Peserta Eco Learning School 2026 Belajar Olah Sampah di Bank Sampah Tunggak Jati

  • 17 Agt 2026 06:24 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Peserta program Eco Learning School 2026 mempelajari pengolahan sampah organik dan anorganik melalui praktik pembuatan eco enzyme dan eco brick di Bank Sampah Tunggak Jati, Desa Pamolokan, Kabupaten Sumenep, Sabtu, 15 Agustus 2026.

Kegiatan yang diinisiasi Komunitas Arasa Sociopreneur Action bekerja sama dengan Yayasan Yappika ActionAid tersebut menjadi bagian dari rangkaian pembelajaran lapangan bagi perwakilan siswa dan guru dari lima sekolah di Kabupaten Sumenep.

Sebelumnya, program Eco Learning School 2026 dibuka melalui lokakarya perdana di kawasan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sumenep pada Sabtu, 8 Agustus 2026. Kegiatan kemudian dilanjutkan di Bank Sampah Mawar untuk memperkuat pemahaman peserta mengenai pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Setiap kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya tiga stanza. Pembiasaan tersebut menjadi bagian dari upaya menanamkan semangat nasionalisme sekaligus kepedulian terhadap lingkungan kepada para peserta.

Di Bank Sampah Tunggak Jati, Direktur Bank Sampah Tunggak Jati, Daniek Andaningsih, memberikan materi sekaligus mendampingi praktik pembuatan eco enzyme dari limbah organik dapur dan eco brick dari sampah plastik.

Para peserta dari SMAN 3 Sumenep, SMK Al Karimiyyah, SMAN Gapura, SMKN 1 Sumenep, SMKN 1 Sumenep, dan MAN Sumenep membawa bahan dari rumah masing-masing, mulai dari kulit buah, sisa sayuran, molase, hingga botol plastik dan kantong plastik bersih.

Daniek menjelaskan, eco enzyme dapat dimanfaatkan sebagai cairan pembersih alami, pupuk organik cair, pemurni udara, hingga membantu membersihkan saluran air. Sementara eco brick menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi volume sampah plastik yang sulit terurai.

"Harapan kami, keterampilan yang didapatkan hari ini tidak hanya berhenti di Bank Sampah Tunggak Jati atau sekadar menjadi tugas pelatihan semata. Kami sangat berharap para siswa dan guru dapat menularkan ilmu ini, membentuk unit pengolahan eco enzyme dan eco brick di sekolah masing-masing," ujar Daniek.

Menurutnya, keterampilan tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi budaya hidup bersih dan peduli lingkungan di lingkungan sekolah.

Founder Arasa Sociopreneur Action, Machallafri Iskandar, mengapresiasi antusiasme peserta dan keterbukaan Bank Sampah Tunggak Jati dalam berbagi pengetahuan. Ia menilai keterlibatan siswa dan guru menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran pengelolaan sampah sejak dari rumah.

"Aksi membawa bahan organik dan plastik dari rumah masing-masing hari ini menyimbolkan bahwa pemilahan sampah harus dimulai dari unit terkecil, yaitu keluarga," kata Machallafri.

Ia berharap keterampilan yang diperoleh peserta dapat diterapkan di sekolah dan mendorong terbentuknya lingkungan sekolah yang lebih ramah lingkungan.

Program Eco Learning School 2026 berlangsung selama tiga bulan, mulai Juli hingga September 2026. Setelah rangkaian pelatihan praktis pada Agustus, kegiatan akan dilanjutkan dengan monitoring dan evaluasi pada September.

Di akhir program, lima sekolah peserta juga akan mendapatkan hibah sarana dan peralatan bank sampah untuk mendukung pemilahan dan pengelolaan sampah secara mandiri serta berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....