Mutiara Pagi: Tingkatan Manusia dalam Sholat

  • 10 Sep 2026 07:52 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Sholat tidak hanya menjadi kewajiban bagi umat Islam, tetapi juga dapat menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam Mutiara Pagi RRI, Kamis, 10 September 2026, ustadzah Muthmainnah, Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sumenep menjelaskan bahwa setiap orang dapat memiliki pengalaman dan penghayatan yang berbeda dalam menjalankan ibadah salat.

Menurutnya, setidaknya terdapat beberapa tingkatan dalam cara manusia memandang dan menjalankan sholat. Tingkatan tersebut terlihat dari bagaimana seseorang menempatkan sholat, apakah masih dianggap sebagai beban, sekadar kewajiban, kebutuhan, hingga menjadi aktivitas yang dicintai.

Pada tingkatan pertama, sholat dapat dirasakan sebagai beban yang berat. Seseorang merasa enggan atau malas ketika harus melaksanakan sholat. Dalam Al-Qur'an, kondisi orang munafik ketika melaksanakan sholat digambarkan dengan rasa malas dan hanya sedikit mengingat Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surah An-Nisa ayat 142.

Meski demikian, ustadzah Muthmainnah mengingatkan agar umat Islam tidak mudah memberikan label munafik kepada orang lain. Penilaian terhadap keikhlasan dan kondisi hati seseorang merupakan perkara yang tidak dapat diketahui hanya dari penampilan luarnya.

“Tingkatan berikutnya adalah sholat sebagai kewajiban. Pada tahap ini, seseorang tetap berusaha menjalankan salat lima waktu karena menyadari bahwa salat merupakan kewajiban seorang Muslim. Namun, pelaksanaannya terkadang masih sebatas menggugurkan kewajiban, sehingga belum sepenuhnya menghadirkan kekhusyukan dan ketenangan dalam hati,” ujarnya.

Selanjutnya, sholat mulai dipandang sebagai kebutuhan. Seseorang tidak lagi melaksanakan sholat hanya karena kewajiban, tetapi mulai merasakan bahwa ibadah tersebut memberikan ketenangan bagi jiwa. Ketika menghadapi persoalan atau kegelisahan, salat menjadi salah satu cara untuk mendekatkan diri dan memohon pertolongan kepada Allah SWT, katanya.

“Pada tingkatan yang lebih tinggi, seseorang dapat merasakan sholat sebagai sesuatu yang dicintai. Sholat bukan lagi aktivitas yang ingin segera diselesaikan, melainkan waktu yang dinantikan untuk berkomunikasi dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bahkan, kecintaan terhadap salat dapat mendorong seseorang memperbanyak ibadah sunah di luar salat wajib,” katanya.

Ustadzah Mutmainnah berharap umat Islam terus meningkatkan kualitas sholat secara bertahap. Dari yang awalnya terasa sebagai kewajiban, kemudian menjadi kebutuhan, hingga akhirnya sholat menjadi ibadah yang dicintai dan menjadi sarana utama untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....