Hari Keenam Eco Learning School 2026, Siswa Tanam 100 Mangrove di Pesisir Saronggi
- 25 Agt 2026 01:02 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep — Rangkaian program Eco Learning School 2026 yang digagas Komunitas Arasa Sociopreneur Action bersama Yayasan Yappika ActionAid memasuki hari keenam, Minggu 23 Agustus 2026. Kegiatan dipusatkan di kawasan pesisir Desa Tanjung, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, dengan melibatkan siswa dan guru pendamping dari lima sekolah sasaran.
Dalam kegiatan tersebut, peserta terjun langsung melakukan penanaman 100 bibit mangrove di kawasan pesisir. Aksi ini menjadi bagian dari pembelajaran berbasis pengalaman atau experiential learning, sehingga peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai lingkungan melalui teori, tetapi juga terlibat langsung dalam upaya menjaga ekosistem pesisir.
Penanaman mangrove sekaligus menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya vegetasi pesisir dalam mengurangi risiko abrasi dan erosi. Peserta juga diajak memahami hubungan antara keberadaan mangrove dengan keberlangsungan ekosistem laut serta kehidupan masyarakat di wilayah pesisir.
Edukasi konservasi mangrove menghadirkan Fathillah atau yang akrab disapa Fadel Abu Aufa dari Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Reng Paseser sebagai narasumber. Ia memberikan pemahaman mengenai jenis-jenis mangrove, teknik penanaman yang tepat, hingga fungsi ekologis mangrove bagi lingkungan.
Fadel menjelaskan, mangrove memiliki peran penting sebagai pelindung daratan dari abrasi dan pasang air laut. Selain itu, ekosistem mangrove menjadi habitat bagi berbagai biota laut sekaligus berperan dalam menyerap emisi karbon.
"Penanaman 100 bibit mangrove yang dilakukan peserta merupakan bentuk keterlibatan generasi muda dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kepedulian siswa terhadap lingkungan dan mendorong mereka untuk menerapkan perilaku ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari," katanya.
Program Eco Learning School 2026 berlangsung selama tiga bulan, mulai Juli hingga September 2026. Program tersebut memadukan pembelajaran teori, praktik lapangan, serta intervensi fasilitas lingkungan dengan melibatkan lima sekolah, yakni SMAN 3 Sumenep, SMK Al Karimiyyah, SMAN Gapura, SMKN 1 Sumenep, dan MAN Sumenep.
Berbagai materi diberikan dalam program ini, mulai dari krisis iklim, pengelolaan bank sampah, budidaya maggot BSF, pembuatan eco enzyme dan eco brick, pertanian hidroponik, hingga konservasi ekosistem mangrove.
Setelah rangkaian pelatihan praktis selesai pada Agustus, kegiatan akan dilanjutkan dengan monitoring dan evaluasi pada September. Di akhir program, masing-masing sekolah peserta juga akan mendapatkan hibah sarana dan peralatan bank sampah dari Arasa Sociopreneur Action dan Yappika ActionAid untuk mendukung pengelolaan sampah secara mandiri dan berkelanjutan.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Eco Learning School 2026 diharapkan tidak hanya melahirkan generasi muda yang memiliki pengetahuan tentang lingkungan, tetapi juga mendorong terwujudnya sekolah ramah lingkungan atau green school di Kabupaten Sumenep.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....