Menjaga Lidah Madura

  • 01 Mei 2025 23:18 WIB
  •  Sumenep

KBRN, Sumenep: Indonesia bukan hanya kaya akan budaya, tetapi juga bahasa. Terdapat lebih dari 700 bahasa daerah. Salah satunya adalah bahasa Madura.

Menurut Sensus Penduduk tahun 2020 oleh Badan Pusat Statistik, penutur bahasa Madura di Indonesia mencapai lebih dari 7 juta orang.

Meski jumlah penutur bahasa Madura cukup banyak, hal itu tidak menjamin kelestariannya.

Bahasa Madura memiliki tiga tingkatan tutur atau ondegghe basa, bawah, tengah, dan atas. Namun, kini yang lebih sering digunakan adalah tingkatan tutur paling bawah.

"Tingkatan bahasa kan seperti pakaian manusia, ada topi, ada kerudung, ada sandal, sepatu, itu penggunaannya harus pas.Untuk diri sendiri yang tengah, ngakan, medde, ade'er (tingkatan bahasa Madura untuk kata makan). Jadi, kaule gi’ ade’ere, panjenengan ampon lastare ade’er (saya mau makan, Anda sudah selesai makan)," kata pelestari/pengajar Bahasa Madura Abdir Arifin, Kamis (1/5/2025).

"Yang tengah untuk diri sendiri kalau lengkap, kadang-kadang tidak lengkap, seperti mandi, aseram (Mandi). Ini jangan dipakai, kaule gi’ aserama (saya mau mandi), itu larangan, larangan menghormat diri sendiri. Kan janggal, jangan dipakai. Pakai ke bawah (tingkatan bawah tutur bahasa Madura) kaule gi’ mandiye (saya mau mandi)," imbuhnya.

Kakek berusia 83 tahun yang tinggal di Desa Kebunan, Kecamatan Kota, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur ini menerangkan, mengajarkan bahasa Madura berarti melestarikan warisan budaya. Sehingga keberadaan bahasa Madura benar-benar dijaga.

"Kalau di kota lumayan ya, orang tua sama putranya pakai bahasa Indonesia, di desa pun tidak ketinggalan. Makanya saya sampai detik ini melihat bahasa Madura di rumah tidak difungsikan oleh orang tua ke putra-putranya. Di rumah tangga diharapkan akrab pakai bahasa Madura, orang tua ke putra, emba (kakek-nenek) ke cucu juga dipelajari bahasa halus," pesan Kakek Abdir.

Di usia yang mungkin sudah saatnya beristirahat, semangat Kakek Abdir tidak berubah. Bahkan sejak tahun 2010, ia membuka kursus bahasa Madura di rumahnya.

"Di sekolah saya tahu itu bahasa Madura mengenaskah ya. Maksudanya di sekolah kadang-kadang, saya tahu, walaupun saya sudah pensiun, kadang-kadang di sekolah tidak ada pelajaran bahasa Madura, padahal jatah ada, jadwal ada. Dari 2010 sampai sekarang, termasuk ini yang mau keluar, semua ada 100 orang, yang mau keluar 7 orang. Berarti sudah ada 93 orang yang keluar. Itu selama 15 tahun, katakanlah berdakwah bahasa Madura, 15 tahun dapat 100 orang. Rata-rata guru, ya jenjangnya dari SD sampai SMA, SMK, gurunya dari sini semua, termasuk MI, MA," ia bercerita.

Baginya, mengajarkan bahasa Madura berarti melestarikan warisan leluhur. Sebab dalam bahasa Madura terdapat tata krama.

Salah seorang murid Kakek Abdir ialah Muhlis Adi Putra. Guru SMP Binar ini secara rutin satu kali dalam seminggu datang ke rumah Kakek Abdir untuk mendalami tata bahasa Madura.

"Saya lihat pribadi beliau itu bisa diteladani, wawasannya luas mungkin saya nanti bisa belajar sambil mengambil pembelajaran dari beliau, dari Pak Haji Abdul. Menurut saya pribadi di bahasa sastra, karena kalau di bahasa sastra ini kita harus banyak tahu tentang kosakata kemudian harus banyak tahu tentang kiasan-kiasan, bahasa itu digunakan atau dalam kegiatan apa," ungkap Muhlis.

Sejak tahun 2023 lalu, bahasa Madura menjadi salah satu bahasa daerah yang masuk program revitalisasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Salah satu sosok yang terlibat adalah Avan Fathurrahman, Maestro Revitalisasi Bahasa Daerah Madura dari Balai Bahasa Jawa Timur.

"Banyak hal yang melatarbelakangi Kenapa kemudian semakin lama generasi ke generasi itu semakin sedikit atau mengalami krisis penutur jatinya. Yang pertama, karena derasnya arus budaya budaya luar yang masuk ke Indonesia," jelas Avan.

