Kekeringan di Montorna Capai Kondisi Darurat, Warga Butuh Tandon

  • 18 Agt 2026 12:18 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Kekeringan di Desa Montorna, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, semakin mengkhawatirkan. Warga setempat kini menghadapi kondisi darurat air bersih setelah kekeringan berlangsung hampir 21 hari.

Kepala Dusun Desa Montorna, Moh. Sholeh Purwanto, mengatakan sekitar 5.500 warga terdampak kondisi tersebut dan sangat bergantung pada bantuan distribusi air bersih.

“Di Montorna memang terjadi darurat air bersih. Sudah hampir 21 hari kami mengalami kekeringan luar biasa. Kondisinya sudah kering kritis, bahkan darurat,” ujar Sholeh dalam Dialog Interaktiv Sumenep Menyapa, Selasa 18 Agustus 2026.

Menurutnya, persoalan kekeringan di Montorna terjadi hampir setiap tahun, terutama ketika memasuki bulan Agustus. Sejumlah sumber air yang sebelumnya digunakan masyarakat kini mengering. Bahkan, upaya pengeboran yang telah dilakukan belum membuahkan hasil karena tidak ditemukan sumber air yang dapat diandalkan di wilayah tersebut.

“Di seluruh Montorna tidak ada sumber air. Sudah dicek beberapa kali, tetapi tidak ada,” katanya.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga mengandalkan dropping air bersih dari pemerintah maupun membeli air secara mandiri. Warga biasanya melakukan patungan untuk membeli satu tangki air berkapasitas sekitar 6.000 liter dengan harga sekitar Rp350 ribu.

Namun, pasokan tersebut hanya mampu memenuhi kebutuhan warga selama beberapa hari karena air digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari minum, memasak, mandi, berwudu hingga kebutuhan ternak.

Sholeh menjelaskan, persoalan lain muncul ketika air bantuan ditampung di sumur yang berada di kawasan persawahan. Air menjadi keruh sehingga masyarakat harus menunggu sekitar tiga hari sebelum dapat menimba dan menggunakannya. Kondisi tersebut mendorong pemerintah desa mengusulkan pembangunan tandon air di setiap dusun agar distribusi air bersih lebih efektif.

“Harapan kami pemerintah memberikan bantuan tandon. Kalau air ditaruh di sumur, ketika ditimba menjadi keruh. Dengan tandon, penyalurannya lebih praktis,” ujarnya.

Sholeh mengatakan pihak desa telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan BPBD serta menyampaikan permintaan bantuan melalui layanan darurat 112. Namun, pihaknya masih menunggu kepastian jadwal distribusi air berikutnya.

Ia berharap pemerintah segera meningkatkan bantuan air bersih sekaligus menyediakan tandon untuk membantu masyarakat menghadapi kekeringan yang terjadi setiap musim kemarau.

“Kebutuhan yang paling mendesak adalah air bersih dan tandon. Kami sangat membutuhkan keduanya,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....