Kementan Melatih Penyuluh Sumenep Tentang Modernisasi dan Pupuk Hayati

  • 25 Mei 2026 14:23 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan Malang menggelar bimbingan teknis (Bimtek) atau pelatihan bagi penyuluh pendamping swasembada pangan berkelanjutan di Kabupaten Sumenep. Kegiatan tersebut dilaksanakan dengan metode blended learning yang memadukan pembelajaran daring dan luring.

Pelatihan diawali dengan pemberian materi secara daring selama satu hari, kemudian dilanjutkan dua hari pembelajaran tatap muka yang dipusatkan di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Ambunten.

Katimker Penyuluh Pertanian BPPSDMP Kementerian Pertanian RI Wilayah Kerja Kabupaten Sumenep, Dewo Ringgih mengatakan, pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas penyuluh agar mampu menyebarluaskan inovasi pertanian yang mendukung program swasembada pangan berkelanjutan.

“Pelatihan ini dilaksanakan dengan sistem blended learning, satu hari materi secara online dan dua hari pelaksanaan offline yang dipusatkan di BPP Kecamatan Ambunten,” ujar Dewo Ringgih, Senin 25 Mei 2026.

Materi pelatihan menghadirkan narasumber Widyaiswara BBPP Ketindan Malang, Dokter Saptini Mukti Rahajeng. Peserta memperoleh materi mengenai pemanfaatan limbah atau sampah organik di sekitar lingkungan menjadi pupuk hayati, sekaligus pengenalan berbagai teknologi pertanian modern.

Dewo menjelaskan, peserta juga dikenalkan dengan penggunaan berbagai alat mekanisasi pertanian, mulai dari mesin crawler atau traktor tipe baru, rice transplanter, hingga metode penyemprotan menggunakan drone.

“Ada 25 penyuluh yang menjadi peserta dan mereka merupakan hasil seleksi yang dilakukan BBPP Ketindan Malang,” ujarnya menambahkan.

Menurutnya, pelatihan tersebut diharapkan mampu memberikan dampak nyata terhadap pola pertanian di lapangan, terutama dalam mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia.

“Output yang diharapkan dari kegiatan ini adalah inovasi yang diperoleh penyuluh dapat disebarluaskan kepada petani, termasuk pemanfaatan pupuk hayati sehingga ketergantungan terhadap pupuk kimia bisa mulai dikurangi,” ujarnya mengungkapkan..

Selain itu, modernisasi pertanian juga dinilai menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari, mengingat jumlah sumber daya manusia dan tenaga kerja sektor pertanian terus berkurang.

“Dengan semakin berkurangnya tenaga kerja pertanian, modernisasi menjadi hal yang harus dilakukan. Mekanisasi alat pertanian diharapkan dapat menggantikan pekerjaan yang selama ini masih mengandalkan tenaga buruh tani,” kata Dewo.

Pelatihan ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas penyuluh sebagai ujung tombak pendampingan petani sekaligus mempercepat adopsi teknologi pertanian di Kabupaten Sumenep.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....