"Kemudian yang kedua, semakin lama itu sebenarnya di keluarga itu punya ke andil. Di desa-desa tidak hanya di kota sekarang di desa-desa anak kecil itu dalam tanda kutip mengenal bahasa ibu itu langsung bahasa Indonesia, karena setiap hari sehari-harinya diajak berbicara atau berinteraksi dengan bahasa Indonesia. Berikutnya ternyata akses terhadap bahan bacaan berbahasa Madura itu yang minim dan itu juga berpengaruh," terangnya.

"Kemudian yang sering terjadi yaitu kawin lintas suku atau lintas penutur. Jadi orang Madura kalau nikah dengan orang Jawa misalnya, apalagi terus diboyong ke Jawa ini sudah jelas-jelas hampir 100% tidak ada menggunakan bahasa Madura lagi. Tapi mereka menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Jawa," sebut dia.

Tidak mudah menjaga warisan budaya di tengah gempuran zaman. Keberadaan bahasa daerah yang memiliki tingkatan tutur seperti bahasa Madura sangat mungkin tergerus jika terus dibiarkan tanpa tindakan nyata.

"Itu di Jawa Timur ada program revitalisasi bahasa daerah, dua, bahasa daerah Madura dan bahasa daerah Jawa dialek Using. Tujuannya sama bagaimana sebenarnya agar bahasa Madura ini tetap terpelihara, lestari, karena memang kemungkinan nanti bisa saja menuju ke punah. Jadi sebelum punah itu dilakukanlah revitalisasi, pintu masuknya itu melalui sekolah-sekolah. Madura ini masuk rentan, karena dari hasil penelitiannya semakin lama penutur jatinya berkurang. Kalau misalnya ini sampai 1 abad misalnya kemungkinan akan hilang, jika tidak ada upaya-upaya. Makanya sebelum ini benar-benar hilang ada upaya-upaya, salah satunya dari Kementerian Pendidikan. Di daerah mestinya itu juga menyambut tentang program-program seperti ini," lanjut Avan.

Terkikisnya penutur bahasa Madura juga menjadi perhatian pemerintah daerah, diantaranya Pemerintah Kabupaten Sumenep.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Sumenep, Muhamad Iksan mengatakan, untuk melestarikan semua tingkatan tutur dalam bahasa Madura, salah satu kebijakan yang diterapkan adalah penggunaan bahasa Madura dalam seluruh prosesi peringatan Hari Jadi Sumenep.

"Pelestarian budaya penggunaan bahasa Madura di sini ini kita pada proses untuk pelestarian ketika digunakan untuk seni dan budaya. Jadi makanya ketika ada kegiatan seperti Mamaca atau Macapat dan lain-lainnya yang bersifat budaya itu Engki Punten nya tinggi, termasuk upacara hari jadi, jadi kita menggunakan aba-aba dari bahasa Madura, sambutan-sambutan oleh Bapak Bupati juga pakai bahasa Madura termasuk juga aba-aba itu menggunakan bahasa Madura, tentunya dengan Engki Punten," sebut Iksan.

Sementara itu, Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep melakukan pelestarian bahasa Madura melalui penguatan kurikulum bahasa daerah hingga penyelenggaraan lomba berbahasa Madura, seperti yang disampaikan oleh Sri Agustina, Kepala Seksi Kurikulum dan Penilaian Sekolah Menengah Pertama.

"Banyak guru-guru yang tidak linier bahasa daerah, karena memang tidak atau bukan S1 bahasa daerah, sehingga melalui forum itu teman-teman bisa menambah wawasan dan pengetahuan terkait dengan hal itu. Kita juga menggandeng forum-forum komunitas bahasa daerah misalnya Damar Kambang, Abdhi Dhalem, yang mereka semua adalah bagian yang mendukung pelestarian bahasa bagaimana penutur bahasa daerah bisa mengimbaskan ke generasi-generasi muda dalam bentuk bermacam program, baik itu penguatan di tata bahasanya, kemudian tingkatan bahasa yang itu tidak mudah bagi anak-anak kita, kita akan mencoba bagaimana anak-anak mencintai hal itu. Dengan kebijakan kemarin sudah kita tetapkan sebenarnya, kita sudah menginstruksikan kepada satuan pendidikan di sekolah untuk melaksanakan satu hari berbahasa daerah," ujar Sri Agustina.

Perubahan besar memang tidak dapat terjadi secara cepat. Semua butuh proses. Namun, perjuangan Kakek Abdir maupun pihak-pihak yang peduli terhadap keberlangsungan bahasa daerah menjadi simbol perjuangan menjaga lidah Madura.

Kakek Abdir tahu usianya tidak lagi muda. Namun, selama mulutnya masih bisa berbicara dan masih ada yang mau mendengarkan, ia tidak akan berhenti. Menurutnya, perjalanan ini belum selesai.

Bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, tetapi jejak sejarah, warisan leluhur, dan identitas diri. Menjaga bahasa daerah bukan hanya tugas para ahli, melainkan tugas kita semua.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....