjuangan Aminah Syukur dalam bukunya “Aminah Syukur Kiprah Perempuan di Kalimantan Timur Tempo Doeloe”.

Pria yang telah menulis banyak karya terkait sejarah Samarinda, Kutai dan Kalimantan timur ini beranggapan, historiografi atau penulisan sejarah lokal di Kaltim masih didominasi oleh kiprah kaum laki-laki, hingga pustaka tentang perempuan di Kaltim masih menjadi barang langka.

“Penulisan sejarah lokal Kalimantan Timur yang banyak kita temui masih didominasi oleh kiprah kaum pria, sehingga pustaka berupa buku maupun paper jurnal tentang peran perempuan menjadi barang langka. Maka itu, penulisan sejarah bertema kiprah perempuan di Kaltim perlu dilakukan,“ terang alumni Universitas Mulawarman ini.

Buku ini meng-highlight figur Aminah Syukur sebagai role model utama perempuan teladan yang berkiprah di Samarinda sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda. Keteladanannya dalam bidang pendidikan, melebihi tanggung jawabnya secara normal menurut skala orang pada umumnya.

“Tidak hanya penulisan riwayat Aminah Syukur yang penuh keteladanan, buku ini juga disertai dengan deskripsi sejarah kiprah kaum perempuan tempo dulu dalam multibidang di Kaltim, “ucap koordinator Historia Kaltim ini.

Muhammad Sarip penulis buku "Aminah Syukur Kiprah Perempuan di Kalimantan Timur Tempo Doeloe" (foto : M. Sarip)

Dalam refleksi Hari Kartini 2025, secara khusus buku ini akan diulas dan didiskusikan dalam sebuah kegiatan yang bertajuk Refleksi Hari Kartini, Akar Pendidikan, Napas Budaya “Dialog dan Bedah Buku tentang Aminah Sjoekoer".

Kegiatan ini diprakarsai Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB) Kaltim yang berkolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan RI, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kaltim akan dilangsungkan pada Kamis (17/4/2025) di aula DPK Kaltim.

Secara khusus M. Sarip berharap, forum bedah buku ini akan memberikan pehamanan bahwa konteks Hari Kartini berhubungan dan relevan dengan kebijakan Pengarusutamaan Gender (PUG) yang telah diregulasikan oleh pemerintah dari tingkat pusat hingga ke tingkat provinsi dan kota/kabupaten.

“Kaltim sudah punya Perda No. 2 Tahun 2016 dan Perda No., 5 Tahun 2024 tentang PUG. Samarinda punya Perda No. 2 Tahun 2020 tentang PUG. Namun, angka kasus kekerasan terhadap perempuan di ibu kota Kaltim, menurut data resmi Dinas P2PA Kota Samarinda, terus mengalami kenaikan dalam 4 tahun terakhir. Dengan demikian perlu kita ingat bersama, Hari Kartini bukan sekadar lomba fesyen atau tata rias, namun lebih kepada momen edukasi dan implementasi pengarusutamaan gender di bumi Ruhuy Rahayu ini, "tandas M. Sarip.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....