Pengalaman Berpuasa Ramadan dan Berlebaran di Rantau

  • 18 Mar 2026 15:10 WIB
  •  Sumenep

RRI,CO.ID, Sumenep - Menjalani ibadah puasa dan merayakan Idul Fitri di tanah rantau menjadi pengalaman tersendiri bagi sebagian umat Islam. Jauh dari keluarga, perantau dituntut untuk tetap menjaga kualitas ibadah sekaligus mengelola kerinduan terhadap kampung halaman.

Taufiq Ridwan, Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) Jakarta Utara, menyampaikan bahwa berpuasa di perantauan tetap memiliki nilai ibadah yang sama. Ia menegaskan bahwa Islam tidak membedakan keutamaan ibadah berdasarkan lokasi, melainkan pada keikhlasan dan kesungguhan dalam menjalankannya.

Menurutnya Taufiq, yang juga perantau asal Guluk Guluk Sumenep, tantangan terbesar yang dihadapi perantau adalah menjaga konsistensi ibadah di tengah kesibukan kerja. Selain itu, suasana Ramadan yang berbeda tanpa keluarga seringkali memunculkan rasa rindu yang mendalam.

“Saat takbir berkumandang di Hari Raya Idul Fitri, kadang nangis sendiri karena tidak bisa berkumpul dengan keluarga di hari Lebaran,” katanya menceritakan pengalamannya saat Lebaran di rantau, pada Program Kisah Unik Ramadan (KURMA) Pro1 RRI, Rabu, 18 Maret 2026.

Ia menjelaskan, dalam kondisi tersebut biasanya mengganti suasana kebersamaan keluarga bersama para perantau yang juga tidak mudik Lebaran. Menepis rasa rindu dengan video call lewat WhatsUp kepada keluarga di kampung halaman, dilakukan sebagai pengobat rindu.

Bagi perantau yang tidak dapat pulang, pelaksanaan sholat Idul Fitri tetap dilakukan di tempat tinggal masing-masing. Berbagi makanan dengan sesama perantau sambil bercerita dan saling meluapkan pengalaman menjadi cara terbaik mengisi hari-hari di Ramadan dan Idul Fitri.

Taufiq berharap para perantau tetap dapat merasakan makna Ramadan dan Idul Fitri secara utuh. Ia mengajak para perantaiu untuk menjadikan momen tersebut sebagai sarana meningkatkan keimanan serta mempererat hubungan sosial di mana pun berada.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....