BMKG Sumenep: Cuaca Panas Dipicu Minim Awan, Masyarakat Diminta Waspada Dehidrasi

  • 21 Apr 2026 09:00 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep – Cuaca panas yang dirasakan masyarakat Sumenep dan wilayah Madura belakangan ini dipastikan merupakan fenomena alam yang umum terjadi pada awal musim kemarau. Minimnya tutupan awan menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya suhu udara, bahkan hingga malam hari.

Kepala BMKG Trunojoyo Sumenep, Ari Widjajanto, menjelaskan kondisi tersebut terjadi karena uap air di atmosfer tidak sempat membentuk awan akibat pengaruh angin di lapisan atas yang cukup kencang.

“Karena tidak ada tutupan awan, kita terpapar langsung sinar matahari. Uap air tidak sempat berkondensasi, sehingga awan tidak terbentuk. Dampaknya, panas terasa hingga malam hari,” ujarnya saat dialog di program Halo RRI, Selasa 21 April 2026.

Menurut Ari, kondisi ini merupakan bagian dari fase awal musim kemarau. Saat ini, sebagian wilayah Madura mulai memasuki musim kemarau dan diperkirakan seluruh wilayah akan sepenuhnya masuk musim tersebut pada Mei mendatang.

Ia menambahkan, karakteristik wilayah Madura yang relatif datar tanpa banyak penghalang seperti pegunungan juga membuat proses pembentukan awan lebih minim dibandingkan daerah lain di Pulau Jawa.

Meski demikian, potensi hujan lokal masih dapat terjadi dalam waktu dekat di beberapa wilayah. Namun, secara umum intensitas hujan diprediksi semakin berkurang seiring berlangsungnya musim kemarau.

BMKG juga mengingatkan adanya perbedaan suhu yang cukup signifikan antara pagi dan siang hari, serta kondisi udara yang cenderung kering. Hal ini berpotensi memicu gangguan kesehatan seperti dehidrasi hingga kulit kering.

“Masyarakat harus menjaga asupan cairan tubuh, karena kadang tidak terasa panas, tapi tiba-tiba tubuh sudah kekurangan cairan,” katanya.

Lebih lanjut, Ari mengungkapkan bahwa musim kemarau tahun 2026 diprediksi akan lebih panjang dan kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini berkaitan dengan potensi fenomena iklim global seperti El Nino, meski saat ini masih berada pada kondisi netral.

“Tidak perlu panik, tetapi tetap waspada. Kemarau diperkirakan lebih panjang, sehingga curah hujan bisa lebih sedikit dibandingkan rata-rata,” ucapnya.

Selain itu, masyarakat juga diminta mewaspadai potensi kebakaran lahan akibat kondisi kering. BMKG mencatat sempat terdeteksi titik api di wilayah Madura dalam beberapa waktu terakhir.

BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memperbarui informasi cuaca dari sumber resmi serta menjaga kesehatan dan lingkungan selama periode musim kemarau berlangsung.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....