Harga Garam Mulai Tertekan, Petani Cemas Menanti Panen

  • 13 Agt 2026 10:18 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Terik matahari menjadi berkah bagi para petambak garam di Sumenep. Di tengah musim kemarau, hamparan tambak mulai dipenuhi kristal-kristal garam yang dipanen secara rutin setiap pekan. Kondisi cuaca yang panas dan minim hujan dinilai mendukung produksi garam hingga musim panen diperkirakan berlangsung sampai Desember.

Kepala Desa Karanganyar, Kecamatan Kalianget, Sumenep, Suharto Hadi, mengatakan mayoritas warganya berprofesi sebagai petambak garam setiap musim kemarau. Warga mulai memanen garam sejak Juli dan produksi diperkirakan terus berlangsung hingga Desember.

“Cuaca yang panas dan minim hujan cukup mendukung produksi,” katanya, Rabu 12 Agustus, 2026.

Bagi petambak, kondisi tersebut menjadi peluang untuk meningkatkan produksi. Saat memasuki puncak panen, satu hektare lahan garam bahkan dapat menghasilkan sekitar 150 hingga 200 ton. Namun, melimpahnya produksi justru berpotensi menjadi persoalan baru apabila tidak diikuti harga jual yang menguntungkan.

Salah seorang petambak garam, Muhamad, mengatakan harga garam yang sebelumnya berada di kisaran Rp1,6 juta per ton kini mulai turun menjadi sekitar Rp1,1 juta per ton. Penurunan tersebut membuat petambak mulai cemas, terlebih produksi diperkirakan terus meningkat seiring masuknya puncak musim kemarau.

“Ada kabar harganya akan kembali merosot. Sehingga petani menjadi hawatir karena akan mengurangi pendapatan,” tuturnya cemas.

Untuk menyiasati kondisi tersebut, sebagian petambak memilih menyimpan hasil panen di gudang dan tidak langsung menjualnya. Garam akan dikeluarkan secara bertahap ketika petambak membutuhkan pemasukan atau saat harga kembali membaik. Langkah tersebut dipilih untuk menghindari kerugian akibat menjual garam ketika harga sedang rendah.

“Kalaupun ada yang menjual sekarang, itu karena terdesak kebutuhan finansial,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....